Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

dan kekhawatiran-kekawatiran itu

Sultan Yohana by Sultan Yohana
October 5, 2026
in Singapura
0
Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SALAH satu hal yang paling saya khawatirkan di era yang sedemikian maju ini, era kecerdasan artifisial (AI), apakah saudara, kerabat, sohib, dan kawan-kawan saya di Indonesia sudah siap menghadapinya?

Ketika saya pulang kampung, misalnya, lalu mendapati mata sepupu saya yang berusia 23 tahun, tidak bisa lepas dari game slot di HP-nya, kekhawatiran saya kian meningkat. Ketika saya ngobrol dengan keponakan yang masih SMP, dan ia tak bisa menjawab pertanyaan saya tentang perang Ukraina; kekhawatiran saya kian membuncah.

Ketika melihat ibu duduk nyante sambal melihat potongan-potongan pendek ceramah agama di Youtube, yang seringkali sangat tendensius; kekhawatiran saya kian menjadi-jadi. Ketika saya mendapati kawan-kawan main saya, sibuk berdebat apakah sound horeg haram atau tidak?

Kekhawatiran saya benar-benar memuncak. Belum lagi melihat tingkah laku para ulama, yang lebih memilik sibuk berdoa meminta kekeringan berhenti, namun di saat bersamaan membiarkan hutan-hutan di belakang rumah mereka tertebang serampangan. Apakah mereka semua telah siap menghadapi jaman AI yang efek negatifnya bisa lebih bengis dari perang Israel-Palestina?

Di hadapan tekhnologi, mungkin saya manusia yang tergolong kolot. Kampungan. Saya tidak terlalu tertarik pada hal-hal berbau tekhnologi terkini. Saya membenci AI sebagai TOOLS atau alat; karena saya menganggap, itu hanya akan membuat manusia kian malas, kehilangan naluri alamiah, serta kian tergantung pada teknologi yang notabene diciptakan untuk diperdagangkan.

Saya tidak pernah tertarik, misalnya, mengubah/mengoreksi foto-foto saya dengan AI. Saya tidak tertarik menulis dengan bantuan AI. Tapi, sebagai manusia yang – kebetulan – tinggal di Singapura, mau tak mau, saya harus selalu BERSENGGAMA dengan tekhnologi terkini. Salah satunya dengan AI.

AI sebagai SISTEM, memang sudah lama menjadi perhatian khusus pemerintah Singapura. Tahun lalu, misalnya, istri saya mengikuti kursus pelatihan AI yang diadakan pemerintah, dan terbuka untuk umum.

Menariknya, kata istri, kebanyakan pesertanya justru warga Singapura lanjut usia. Ini bisa dimengerti. Mengingat populasi warga lanjut usia sangat tinggi, yakni 21.4 persen ( https://www.population.gov.sg/our-population/population-trends/longevity/ ), dan pada tahun 2035, diperkirakan 1 dari empat penduduk Singapura, berusia 65 tahun ke atas. Mereka, para lansia itu, yang secara de facto masih menjadi “pemilik” Singapura, kudu terbiasa hidup dengan sistem kecerdasan artifisial.

Selain pelatihan, pemerintah Singapura juga getol mengkapanyekan AI dan segala jenis perubahan yang bisa diakibatkan lewat penyuluhan-penyuluhan langsung ke masyarakat akar-rumput, membuat iklan-iklan layanan masyarakat, atau sekedar menempatkan pegawai-pegawai penyuluh di tempat-tempat di mana masyarakat umum membutuhkan penjelasan langsung.

Generasi Singapura lebih muda, seperti dua anak saya, lebih mudah menerima dan menguasai AI, baik sebagai tools maupun sistem. Karena mereka wajib mempelajarinya di sekolah-sekolah.

Juga, pelan namun pasti, AI disuntikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Singapura. Contoh paling sederhana misalnya, saya tak perlu lagi repot-repot membuat diskripsi dagangan saya di Carousell, karena begitu mengupload foto, sistem marketplace paling maju di Singapura itu, bisa segere mengidentifikasi produk yang saya jual.

Meski, di banyak hal, tentu saja, saya harus mengoreksi dan cawe-cawe mengenai detil dan “kebodohan” AI itu sendiri. Begitu seorang membeli, sistem juga segera menyambungkannya dengan perusahaan ekspedisi yang akan mengambil barang yang dibeli. Saya tinggal membungkus dan menunggu kurir datang di rumah. Pembayaran pun, semuanya sudah terintegrasi dengan begitu mudah. Pendek kata, satu klik, semua urusan saya selesai. Saya bahkan tak perlu tahu siapa pembelinya, dan sama sekali tak berdiskusi/ngobrol dengannya.

Di banyak urusan administrasi kependudukan, komunitas, mencari alamat (map), keanggotaan perpustakaan, teknologi terapan atas alat-alat kebutuhan hidup harian, dls; AI juga telah melakukan penetrasinya. Perlahan namun pasti. Saya, sebagai orang yang tinggal di Singapura, mau tak mau harus ada di sistem tersebut. Atau setidaknya, tidak gagap dengan perubahan yang ditimbulkan.

Pelan namun pasti, di Singapura, robot-robot juga telah mengambil-alih peran manusia. Peran sekuriti, peran cleaning servis, peran transportasi publik; kini sudah mulai dikerjakan oleh robot/AI.

Membayangkan bagaimana AI sebagai sistem, terkoneksi dan bekerja langsung untuk “mempermudah” hidup masyarakat di Singapura, itu memerlukan begitu banyak konektifitas, kreatifitas, kecerdasan asli manusia sendiri, sistem keamanan, serta kesiapan infrastrukturnya. Terpenting dari semua itu, ada upaya riil pemerintah untuk mempersiapkan segala sesuatunya, terutama manusianya, dalam menghadapi perubahan jaman yang segera (sudah) terjadi. Menghadapi jaman AI.

Sebagai orang yang tinggal di Singapura, tidak banyak kekhawatiran saya dalam menghadapi era AI. Ibarat mengarungi laut dengan kapal layar, ketika kita tahu kapal menyediakan pelampung, alat komunikasi yang bisa dihubungi untuk meminta bantuan, serta ada tim penyelamat yang selalu sigap datang dengan cepat; kita tak lagi khawatir untuk berlayar. Dan saya belum melihat semua kesiapan itu pada saudara, kerabat, sohib, dan kawan-kawan saya di Indonesia.

Sebagaimana kekhawatiran banyak orang, AI sebagai sistem, memang bisa sangat berbahaya jika itu diterapkan pada masyarakat yang belum siap. Itu bisa mengubah hidup Anda dalam sekejap. Anda harus benar-benar segera menyiapkan diri Anda secara mandiri! Mencari tahu apa saja tentang AI. Karena saya tahu, tidak ada yang bisa diharapkan dari pemerintah yang hanya sibuk memikirkan siapa yang akan berkuasa pada 2029 saja.

Sekali lagi, Anda harus benar-benar khawatir dengan jaman AI ini!

(*)

Tags: Mesin AISingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya
Singapura

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

September 7, 2026
Pembaca Lansia
Singapura

Pembaca Lansia

September 3, 2026
Jalan Kaki itu Membahagiakan
Singapura

Jalan Kaki itu Membahagiakan

August 23, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Masihkah Anda Berpikir Habibie Seorang Jenius?

Masihkah Anda Berpikir Habibie Seorang Jenius?

12 years ago
I am Mine

I am Mine

21 years ago
Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

4 weeks ago
Ini Tempat Menyimpan Abu Jenazah Terbesar di Singapura

Ini Tempat Menyimpan Abu Jenazah Terbesar di Singapura

6 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

ASN Batam Bebas kendaraan Cara mengajar Catatan Citizen Dollar Efisiensi Fasilitas Foto Gibran Guru Humaniora Indonesia Jatim Koran Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Manajemen Netizen Olahraga Pajak Pedagang Pembaca lansia Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Pembaca Lansia

Jalan Kaki itu Membahagiakan

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Trending

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
Singapura

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

by Sultan Yohana
October 5, 2026
0

SALAH satu hal yang paling saya khawatirkan di era yang sedemikian maju ini, era kecerdasan artifisial (AI),...

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

September 27, 2026
Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

September 19, 2026
Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

September 7, 2026
Pembaca Lansia

Pembaca Lansia

September 3, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana