Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Tentang Aku

Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah

: Sekali cabut, empat gigi lenyap.

Sultan Yohana by Sultan Yohana
April 30, 2023
in Tentang Aku
0
Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah
0
SHARES
22
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Suatu hari, enam tahun silam, gigi saya nyeri-nyeri. Sementara saya tinggal di Singapura, saya tidak bisa langsung ke dokter gigi karena dokter gigi saya jauh di Batam. Begitu kesempatan nyebrang ada, begitu di depan dokter gigi saya langsung ngomong; “dok, tolong dicabut lima gigi saya sekaligus!”

Saya ngotot. Dokter juga ngotot menolak. Tapi ketika itu saya bersikeras, saya merasa yang paling tahu tubuh saya ketimbang si dokter. Ini gigi-gigi, satu-satunya cara untuk tidak nyeri-nyeri lagi, ya harus dicabut. Saya tak mempertimbangkan hal-hal lainnya. Saya hanya ingin tidak lagi nyeri-nyeri gigi. Titik! 

Memang, belakangan itu, saya sering nyeri sakit gigi. Usut punya usut, karena saya ketika itu keseringan berolahraga. Otot yang terlalu stress, kemudian membuat otot-otot lelah, tegang, dan berefek pada gigi. Kadang juga merembet menjadi sakit kepala. Setelah benar melakukan olahraga, plus pijit rutin sebagaimana saran seorang kawan yang berprofesi sebagai personal training instructor, nyeri-nyeri itu berkurang banyak, dan gigi saya tidak lagi pernah nyeri-nyeri.

Kembali ke dokter gigi. Setelah debat panjang, plus melakukan X-ray, dll, dokter menyerah. Menuruti permintaan saya. Tapi ia mau mencabut empat gigi sekaligus. Gigi-gigi yang sebetulnya masih sangat sehat. Tapi ya itu tadi, KESOKTAHUAN serta kengototan saya, itu yang membuat saya pada akhirnya menyesali keputusan “brutal” itu. Gigi saya jadi ompong. Kegiatan mengunyah terganggu. Ujung-ujungnya, ada rasa malu dan tidak percaya diri ketika ngobrol membuka mulut.

Setelah itu, saya memutuskan membuat gigi palsu. Habis Rp2.5 juta. Tapi tidak nyaman, dan itu gigi tak pernah saya pakai lagi. Mau pasang gigi permanen, mahalnya naudzubillah. Ndak mampu keuangan saya.

Setiap kali gosok gigi, saya terus saja menyesali keputusan “brutal” itu. Membodoh-bodohi diri sendiri. Tapi, pada akhirnya, saya kepikiran, ngapain berlarut-larut menyesal, tokh semuanya sudah terjadi. Kenapa ndak milih mencari “hikmah” lain dari keputusan bodoh itu?! Mencari hal-hal lebih positif?!

Dan ya, saya akhirnya bisa menemukannya:

Dengan gigi ompong, saya KINI selalu berusaha membatasi diri untuk tidak banyak bicara. Ya itu tadi, karena rasa malu dan tak percaya diri punya gigi-gigi ompong. Setiap kali ngomong dengan orang lain, saya berusaha ngomong secukupnya. Membuka mulut sekecil-kecilnya. Tentu saja, untuk menutupi keompongan saya.

KOndisi yang memang tidak nyaman sekali.

Tapi, lama-kelamaan, rasa malu itu berubah menjadi rasa syukur. Ketika saya tidak banyak ngomong, saya tidak banyak KESELEO lidah. Tidak banyak ngelantur. Tidak banyak berbohong. Tidak banyak ngoceh-ngoceh ngawur. Pada akhirnya, saya harus bersyukur, gigi ompong “menghindarkan” saya dari bahayanya lidah.

(silat) Lidah itu betul-betul berbahaya. Apalagi di jaman Youtube ini. Di jaman setiap orang punya HP yang bisa merekam kesalahan-kesalahan lidah kita saat berbicara. Ustad-ustad, kyai-kyai, penceramah-penceramah; atau siapa pun mereka yang profesinya mengandalkan “silat lidah”, seringkali terpeleset oleh  kesalahan lidah mereka sendiri. Anda pembalap mobil, resiko terbesar tentu kecelakaan dengan mobil. Begitu juga Anda yang mencari uang dengan “jualan” lidah. Lidahlah potensi terbesar yang bisa mendatangkan resiko dan bahaya.

Kerapkali, mereka gagal mengendalikan lidah mereka. Apalagi ketika di hadapan banyak orang yang khusuk mendengar omongannya. Di hadapan umatnya, di hadapan jamaahnya; lidah-lidah itu seakan terus saja meronta untuk sehebat mungkin bisa membuat pengagumnya kian kagum. Sekalipun kata-kata kotor atau kebohongan yang keluar dari itu mulut, mereka tidak peduli. Di MOMEN itu, biasanya, di kepala para penceramah, yang penting orang yang mendengar omongannya, tergakum-kagum.

Mereka, BIASANYA selalu merasa malu dianggap bodoh! Hingga, terus saja mereka bersilat lidah untuk menyembunyikan keterbatasan pengatahuan mereka. Hingga…, pada satu titik, ketika bahan pembicaraan habis, terpelesetlah lidah mereka. 

Mereka yang gagal menjaga lidah, jelas salah. Tapi, bagi saya, kita yang kerap memberhalakan mereka-mereka, memuji-muji mereka setinggi langit, sama salahnya. Karena “penyembahan” kita lah, mereka jadi manusia-manusia kurang ajar! Di Kitab Suci kita, banyak sekali mengingatkan bahayanya bersilat lidah, sekaligus tidak memberhalakan manusia.

Gigi ompong, ternyata bermanfaat juga! Hehe.

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Sepeda Pancal
Tentang Aku

Sepeda Pancal

July 1, 2026
Merencanakan Pensiun
Tentang Aku

Merencanakan Pensiun

November 1, 2023
Dari Gudig hingga Rebutan Cewek
Tentang Aku

Dari Gudig hingga Rebutan Cewek

October 10, 2017
Next Post
Ruang Merokok di Orchard Road

Ruang Merokok di Orchard Road

Padat Merayap: Jam Sibuk di Jalan Tol Singapura

Padat Merayap: Jam Sibuk di Jalan Tol Singapura

Kisah Perang dalam Sepiring Nasi

Kisah Perang dalam Sepiring Nasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean

Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean

2 years ago

Mudik Lewat Singapura Saja

15 years ago
Bibi Moly & Kucing Bernama Ginger: Serta bagaimana menghadapi orangtua

Bibi Moly & Kucing Bernama Ginger: Serta bagaimana menghadapi orangtua

2 years ago

Kemarin dia Berkata, Saya Sahabat Terbaiknya

21 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

ASN Batam Cara mengajar Catatan Citizen Dollar Efisiensi Fasilitas Foto Gibran Guru Humaniora Indonesia Jatim Koran Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Manajemen Netizen Olahraga Pajak Pedagang Pembaca lansia Pendidikan Pengemis Perpustakaan PNS Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Pembaca Lansia

Jalan Kaki itu Membahagiakan

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Sepeda Pancal

Trending

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya
Humaniora

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

by Sultan Yohana
September 27, 2026
0

TETANGGA samping rumah kami di Ang Mo Kio, Singapura, adalah seorang janda paruh baya, dengan dua anak...

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

September 19, 2026
Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

September 7, 2026
Pembaca Lansia

Pembaca Lansia

September 3, 2026
Jalan Kaki itu Membahagiakan

Jalan Kaki itu Membahagiakan

August 23, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana