Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Cerita Sangat Pendek

Beberapa Jenis Lapar

Sultan Yohana by Sultan Yohana
August 3, 2017
in Cerita Sangat Pendek
0
Beberapa Jenis Lapar
0
SHARES
24
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

: dan kenapa kita harus mengenalnya.

Orang yang terbiasa perutnya kosong, dan mengobservasi rasa laparnya itu, pasti akan bisa membedakan beberapa jenis lapar ini. Yang dalam bahasa Jawa (bahasa Jawa Timuran versi pergaulan saya), jenis-jenisnya punya sebutan khusus (saya belum bisa menemukan padanannya dalam satu kata di bahasa Indonesia). Tiga derajat rasa lapar – setidaknya menurut pengalaman saya yang memang kenyang pengalaman berlapar-lapar ria ini – punya penanganan yang berbeda-beda. Salah urus, Anda akan terjerumus dalam kegemukan.

1.Luwe
Kalau ada orang bertamu, masuk dapur tetangganya, kemudian bertanya, “Kok ‘luwe’ wetengku, ono sing iso dipangan ora? (Kok perut saya lapar, apakah ada sesuatu yang bisa dimakan?)”, berarti dia tidak benar-benar lapar. Perutnya tidak butuh makan besar, tidak perlu sepiring penuh nasi berserta lauknya. Sepotong singkong goreng beserta secangkir kopi tubruk mungkin cukup untuk mengatasi rasa ‘luwe‘ di perut ini. Karena memang, jika seorang merasa ‘luwe‘, dia tidak benar-benar lapar. Lapar perutnya, tak jarang cuma karena mulut ingin menikmati sesuatu saja.

Rasa ‘luwe‘ ini, biasanya datang di jam-jam “nyleneh”. Misalnya datang ketika pukul sebelas pagi, pukul tiga sore, atau bahkan satu jam setelah makan siang atau malam. Rasa ‘luwe‘ ini, bagi saya sangat berbahaya, jika kita menyikapinya secara sembrono. Orang yang salah urus, suka mengasihani diri sendiri, dan lebay, biasanya jika datang rasa ‘luwe‘ ini, akan merelakan diri untuk kembali menyantap makanan utama; makan besar lagi. Kalori yang sebetulnya belum terlalu dibutuhkan tubuh, masuk ke tubuh lagi. Bayangkan jika tiap hari, kita merasa ‘luwe‘, berapa jumlah kalori yang tersimpan dalam sebulannya? Setahunnya? Hmmm…

Saya punya sedikit tips sehat dan menyegarkan untuk mengatasi ‘luwe‘ ini. Minum air putih sampai kenyang. Air putih, seperti yang saya yakini, selain bisa “membersihkan” tubuh, juga bisa menahan lapar, setidaknya sampai waktu makan benar-benar datang. Untuk itu, biasakan selalu ada botol berisi air putih di manapun Anda berada. Jika rasa ‘luwe‘ datang, langsung saja glegek isinya, sebelum mulut tergoda mengincip yang lain. Silahkan dicoba.

2. Kemrucuk
“Isuk-isuk weteng wes ‘kemrucuk’. Koyok’e kudu diisi sek, sakgurunge macul.”  Kalau di-Bahasa Indonesikan kira-kira begini; “Pagi-pagi kok perut sudah keroncongan, kayaknya harus diisi dulu sebelum nyangkul”. Ya, ‘kemrucuk‘ adalah setingkat derajat dari ‘luwe‘. Ketika rasa ‘kemrucuk‘ datang, ini adalah rasa lapar disertai perut yang sedikit nyeri (dan biasa mengeluarkan suara “krucuk-kcuruk“) karena lapar. Bagi saya, ini adalah mekanisme sangat cerdas dari tubuh, yang meminta diisi dengan energi, dengan kalori. Sepiring nasi beserta lauk secukupnya, air putih secukupnya, adalah cara terbaik bagi kita untuk mengatasi rasa ‘kemrucuk‘ ini.

Tapi ingat, makan kekenyangan justru akan membuat tubuh berat, malas digerakkan, dan ujung-ujungnya ngantuk tidur. Untuk mengatasi ngantuk setelah kekenyangan makan ini, orang terkadang “mendoping” tubuh dengan secangkir kopi.

Karena selera kopi orang Indonesia yang biasanya manis banget, kalori pun otomatis bertambah. Bagi mereka yang kerjanya banyak duduk di kantoran, jelas kelebihan ini sangat berbahaya. Sudah makan penuh kalori, masih ditambah kopi berkalori. Apa ndak dobel-dobel energi kita? Tapi, lha kok energinya cuma dipakai duduk? Membengkaklah tubuh kita.

3. Kaliren
Ini adalah derajat tertinggi dari rasa lapar. Biasanya diselipkan dalam kalimat hiperbola, seperti ini; “Gendeng, manganmu koyok wong ‘kaliren’, koyok gak ketemu sego sak ulan wae, Cak!”. Ya, ‘kaliren‘ ini adalah situasi ketika tubuh betul-betul hampir kolaps, membutuhkan sangat banyak asupan makanan setelah melakukan aktivitas yang sangat berat, atau setelah keluar dari situasi berat, dan untuk beberapa waktu tertentu tidak makan. Orang yang ‘kaliren‘, biasanya akan menyantap apa saja yang ditemuinya, secara membabi-buta. Secara ugal-ugalan.  Kalau orang sudah ‘kaliren‘, silahkan makan sekuatnya, lalu istirahat, dan nikmati hidup Anda. Tokh, rasa “kaliren’ ini sangat jarang terjadi. Tapi kalau ada orang ‘kaliren’ tiap hari, itu namanya rakus bin serakah.

Luwe, kemrucuk, dan kaliren…, bahkan nenek moyang kita sejak dulu, telah mengklasifikasikan dengan sangat baik, jenis-jenis rasa lapar itu. Dan, tentu kita, perlu mengetahui cara menangani yang pas untuk jenis-jenis itu. Sebagaimana nenek moyang kita, yang jarang sekali kena obesitas, kencing manis, darah tinggi, apalagi sampai stroke.

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Aliens aka praying mantis in Singapore
Cerita Sangat Pendek

Aliens aka praying mantis in Singapore

January 31, 2021
Panggil Saya China
Cerita Sangat Pendek

Panggil Saya China

October 27, 2017
Kejamnya dengan Uang
Cerita Sangat Pendek

Kejamnya dengan Uang

October 17, 2017
Next Post
(K)yai Kartolo Cs

(K)yai Kartolo Cs

(Lagi-lagi) Tambah Ongkos Lagi

(Lagi-lagi) Tambah Ongkos Lagi

Politik(us) & Komunis

Politik(us) & Komunis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Kluang, Honda Astrea Boon Siew, dan Konsumtifnya Masyarakat Indonesia

Kluang, Honda Astrea Boon Siew, dan Konsumtifnya Masyarakat Indonesia

12 years ago
Tuhan yang Semakin “Mahal”

Tuhan yang Semakin “Mahal”

9 years ago
Di Taipei, Saya Rindu Udara Malang

Di Taipei, Saya Rindu Udara Malang

2 years ago
Terjerumus Rombengan!

Terjerumus Rombengan!

4 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

ASN Batam Cara mengajar Catatan Citizen Dollar Efisiensi Fasilitas Foto Gibran Guru Humaniora Indonesia Jatim Koran Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Manajemen Netizen Olahraga Pajak Pedagang Pembaca lansia Pendidikan Pengemis Perpustakaan PNS Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Pembaca Lansia

Jalan Kaki itu Membahagiakan

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Sepeda Pancal

Trending

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya
Humaniora

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

by Sultan Yohana
September 27, 2026
0

TETANGGA samping rumah kami di Ang Mo Kio, Singapura, adalah seorang janda paruh baya, dengan dua anak...

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

September 19, 2026
Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

September 7, 2026
Pembaca Lansia

Pembaca Lansia

September 3, 2026
Jalan Kaki itu Membahagiakan

Jalan Kaki itu Membahagiakan

August 23, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana