Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Sastra

Secangkir Kopi, Mimpi, dan Diskusi Sastra

Sultan Yohana by Sultan Yohana
September 24, 2005
in Sastra
0
0
SHARES
13
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Penghujung siang yang gerah. Ketika saya memunculkan diri dalam sebuah forum diskusi sastra resmi, di sebuah hotel pusat kota. Pikiran pertama dan utama yang muncul dalam benak saya, adalah di mana saya bisa mendapatkan
seteguk kopi. Cairan hitam, kental, dengan kepulan
asap tipis di atasnya. Karena saat itu, saya sangat membutuhkannya. Tentu saja untuk sekedar mengganjal mata agar tetap terjaga.

Ya, setengah jam yang lalu, saya terjaga oleh alarm
HP yang saya pasang di penghujung siang. Saya berhasil
bangun. Padahal, biasanya, mustahil untuk saya
lakukan. Karena memang saya bekerja malam.

Untungnya sedini pagi, saya minta ijin pulang lebih
cepat pada atasan saya. Seorang lelaki ramah, juga
ayah dari seuntai bocah, yang seumur kerja saya, tak
pernah marah pada siapa saja. Tentu saja setelah
menyelesaikan pekerjaan saya. Pekerjaan membuat
cerita.

Ketika berjalan dalam pulang, satu yang membuat saya
teramat resah, bagaimana saya memulai untuk
mengistirahatkan simpul-simpul syaraf otak saya.
Karena, ya, saya tergolong orang yang susah berebah.
Saya hanya bisa berebah, ketika seluruh otot-otot
saya, sudah lelah dibuatnya.

Saya masuk kamar. Masih keresahan itu terngiang.
Ketika pintu kamar kos saya buka, teman saya terjaga
dengan kata-kata kacau yang sulit saya mengerti. Saya
kasihan melihatnya. Karena mungkin, kemunculan saya
membuat mimpinya harus terselesaikan lebih cepat.
Semoga saja dia masuk sorga!

Alhamdullilah, untunglah ada onggokan pil sulit
tidur warisan dari rekan saya yang kini telah melempar
diri ke kota tetangga. Saya raih, dan saya minum dua
butir. Saya biarkan bereaksi, sambil meraih koran
ibukota yang kesemua isinya, hanya tentang kedukaan
bumi nusantara.

Pun, akhirnya saya klenger. Dalam ketidakterjagaan,
ndilalah… saya bermimpi.

Dalam mimpi saya, saya menjadi Spiderman. Dengan
seutas tali, saya bergelantungan dari gedung
bertingkat satu ke gedung bertingkat lain. Sesekali
saya menclok sebentar pada kaca-kaca jendela yang
lampu penerangannya belum dimatikan. Saya intip apa
gerangan aktivitas di dalamnya.

Djiancok…, menclokan pertama saya di jendela
sebuah hotel, saya dapati jendelanya sedikit terbuka.
Saya intip apa di dalamnyaa. Astaga, sebuah adegan
mesum. Dua lelaki bule bersetubuh dengan seorang
wanita muda, yang pastinya, atau mungkin, entahlah,
seorang pelacur.

Saya pun terbang kembali.
Menclokan kedua, masih di sebuah jendela hotel yang
tertutup rapat. Namun, tirainya tersingkap. Ah…,
lagi-lagi adegan persetubuhan. Sepasang muda penuh
gairah. Mungkin itu malam pertama mereka.

Berikutnya, saya menclok di sebuah gedung baru,
menjulang, yang ketika saya perhatikan seksama,
bukankah ini gedung kantor saya? Memang, benar adanya.
Dan, saya, dalam mimpi itu melihat saya. Yang detik
demi detik, semakin menua dan tetap menjadi bukan apa-apa. Saya pun sedih, kemudian kabur melayang ke gedung pencakar lainnya.

Dan, ketika dalam sebuah loncatan berikutnya saya yang Spiderman, dering alarm HP saya membangunkan saya. Saya terjaga, dan ketika saya teringat sebuah acara diskusi sastra, dan bersegera mandi, ganti baju, pasang sepatu, untuk kemudian kabur bersama sebuah taksi tak berpendingin.

Ah…, saya lupa minum kopi.

Ketika saya masuk ke dalam ruangan-tentu saja berpendingin, perhatian saya
langsung tertuju meja di belakang forum, yang di sana tertata dengan rapi, gelas-gelas keramik warna susu. Tapi, diancok…, tak ada kopi di anteronya.

Saya pun kemudian mengambil duduk pada deretan memojok. Berharap bisa memperhatikan seantero ruangan. Sambil sesekali mengeluarkan uapan, saya masih terus berharap, ada secangkir kopi panas, kental, dan menggairahkan.

Namun, sejauh itu, angan saya tersia-siakan. Saking beratnya kantuk saya, bahkan mimpi saya yang tadi, sempat tersambungnya. Kini, saya, dengan pakaian ketat merah biru berlogo laba-laba di dada. Saya yang Spiderman, manusia laba-laba itu.

Dan, dengan sekali loncatan, tubuh saya sudah menclok pada setangkai jendela sebuah hotel di pusat kota. Seperti sebelumnya, mata saya pun kemudian melongok-longok keluar. Lho?

Saya perhatikan dengan seksama, saya kucek mata saya, saya goyangkan-goyangkan kepala saya. Itu kan saya yang sedang duduk di deretan belakang, sambil terus menguap? Di antara belasan peserta diskusi sastra? Saya kucek lagi kedua bola mata saya. Saya menggeleng-geleng lagi kepala saya. Karena keheranan saya, kok banyak di antara mereka, termasuk saya, masturbasi berjamaah?!

Ah, memang. Saat ini saya benar-benar butuh secangkir kopi.

Batam, September Minggu ketiga

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Sastra

Pukimak, Pesing Seni Sapa Nih…

December 12, 2007
Next Post

Kemarin dia Berkata, Saya Sahabat Terbaiknya

Remember Me

Remember Me

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Bocah, Bola, Senja

21 years ago

Puisi

20 years ago
Doa yang Melanggar Syariat

Doa yang Melanggar Syariat

4 years ago
Indra Sjafri dan Pencarian Bakat Itu

Indra Sjafri dan Pencarian Bakat Itu

3 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Batam Bebas kendaraan Cara mengajar Catatan Citizen Dollar Efisiensi Fasilitas Foto Gibran Guru Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Koran Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Manajemen Media Netizen Olahraga Pajak Pedagang Pembaca lansia Pendidikan Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Pembaca Lansia

Jalan Kaki itu Membahagiakan

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Trending

Melatih Bola, Melatih Menghadapi Manusia
Bolaisme

Melatih Bola, Melatih Menghadapi Manusia

by Sultan Yohana
October 26, 2026
0

"SEMAKIN saya belajar (banyak) tentang bola, semakin saya belajar tentang kemanusiaan," sembari menjabat tangan pelatih Aidil, saya...

Bagaimana Bersekolah di SMP Orchid Park Seperti Gibran?

Bagaimana Bersekolah di SMP Orchid Park Seperti Gibran?

October 16, 2026
Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

October 5, 2026
Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

September 27, 2026
Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

September 19, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana