Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Indonesiaku

Keteladanan Lee Kuan Yew

Bahkan setelah mati pun, tak ingin diherokan!

Sultan Yohana by Sultan Yohana
November 10, 2025
in Indonesiaku
1
Keteladanan Lee Kuan Yew
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter


:

.
Pekan-pekan terakhir ini, polemik tentang rumah mendiang perdana Menteri SIngapura, Lee Kuan Yew (LKY) kembali mengemuka. Ini setelah pemerintah Singapura, melalui PLT Menteri Kebudayaan, Komunitas, dan Pemuda, David Neo, di depan parlemen, 6 November, menetapkan rumah yang beralamat di 38 Oxley Road itu akan jadi monumen nasional. Seketika saja, anak kedua LKY, Lee Hsien Yang, mengecam keputusan itu. Ia bersikeras, WASIAT bapaknya, yakni menghancurkan rumah itu, harus dijalankan oleh pemerintah. Sikeras yang ditentang oleh kakaknya, Lee Hsien Loong.

Lee Hsien Yang dan keluarganya sendiri, kini telah mengungsi ke Inggris sejak 2023. Itu akibat polemik berkepanjangan dengan sang kakak yang ketika itu menjabat sebagai perdana Menteri Singapura, menyoal dilaksanakan atau tidak wasiat bapak mereka. Lee Hsien Yang dan adiknya, Lee Wei Ling, minta pemerintah memenuhi wasiat bapaknya. Sementara si sulung, mau sebaliknya, rumah harus tetap berdiri untuk didedikasikan sebagai monumen umum.

Terlepas dari silang-sengkurat masalah keluarga itu, wasiat LKY, menurut saya, adalah sebuah hasil keputusan dari seorang manusia yang telah berstatus “paripurna”.

LKY, dalam banyak kesempatan, secara khusus meminta masyarakat Singapura tidak mengkultuskan dirinya. Ia tidak mau diPAHLAWAN-PAHLAWANkan. Ia bahkan, terang-terangan tidak mau dibuatkan makam mewah! Ia tidak ingin dibuatkan patung. Ia tak ingin dibuatkan monumen untuk mengenangnya. Bahkan, abu jenazah LKY, bersama abu istrinya, ditempatkan di Mandai Columbarium. Komplek penyimpanan abu masyarakat biasa. Abu mending bapak mertua saya, juga disimpan di sana.

Semangat atau budaya kultus memang berbahaya sekali. Ini budaya, bisa membawa pemakainya gagal berpikir kritis, gagal berpikir secara intelektual. Sebagai contoh mutakhir misalnya, ketika Kang Dede Mulyadi dikritik, sekalipun kritik itu sangat masuk akal, para pengkultusnya secara membabibuta menyerang si pengkritik. Atau ketika jargon “NKRI harga mati” ditelan mentah-mentah oleh sebagian besar orang NU, Gus Dur justru pernah menulis di buku “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”, gagasan federalisme (pemisahan) bisa diwujudkan lewat kebijakan-kebijakan yang lebih bersifat kedaerahan. Seperti hak daerah untuk mengelola penerimaan keuangan secara penuh, polisi yang diurus oleh daerah (seperti Amerika yang kepala polisinya dipilih dan bertanggungjawab pada walikota), dls.

Pengkultusan, dalam tataran tauhid, bahkan begitu dekat dengan syirik.

LKY hanya ingin, rakyat Singapura, berpikir waras dan bekerja keras, agar kemiskinan sumber daya alam yang jadi masalah utama Singapura, tidak menjadi persoalan untuk kemajuan negeri ini. Itu adalah masalah yang lebih realistis untuk dipikirkan, ketimbang sekedar gelar pahlawan, apalagi sampai mengeluarkan dana miliaran rupiah untuk dibuat monumen atau patung dirinya.

Seumur hidupnya, LKY telah mendedikasikan diri pada Singapura. Semua orang Singapura, bahkan yang membencinya, pasti setuju atas dedikasinya itu. Bahkan ketika meninggal sekalipun, keteladanannya, kesederhanaanya, serta pikiran realistisnya tetap ingin terus ditanamkan pada benak masyarakat Singapura.

Indonesia butuh seorang pemimpin seperti LKY.

Catatan foto: Mr Twist, seorang yang menyebut dirinya sebagai “Singapore political artist”, menggendong boneka Lee Kuan Yew. Foto saya jepret pada Maret 2015 silam, di City Hall, saat masa-masa berkabung meninggalnya LKY.

(*)

Tags: Lee Kwan yeoSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Berhentilah Mengkritik!
Indonesiaku

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Ketika Sedolar Nilainya Rp13.157
Indonesiaku

Ketika Sedolar Nilainya Rp13.157

May 3, 2025
Politik(us) & Komunis
Indonesiaku

Politik(us) & Komunis

September 19, 2017
Next Post
Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

Ketika Banyak Restoran "Terpaksa" Jadi Halal

Sepakbola Sederhana!

Sepakbola Sederhana!

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Comments 1

  1. Pingback: Keteladanan Lee Kuan Yew – GoWest.ID

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

LRT Singapura; Membelah Gedung-Gedung Tinggi

LRT Singapura; Membelah Gedung-Gedung Tinggi

5 years ago
Penampakan Babi Hutan di Hutan Singapura

Penampakan Babi Hutan di Hutan Singapura

5 years ago

Welcome to Our Kampong!

15 years ago
Spesialnya Bahasa Melayu: dalam percakapan sehari-hari di Singapura

Spesialnya Bahasa Melayu: dalam percakapan sehari-hari di Singapura

2 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Opini Orang tua Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Berhentilah Mengkritik!

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Trending

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Singapura

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

by Sultan Yohana
March 30, 2026
0

BUS nomor 242 yang membawa saya sore ini (10/2/2026), memasuki kawasan baru. Tengah nama kawasan itu. Sepanjang...

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Dua Karakter Berbeda Orangtua

March 15, 2026
Ekon

Ekon

February 4, 2026
Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana