TETANGGA samping rumah kami di Ang Mo Kio, Singapura, adalah seorang janda paruh baya, dengan dua anak lelakinya sudah cukup besar ketika kami baru pindah, 2012 silam. Anak pertamanya baru lulus kuliah hukum, dan baru memulai bekerja di sebuah firma hukum yang cukup beken di Singapura.
ANAK kedua, baru masuk universitas. Si ibu, yang mengaku dulunya bekerja sebagai penjahit di pasar, saat itu tidak lagi bekerja. Saya menduga, anak pertamanya yang mengurusi masalah keuangan keluarga mereka.
Mereka hidup sederhana. Rumahnya sederhana, kecil, dengan dua kamar. Penampilan mereka sederhana. Perabotnya sederhana. Dua anak-anaknya sangat sopan, pendiam, rukun, tidak pernah terlihat runtang-runtung membawa perempuan. Mereka juga, nyaris tidak pernah makan di luar. Si ibu yang mengaku berasal dari sebuah dusun perkebunan di Malaysia, bercerita, ia merantau ke Singapura karena tidak mau menjadi pekebun. Ia tak berpendidikan bagus, tapi seorang pekerja keras. Dua anaknya, adalah bukti bagaimana kerasnya ia bekerja.
Pada kami, si ibu juga kerap bercerita soal rencana yang disusun sejak lama. Begitu tabungan anak pertamanya cukup, dia akan membeli rumah yang lebih besar, atasnama ia dan anak sulungnya. Di Singapura, membeli rumah apartemen negara (istilahnya rumah HDB – Housing & Development Board) memang cukup susah. Jika usia di bawah 35 tahun, pembeli harus dua orang WN Singapura atau permanent residence. Orang asing tidak bisa membeli rumah negara.
Banyak anak-anak memilih memakai nama ibu atau bapaknya, atau orangtua yang memaksa anaknya memakai nama mereka saat membeli rumah. Agar ketika cerai, prosentase gono-gini-nya bisa lebih besar.
Hari berganti, tahun bertambah, makbedunduk…, tiba-tiba, si sulung memutuskan nikah. Diam-diam. Mendadak. Pernikahan sederhana. Begitu nikah, ia langsung pindah rumah, tinggal bersama istrinya. Si ibu dia tinggal Bersama adiknya. Si ibu terlihat kecewa dengan keputusan itu. Rencananya untuk membeli rumah baru gagal.
Tapi masih ada si bungsu. Tetangga kami kembali bercerita, ia berencana membeli rumah baru bersama bungsunya yang sebentar lagi lulus, juga dari jurusan hukum. Tidak hanya rumah baru, ia juga telah berencana tinggal dan menua bersama anak bungsunya. Jika si bungsu menikah, istri dan anak-anaknya bisa tinggal bersama dia. Ia akan membantu mengasuh cucu-cucunya. Hari tua yang ideal bagi seorang janda perantau seperti dia.
Si bungsu adalah tipe lelaki idaman. Ia gagah, ganteng, pendiam, dan sekolahnya membanggakan. Hari-hari, jika tidak ke sekolah, paling di rumah main game sepakbola. Selama kami bertetangga, tidak sekalipun saya mendengar dia berkata kasar atau membantah ibunya. Apa saja omongan ibunya dituruti. Apa saja rencana ibunya, seperti diiyakan. Ia seperti anak idaman semua orangtua.
Lalu, ia lulus, dan segera mendapat kerjaan.
Tapi, kisah yang sama dengan kakaknya berulang. Tiba-tiba saja ia memutuskan menikah. Mendadak. Secara sederhana. Lalu meninggalkan ibunya sendiri, tinggal bersama istrinya. Begitu tiba-tiba rencana itu, sampai-sampai sang ibu, seperti tidak siap menerima kenyataan itu. Kepergian anak keduanya dengan cara serupa seperti si sulung, membuat si ibu seolah-olah “linglung”. Ia tiba-tiba mudah marah. Pada siapa saja. Pada kami, tetangganya. Pada tanaman bunganya yang jatuh ditipa angin. Pada burung-burung merpati yang dulu suka dia beri makan.
Ia juga gampang curigai. Pada siapa saja. Di depan rumahnya, di koridor yang kami pakai bersama, ia pasangi CCTV dengan sensor bergerak. Setiap orang lewat, bunyi bendering segera muncul. Itu mengganggu sekali. Setiap kali bunyi berdering, si janda segera keluar, menongolkan kepalanya dari balik pintu. Seolah mencari tahu, siapa yang datang/lewat. Tapi, saya tak mempermasalahkan CCTV dan bunyi dering itu. Bagi saya, justru menguntungkan. Kalau ada maling mau mencuri, takut dengan CCTV dan bunyi bendering itu. SI janda itu, bagi saya, seperti sekuriti saja. Hehehe.
Saya menduga, perubahan si ibu datang dari keputusan si bungsu meninggalkannya. Itu, sekaligus menghentikan rencana dan mimpi yang sudah sangat lama ia susun. Saya mengerti, itu sangat sulit untuk seorang janda tua, perantau, yang mungkin merasa “anak-anak” ideal yang susah payah ia besarkan, tiba-tiba saja dicuri oleh “orang” lain dengan mudahnya.
Tapi, bukankah setiap orangtua yang punya anak, kemungkinan besar akan mengalami hal itu? Ditinggal anak-anaknya? Menjadi sendiri?
Dalam hidup terkini saya, bejibun rencana tak lagi ada di kepala. Saya juga tak membiarkan diri saya punya rencana jangka panjang. Bukan karena saya tak bisa berencana. Tapi, kegagalan-kegagalan rencana yang sudah saya susun sebelumnya, menyadarkan saya, rencana apa pun yang sudah saya susun dan berusaha saya wujudkan, hasilnya tidak pernah bisa saya duga. Seringkali mengecewakan.
Kecewa dengan rencana yang gagal, itu memang menyakitkan. Biar tak sakit, saya membiarkan Semesta memutuskan apa pun pada diri saya.
Tapi, itu bukan berarti saya tidak bekerja keras. Atau berusaha. Siapa saja yang kenal dengan saya, dan pernah bekerja sama, pasti tahu, betapa saya tak pernah mengerjakan sesuatu dengan santai atau setengah-setengah. Saya berusaha sekeras yang saya bisa. Di saat bersamaan, saya juga berusaha keras untuk menerima apa pun hasil dari usaha yang saya lakukan.
Seperti pentingnya rutin berolahraga. Tiap hari saya berusaha melatih perpaduan kerja keras dengan kesiapan menerima apa pun hasil dari usaha itu. Ini penting bagi saya. Saya juga mencoba mengingatkan istri saya untuk melakukan hal serupa. karena saya percaya, sehebat, sekaya, secantik, seterkenal apa pun Anda; pada akhirnya kita semua menjadi tua, ringkih, dilupakan, sakit-sakitan, dan akhirnya mati.
Dan hati yang kecewa, pikiran yang sakit, logika yang terlalu rumit; adalah faktor utama yang paling mematikan yang sialnya, kerap tidak disadari manusia.
(*)
Keterangan foto: 80 persen penduduk di SIngapura, tinggal di flat atau rumah susun negara yang beken disebut HDB (data dari https://www.mnd.gov.sg/our-work/housing-a-nation/public-housing)












