DALAM “tugas” hariannya sebagai sukarelawan untuk penyandang disabilitas, saban hari, istri saya harus menelepon seorang penyandang keterbelakangan mental. Untuk mengajaknya ngobrol. Tanya makan apa ini hari? Apa saja yang dikerjakan seharian? Nonton film apa? Atau sejumlah obrolan ringan harian lainnya. Biasanya, istri saya yang aktif bertanya ini-itu. Ngomong ini-itu. Tapi, Selasa (21/7) sore itu, saya lihat ia lebih banyak mendengar. Sesekali merespon “yes…”, “good…”
SAYA, yang duduk di depannya, masih sibuk mengais-ngais sisa daging ikan yang tertinggal di antara tulang-belulang dan bagian kepala ikan kukus bekas makan malam istri. Sore itu, memang kami makan malam terlalu dini. Kami bertemu di Vivo City, setelah saya menyelesaikan beberapa transaksi jualan, dan lokasinya dekat dengan tempat istri ikut pelatihan guru di kementrian pendidikan. Kebetulan ia juga baru selesai.
Sementara istri memilih makan ikan kukus, saya mengudap nasi dengan lauk sambal-goreng ati, oseng-oseng kacang panjang, dan sebutir telur rebus. Beli dari kedai Hj. Maimunah cabang Vivo yang terkenal uenak itu.
Begitu selesai ngobrol di telepon, istri kemudian menceritakan isi pembicaraannya. Orang yang ditelepon, seorang penyandang down syndrome berusia 30an tahun, CURHAT tentang masalah di keluarganya. Bercerita tentang ibunya yang selalu bertengkar dengan saudaranya. Bercerita tentang kurangnya perhatian keluarganya pada dirinya. Bercerita kenapa orang-orang tidak menghargainya. Dls.
Saya sedikit terkejut. “Apakah mereka bisa curhat? Bisa bisa sesensitif itu? Bisa berpikir serumit itu?” tanya saya. Sebelumnya saya menduga, mereka yang menderita down syndrome tidak sesensitif sebagaimana yang istri jelaskan. Seorang tetangga kami di Singapura misalnya, anak pemilik bengkel sepeda pancal. Digoda dan diomongin dengan bagaimanapun bahasa kasar, tetep enjoy-enjoy saja dia. Sambil mulutnya yang selalu senyum, tak pernah lepas dari rokok yang selalu menyala. Saya tak tahu, berapa banyak rokok yang ia habiskan dalam sehari. Setahu saya, begitu habis, ia segera menyulut lagi. Begitu seterusnya.
“Yang ini gejalanya ringan,” jelas istri saya tentang penyandang down syndrome yang tiap sore harus diteleponnya. “Perasaan yang dia miliki seperti kita juga,” istri menambahkan. Selain menelepon si A, saban hari Minggu, istri juga kebagian tugas volunteering membawa seorang penyandang down syndrome lainnya jalan kaki keliling taman. Satu atau dua jam. Sebagai bentuk olahraga si penyandang.
Mendengar penjelasan “perasaan serupa” penyandang keterbelakangan mental dengan kita, saya langsung teringat seorang tetangga saya yang lain di Singosari, Malang. Usianya empat tahun lebih tua dari saya. Saat kanak-kanak dan remaja, is selalu terlihat gembira. Dulu saya sering mengajaknya main ke rumah. Mengajarinya membaca-menulis. Saat itu saya selalu jengkel, kenapa dia tak kunjung bisa membaca dan menulis? Kenapa bocah sebesar tak bisa baca-tulis?
Tentu saja, saat itu, saya belum tahu kalau dia seorang berkebutuhan khusus. Rupa dan penampakannya biasa saja. Karena keluarganya cukup berada, ia bahkan terlihat berpenampilan lebih baik dari kabanyakan kami anak-anak kampung.
Menginjak remaja, kawan-kawan banyak yang mengolok-olok dia. Membully. Atau sekedar memintanya memijit ketika kami nongkrong bersama. Saya sendiri tak pernah tega memperlakukan demikian.
Tapi dia gembira-gembira saja. Sampai kemudian, neneknya, orang yang menjaganya, meninggal. Ia terpaksa kembali tinggal bersama kedua orangtuanya. Sejak itu, ia sering terlihat murung. Jalan ke sana-sini dengan wajah tertekuk.
Terakhir, tahun lalu, saya melihat ia berjalan dengan lunglai pulang ke rumah orangtuanya. Badannya kegemukan, wajahnya kasar, kopyah yang dikenakan awut-awutan. Saat itu, entah kenapa, melihatnya seperti itu, saya merasa begitu bersedih.
Ia mungkin merindukan nenek, yang semasa hidup, begitu mencintainya. Ia mungkin ingin dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. Ia mungkin ingin dihargai. Ia mungkin ingin diperlakukan seperti orang biasa. Tapi tak tahu bagaimana kudu mengatakannya.
(*)
Catatan foto ilustrasi: otak manusia itu memang unik. Seekor ayam misalnya, yang tiap hari keberadaanya tidak kita pedulikan, ketika muncul di perkotaan besar seperti Singapura, tiba-tiba kemudian menjadi seolah luar biasa. Kita memotretnya, terheran-heran dibuatnya. Padahal sama ayamnya dengan di kampung Kita.












