KASUS ijazah SMA Gibran ini, benar-benar menyita perhatian banyak pihak. Seorang kerabat saya di Malang, bahkan, nyempat-nyempatin menelpon saya langsung, menanyakan pendapat saya, apakah wapres dia benar-benar pernah sekolah di Singapura? Tentu saja saya menjawab “tidak tahu”.
Lha wong benar-benar tidak tahu, dan tak tahu bagaimana mencari tahu. Tapi, sebagai orang Indonesia yang menetap di Singapura hampir 15 tahun, dan punya dua anak berkebangsaan Singapura yang masing-masing sudah dan sedang sekolah di SMP umum negeri Singapura, saya justru menemukan beberapa kejanggalan di riwayat sekolah Gibran di Orchid Park Secondary School.
Selain kerabat yang menelepon langsung, beberapa kawan juga bertanya, sesulit apakah menyekolahkan anak mereka di Singapura? Ini juga, sebetulnya, saya tidak berpengalaman untuk menjawab. Lha wong dua anak saya WN Singapura. Tentu prosedur masuk SMP umum negeri seperti Orchid Park berbeda dengan calon siswa asing seperti Mas Gibran. Tapi baiklah! Pengalaman menyekolahkan dua anak dari TK, SD, SMP, dan politeknik (anak sulung); plus mengubek-ubek keterangan di situs Kementrian Pendidikan Singapura (MOE), bisa saya bagikan untuk memberi gambaran besar bagaimana susah atau sulitnya menyekolahkan anak di Singapura.
.
Ada beberapa hal yang perlu Anda maklumi jika ingin menyekolahkan anak Anda di Singapura. Khususnya jika Anda ingin memasukkan ke SD dan SMP umum negeri Singapura. Karena sekolah umum tingkat dasar dan menengah dirancang untuk warga Singapura sendiri, maka siswa asing bukan menjadi prioritas. Siswa asing adalah prioritas paling buncit.
Siswa asing, selain dibebani biaya selangit, juga harus mengakrabi kurikulum pendidikan Singapura sebelum bisa diterima. MOE mencatat, tidak lebih dari 5 persen siswa asing belajar di sekolah umum Singapura. Padahal, badan statistik sini mencatat, orang asing yang tinggal di Singapura, nyaris sebesar 40 persen.
Secara umum, ada beberapa hal yang kudu Anda siapkan, jika ingin menyekolahkan anak Anda di SD dan SMP (juga SMA) di Singapura. Ini beberapa catatan yang bisa saya susun untuk Anda:
.
PERTAMA, siapkan anak Anda untuk mengikuti ujian Admissions Exercise for International Students (AEIS) yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan Singapura. Ujian ini WAJIB diambil oleh siswa asing yang pindah ke sekolah negeri Singapura, di jenjang SD kelas 2 hingga 5, atau SMP antara kelas 1 hingga 3. Namun sebelum ikut tes AEIS, calon siswa asing kudu lulus tes kualifikasi penguasaan bahasa Inggris standard Cambridge (CEQ) yang diselenggarakan oleh Cambridge Assessment English (CAE). Lulus CEQ, calon siswa dihadapkan pada tes utama, ya tes AEIS itu tadi. Tes ini menguji kemampuan bahasa Inggris dan matematika si calon.
Sebagai gambaran kemampuan berbahasa Inggris standar siswa sekolah dasar di Singapura, dua anak saya sudah mampu mengarang cerita (cerpen) dengan baik hingga sepanjang tiga/empat kertas folio saat SD kelas 6. Saya sempat membaca karangan dua anak saya, dan cukup terkejut, mengingat tata bahasa dan logika menulis yang mereka pakai, membuat saya – yang pernah belajar sastra di Universitas Negeri Malang – kagum.
Tapi, kekaguman itu, bukan karena dua anak saya pintar! Begitulah standar umum kemampuan berbahasa Inggris pelajar sekolah dasar di Singapura. Standar ini wajar, mengingat bahasa Inggris adalah bahasa yang gunakan sehari-hari, dan anak-anak mulai dari sekolah dasar, sudah dibiasakan membaca novel atau buku cerita. Sastra juga diajarkan sebagai pelajaran utama tingkat dasar dan menengah.
BTW, semua pengajuan tes di Kementrian Pendidikan Singapura, bisa dilakukan secara on-line. Tes AEIS biasanya dibuka pada bulan Juli. Jika lulus, calon pelajar asing bisa masuk sekolah di bulan Januari tahun berikutnya.
Di dekade awal 2000an, tes AEIS ini bernama Principals Academy Certification Test (PACT). Tes yang juga berisi standarisasi penguasaan bahasa Inggris dan matematika calon siswa asing, namun dilakukan oleh pihak sekolah, bukan terpusat. Tes ini biasanya dilakukan pada bulan Agustus atau bulan-bulan sebelum tahun pelajaran dimulai di awal tahun.
Singapura memang MEMULAI TAHUN PELAJARAN di bulan Januari, sedang Indonesia pada bulan Juli. Jadwal ini yang menurut saya menarik, jika dihubungkan dengan riwayat pendidikan Gibran. Coba cermati data Komisi Pemilihan Umum (KPU), yang menyebut Gibran sekolah di SMP Negeri 1 Surakarta antara tahun 1999 hingga 2002. Anggap saja Gibran lulus SMP di Solo pada bulan Juni 2002, di tahun yang sama pergi ke SIngapura untuk ikut tes PACT pada bulan berikutnya, dan lulus. Jika demikian prosesnya, seharusnya Gibran akan memulai belajar di Orchid Park Secondary School pada Januari 2003. Tapi KPU menulis, Gibran sekolah di Orchid Park antara 2002 hingga 2004. Untuk persyaratan sekelas menjadi calon wapres, ini adalah kesalahan/kejanggalan yang sulit diterima akal sehat. Lha wong beda huruf di KTP dan paspor saja, urusannya bisa sepanjang tol Surabaya-Malang.
.
.
KEDUA, siapkan dana yang cukup (gedhe maksud saya). SD atau SMP negeri Singapura, itu didesain untuk pelajar lokal. Tentu saja, prioritas pertama calon siswa yang diterima adalah mereka yang warga negara Singapura. Begitu seluruh calon siswa lokal bisa masuk sebuah sekolah umum, sisa quota berikutnya akan diberikan kepada calon siswa yang statusnya permanent residence (PR). Terakhir, jika masih ada sisa, baru calon siswa asing boleh diterima. Kementrian Pendidikan Singapura mencatat, jumlah siswa asing di sekolah negeri tak sampai 5 persen.
Kalau anak Anda beruntung bisa masuk SMP umum, besarnya biaya yang kemudian harus Anda pikir. Zachary, anak saya yang WN Singapura dan kini duduk di SMP umum negeri kelas dua, tiap tahun hanya membayar sekitar $300 dolar, angka yang bisa dianggap “tidak ada” jika dibandingkan penghasilan kebanyakan orang Singapura. Sementara siswa asing kudu bayar $15.240 dolar (sekitar Rp217 juta) per tahun.
Apakah perbedaan biaya yang begitu tinggi tidak membuat pihak sekolah, para guru “kongkalikong”, memperbanyak siswa asing masuk? Inilah hebatnya pendidikan Singapura. Semua telah tersistem dengan baik. Administrasi tertib dan transparan. Jika ada “kongkalikong”, lalu di kemudian hari ada orangtua siswa lokal komplain, anaknya ndak bisa masuk meski memenuhi syarat, “selesailah” pihak sekolah. Komplain masyarakat lokal Singapura, itu jauh lebih berbahaya ketimbang berita viral di media Indonesia.
Guru-guru juga mendapat gaji selangit, setara dengan jaksa, hakim, atau para jenderal. Sekolah sepenuhnya dibiayai pemerintah. Jadi, tidak ada alasan bagi sekolah untuk “main belakang”, meloloskan siswa asing hanya demi biaya sekolah besar yang mereka bayarkan.
Oh ya, istri saya juga guru sekolah negeri di Singapura.
Besaran biaya dan sulitnya masuk sekolah umum Singapura inilah yang pada akhirnya membuat banyak orangtua siswa asing lebih memilih menyekolahkan anak mereka ke sekolah internasional. Di sekolah internasional, Anda tak perlu pintar-pintar amat. Tapi, kudu menyiapkan segudang duit untuk SPP-nya. Hehe.
Di Singapura, ada begitu banyak sekolah internasional, bahkan Indonesia punya sekolah bernama Sekolah Indonesia Singapura. Warga asing yang tinggal di Singapura, biasanya menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah internasional tempat mereka berasal. Pelacar Prancis biasa sekolah di Sekolah Prancis. Pelajar Amerika, pelajar China, India, pun demikian; masing-masing punya sekolah internasional masing-masing.
Di kasus Gibran, lebih masuk akal jika dia masuk ke Sekolah Indonesia Singapura ketimbang masuk SMP negeri Orchid Park yang kemungkinan lolosnya cuma kurang dari 5 persen. Ini adalah kejanggalan berikutnya, kenapa ada calon siswa asing yang ujung-ujung datang dari Solo, justru memilih belajar di SMP negeri umum Orchid Park ketimbang sekolah internasional.
.
.
KETIGA, siapkan pengasuh atau Anda sendiri yang menemani anak Anda. Setelah anak Anda lulus ujian AEIS sebagai tes awal masuk SD atau SMP umum negeri Singapura, berikutnya Anda kudu mengurusi izin studi/student’s pass, juga menunjuk pengasuh anak Anda selama belajar di Singapura. Pengasuh, Kementerian Pendidikan Singapura mewajibkan, haruslah warga Singapura berusia minimal 21 tahun. Atau orangtuanya sendiri yang menemani si anak tinggal di Singapura selama belajar. Ini harus, mengingat pelajar masih setingkat SD atau SMP, masih di bawah umur. Sialnya, tinggal di Singapura, terutama bagi orang asing, biaya hidup tidak murah. Sewa satu rumah rata-rata seharga Rp40 juta sebulan. Belum lagi kebutuhan harian dan biaya sekolah. Minimal Anda harus menyiapkan duit sekitar Rp60 juta tiap bulannya.
.
KEEMPAT, agar tidak janggal seperti riwayat pendidikan Mas Gibran, rencanakan baik-baik jenjang pendidikan anak Anda di sini. Biar bisa menghemat biaya, dan tentu saja waktu. Di kasus Gibran misalnya, seandainya dia sudah lulus SMPN 1 Solo saat pergi ke Singapura, dia seharusnya tidak perlu masuk SMP Orchid Park. Ngapain sekolah di SMP lagi, kalau sudah punya ijazah SMP di Indonesia?
Kementrian Pendidikan Singapura menyebut, siswa asing yang sudah mengantongi ijazah SMP dari negara asal, bisa langsung mendaftarkan diri ke junior collage (SMA) atau politeknik (diploma) di Singapura. Tentu saja dengan catatan harus memenuhi semua syarat yang diperlukan. Jika misalnya syarat itu berupa kepemilikan sertifikat O-Level, Gibran seharusnya bisa mengajukan diri ikut tes O-Level, tanpa perlu mengulang sekolah di SMP Orchid Park. Hal serupa yang dilakukan oleh siswa-siswi home-schooling di Singapura.
Khusus untuk SMA atau politeknik, syarat-syarat untuk masuk ke sana tidak seperti syarat di SD atau SMP. Pihak sekolah punya kriteria khusus yang bisa menjadi pertimbangan mereka untuk menerima siswa asing. Selain syarat punya sertifikat O-Level (ini standar sekali), SMA atau politeknik Singapura biasanya mencari siswa-siswa yang punya bakat spesial. Misalnya bakat sebagai atlit, atau ber-IQ tinggi, atau pernah memenangkan olimpiade matematika. Jika anak Anda tidak berbakat apa pun, setidaknya anak Anda harus sepintar anak-anak Singapura, dan menyediakan banyak duit agar anak Anda bisa belajar di SMA di sini. Sesederhana itu sebetulnya.
Kesimpulannya, seperti judul di atas, bagaimana cara bisa sekolah di SMP negeri Singapura seperti Orchid Park Singapura? Tentu saja anak Anda harus bagus banget bahasa Inggris dan matematika-nya, lulus tes masuk, menyediakan setidaknya Rp937 juta tiap tahunnya (penjumlahan biaya sekolah per tahun dan biaya bulanan Rp60 juta per bulan jika Anda ikut tinggal di sini dan menyewa satu rumah), atau setidaknya punya talenta istimewa seperti Ronald Susilo, pebulutangkis Singapura yang kelahiran Kediri itu.
Semoga bermanfaat.
(*)
Catatan: semua data yang saya susun, bersumber dari pengalaman pribadi, serta situs Kementrian Pendidikan SIngapura (MOE), dan Anda bisa langsung mengaksesnya di sini: https://www.moe.gov.sg/. Perhitungan biaya yang saya tulis, mengacu pada biaya saat ini.
Keterangan foto: anak bungsu saya, Zak, di depan sekolah TK negerinya di Singapura. Si bocah kini kelas 2 SMP.












