KETIKA SD dan SMP, tempat parkir sekolah saya masih didominasi sepeda pancal. Di pasar Singosari, Malang, kampung saya, parkiran juga didominasi sepeda pancal. Di SMA, parkiran sudah berubah: isinya motor semua, juga Mobil milik para guru. Pelajar SMA enggan naik sepeda pancal.
Jaman dan kebiasaan begitu cepat berubah.
Sementara foto yang saya jepret pada Senin (22/6) pagi di parkiran stasiun kereta Admiralty, ratusan sepeda pancal merajai parkiran.
Apakah orang Singapura miskin-miskin hingga tak mampu beli motor? Dengan penghasilan tiap individual yang rata-rata Rp60 juta/bulan, bagi mereka beli motor adalah perkara sipil. Mudah. Tapi, fakta bahwa mereka masih memakai sepeda pancal untuk aktifitas harian, itu adalah pilihan yang paling rasional, efisien, nyaman, sehat, dan tak membebani negara dengan subsidi BBM.
Bagi sebagian besar orang Singapura, biarlah bensin mahal, tokh mereka tak memerlukannya. Yang penting transportasi umum murah dan mudah, sekolah tanpa perlu banyak biaya.
(*)












