Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

“Seteguk Air Dingin”: dari budaya baik bule di Singapura

Sultan Yohana by Sultan Yohana
March 9, 2025
in Singapura
0
“Seteguk Air Dingin”: dari budaya baik bule di Singapura
0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SAYA suka bagaimana orang-orang bule mempertahankan budaya mereka bersepeda pancal. Sebagai alat transportasi sehari-hari semasa mereka tinggal di Singapura. Itu seperti “seteguk air dingin” di tenggorokan yang kehausan oleh nafsu berkendara motor. Di Singapura yang kian hari, saya rasakan kian macet dan pengendaranya kian tak punya adab.

Kendaraan di Singapura memang tidak bertambah secara massif. Itu karena kebijakan pembatasan kendaraan bermotor yang sangat ketat. Bahkan dari tahun 2018 hingga 2028, pemerintah menerapkan “zero vehicle growth rate”, yang artinya, tidak ada penambahan kendaraan bermotor di 10 tahun itu. Satu mobil baru terjual, harus ada satu mobil yang diskrap.

Tapi kenapa bisa semakin macet?

Itu karena semua pemilik kendaraan bermotor, kini, SUKA berbondong-bondong memakai mobil di waktu yang sama. Ke mana-mana. Beli makan ke pasar saja, sekarang naik mobil. Ngantor, pada berbondong-bondong pamer mobil. Terutama masyarakat berumur 20 – 40an tahun yang sudah bekerja, tak punya tanggungan, dan mampu mengkredit mobil.

Sekarang juga, saya sulit menemukan mobil-mobil pribadi berpelat merah. Plat merah berarti, mobil-mobil itu hanya bisa beroperasi pada akhir pekan atau liburan. Mobil dengan pajak lebih murah. Kemampuan finansial yang bagus, membuat orang Singapura boros pengeluaran dan kian hidup hedon. Hedonistik itu salah satunya ditunjukkan lewat “wang…weng…” memakai kendaraan bermotor seenak udel mereka.

10an tahun silam, semua ini tidak terjadi. Tidak terbayangkan oleh saya yang sudah sejak 2002 mengakrabi Singapura.

“Thirds county peoples at first country”, begitu saya sering membaca istilah untuk menyebut orang-orang yang tiba-tiba hidup hedon setelah punya uang, dan melupakan latar-belakangnya secara radikal. Masyarakat Singapura, secara umum memang tak sip-sip amat. Sifat khas orang Asia, yakni suka pamer – meski sudah berpendidikan tinggi dan cukup lama hidup makmur – masih melekat erat di mereka. Meski, tak separah sifat pamernya orang kaya di Indonesia.

Untungnya saya masih sering menikmati “seteguk air dingin” yang ditunjukkan keluarga-keluarga bule yang tinggal di Singapura. Dengan kepantasan di segala bidang yang terukur, mereka bisa menjadi contoh bagaimana bersikap seperti orang di negara maju.

Soal transportasi misalnya, budaya bersepeda orang bule (Erapa), masih mereka pertahankan ketika tinggal di Singapura. Bukan karena mereka ndak mampu beli mobil. Mengingat, rata-rata bule yang tinggal di Singapura, punya kerja bagus, juga mendapat fasilitas bagus dari perusahaan, termasuk mobil dan rumah. Tapi, saya memperhatikan, banyak di antara mereka yang lebih memilih gaya hidup praktis sehari-hari. Di antaranya memakai sepeda pancal, naik transportasi umum ke tempat kerja, atau tidak memakai pembantu rumahtangga. Saya sering melihat keluarga bule-bule di daerah East Coast atau Orchard -dua daerah elite di Singapura – misalnya, “ngemong” anak-anak mereka sendiri. Atau emak-emak bersama balitanya, belanja segunung barang, dengan bersepeda pancal.

Ibu kawan les bahasa China Zak, anak bungsu saya, yang kebetulan orang Australia, bahkan memodifikasi sepeda pancalnya agar bisa membonceng tiga anaknya sekaligus.

Bagi saya, itu keren. Fenomena ini bisa memberi pelajaran bagi orang-orang Singapura, juga yang membaca tulisan ini, bahwa menjadi “first class people” tidak harus pamer-pameran kekayaan! Tidak harus pamer-pamer gengsi! Menjadi “first class people” tidak harus tinggal di negara maju! Tidak harus lulus universitas tenar! Tidak harus kaya raya dan punya jabatan! “First class people” adalah mereka yang hidup dengan PENUH KEPANTASAN.

(*)

Tags: Air minumBuleSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Singapura Maju karena Sastra?
Singapura

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik
Singapura

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Next Post
Gadis China yang Tidak pernah Pakai Alas Kaki

Gadis China yang Tidak pernah Pakai Alas Kaki

Pintarnya Johor Mendulang Untung dari Singapura

Pintarnya Johor Mendulang Untung dari Singapura

Kucing-kucing Mudik

Kucing-kucing Mudik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Pizza, Burger, Kaviar? Kenapa tak Coba Pisang Goreng?

10 years ago
Merakyatnya Sepakbola di Singapura: Karena sehat dan bersenang-senang itu mahal

Merakyatnya Sepakbola di Singapura: Karena sehat dan bersenang-senang itu mahal

1 year ago
Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

4 weeks ago
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

1 month ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Air minum Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Museum Netizen Opini Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sastra Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Singapura Maju karena Sastra?

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Trending

Dua Bapak dengan Balita mereka
Humaniora

Dua Bapak dengan Balita mereka

by Sultan Yohana
June 21, 2026
0

UDARA Da Nang, Vietnam, Jumat (5/6/2026) siang kemarin begitu teriknya. 34 derajat celcius. Perut kami sedikit keroncongan,...

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

June 17, 2026
Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana