Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

Singapura Maju karena Sastra?

Pelajaran sastra universitas yang sudah diajarkan di SMP

Sultan Yohana by Sultan Yohana
May 10, 2026
in Singapura
0
Singapura Maju karena Sastra?
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter


PERHATIAN saya tertuju pada empat lembar kertas hasil ujian pelajaran Kesusastraan yang tergeletak begitu saja di atas meja ruang tamu, pekan lalu. Kertas kerja Zak, anak bungsu saya. Saya tertarik meraih dan membacanya, saat melihat lembar pertama berupa lima bait penuh puisi “On Turning Ten” karya Billy Collins (saya tak tahu siapa dia). Tiga lembar berikutnya, adalah lembar-lembar kosong yang penuh dengan tulisan tangan Zak. Dia harus menganalisa itu puisi, lalu menuliskan analisanya secara bebas dengan bahasa sendiri menjadi tulisan panjang. Yang runut dan enak dibaca.

Membaca tulisan Zak, saya sempat heran sendiri. Bagaimana dia bisa berimajinasi sedemikian panjang dan cukup baik untuk bocah kelas 2 SMP? Jangan-jangan, dia suka melamun sebagaimana yang disuka bapaknya? Hehehe.

Tentu saja saya tahu cukup banyak bagaimana rumitnya proses dalam mengapreasiasi sebuah puisi. Itu yang mendasari keheranan saya pada tulisan Zak. Saya kuliah di Sastra Indonesia, dan mengapreasiasi puisi adalah salah satu mata kuliah yang kami pelajari dengan intens. Saya menyukai mata kuliah ini, karena ada kebebasan di dalamnya. Kita dibolehkan berimajinasi seliar yang kita inginkan, tanpa peduli dibenar-salahkan. Ada perdebatan. Ada permainan logika. Serta ada kejelasan yang “cetho welo-welo”, mahasiswa mana yang gemar membaca dan mana yang tidak. Mahasiswa mana yang suka melamun, dan mana yang cuma mikirin pacaran. Di mata kuliah Apresiasi Puisi (Sastra), setiap mahasiswa tidak bisa membohongi kemampuannya sendiri.

Setiap pengapresiasi puisi (sastra), otak memang mereka harus terisi penuh dengan imajinasi-imajinasi yang dipanen dari buku-buku atau pengalaman apa pun mereka. Imajinasi-imajinasi itu akan bisa tertata dengan baik dan pada akhirnya bisa menjadi tulisan yang enak dibaca, jika logika yang mereka punya: runut atau benar dalam prosesnya. Ini sulit. Terbukti, banyak orang pandai bicara, tapi disuruh menulis satu paragraf saja, tak karuan apa yang ditulisnya. Saat kuliah, bahkan, banyak kawan-kawan saya yang mahasiswa sastra, tak mampu membuat tulisan, sepanjang yang ditulis Zak.

.

Di Singapura, salah satu pelajaran WAJIB anak SMP adalah Kesusastraan (Humanities: bersama Geografi dan Sejarah). Tiga lainnya adalah Bahasa (Inggris dan Bahasa Daerah atau mother tongue), Matematika, serta IPA. Empat pelajaran ini, diajarkan secara intensif selama SMP yang empat tahun (lima tahun jika pelajarnya menempuh jalur normal). Saya tidak heran, kenapa Kesusastraan menjadi salah satu pelajaran wajib di tingkat SMP Singapura, terpisah dari pelajaran Bahasa. Kesusastraan menawarkan hal yang tidak ada di pelajaran lainnya, termasuk Bahasa. Yakni kemampuan berlogika yang runut/baik, kebebasan berimajinasi, dan bisa menghaluskan perasaan.

Logika yang baik dan imajinatif ini; adalah MODAL DASAR sebuah negara bisa berkembang maju.

Kesusastraan di Indonesia, selama ini secara sempit hanya “diterjemahan” sebagai karya-karya sastra semata. Seperti novel, cerpen, atau puisi. Pelaku sastra, juga penikmatnya; terbiasa dan bangga memperoleh status tinggi di dalam strata masyarakat Indonesia, dan dianggap sebagai “cendikiawan-cendikiawan” yang harus dihormati. Status ini, menurut saya, justru menjadi jebakan yang kemudian membuat para pelaku sastra hanya fokus pada karya-karya yang terlihat: novel, kumpulan cerpen/puisi. Karya sastra yang telah dicetak berkali-kali, dianggap sebagai kesuksesan paripurna. Padahal sastra, sebagaimana yang telah diejawantahkan Singapura, adalah salah satu alat terbaik untuk MEMBANGUN BANGSA.

Sebait lagu tercipta karena imajinasi. Seonggok robot pembersih lantai, bisa terwujud dari imajinasi dan logika. Begitu pula saat membangun bandara, membangun gedung-gedung tinggi, jalan raya, jembatan, membangun sekolah, membentuk sistem pemerintahan, bisnis, perdagangan; semua memerlukan imajinasi dan logika yang baik. Logika yang baik dan imajinasi yang terukur, juga mampu menghindarkan sebuah masyarakat dari prilaku-prilaku tak terpuji seperti korupsi, gemar menipu, atau tidak sabaran. Karena mereka tahu, perilaku-perilaku ini, akan merusak masyarakat. Masyarakat dengan logika yang baik, tentu tidak ingin menjadi masyarakat yang rusak.

Kita kerapkali memandang sebelah mata pada bocah-bocah yang gemar membaca komik. Ketika melihat remaja yang suka membaca novel, kita kerap memandangnya sebagai kegiatan tak bermanfaat. “Daripada novel, kan lebih baik belajar Quran,” begitu biasanya logika berkata. Padahal, untuk memahami Kitab Suci, kita harus punya logika yang baik, dan itu bisa didapat dari sastra. Kementerian Pendidikan Singapura tentu punya alas an yang SANGAT KUAT untuk menempatkan Kasusasteraan sebagai pelajaran utama di SMP. Bukan pelajar komputer, bahkan bukan pelajaran agama.

Apakah Singapura bisa semaju sekarang karena jasa sastra? Saya yakin, itu salah satu penyebabnya. Karena itu, ketimbang terus menerus berkeluh-kesah mempersoalkan kualitas guru anak-anak Anda yang buruk, alangkah baiknya menyediakan buku-buku sastra di rumah Anda, agar anak-anak Anda terbiasa membaca buku-buku sastra. Membiasakan anak-anak kita berlatih berlogika dengan baik, juga berimajinasi dengan bebas. Agar kelak, ketika besar, mereka bisa memilih mana pemimpin-pemimpin yang bisa memajukan bangsa. Atau setidaknya, tidak tertipu memilih pemimpin seperti sekarang ini.

Mencintai sastra, tidak berarti Anda harus jadi sastrawan. Mencintai sastra adalah ikhtiar kita untuk bisa sehat berlogika.

(*)

Tags: BatamSastraSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik
Singapura

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Singapura

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

March 30, 2026
Next Post
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba'alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Nasi…, Onalisme*

Nasi…, Onalisme*

13 years ago
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

5 months ago
Lembut Kayak Mentega: Panasonic 20mm F1.7

Lembut Kayak Mentega: Panasonic 20mm F1.7

11 years ago
Nessa, TKI yang Penulis Buku*

Nessa, TKI yang Penulis Buku*

15 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Air minum Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Museum Netizen Opini Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sastra Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Singapura Maju karena Sastra?

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Ekon

Trending

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan
Humaniora

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

by Sultan Yohana
June 17, 2026
0

JUDUL di atas adalah salah satu sari dari pengalaman saya yang gemar jogging, setidaknya dalam 14 tahun...

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

May 3, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana