Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Humaniora

Gadis China yang Tidak pernah Pakai Alas Kaki

Review memakai sepatu barefoot selama 1,5 bulan

Sultan Yohana by Sultan Yohana
March 16, 2025
in Humaniora
0
Gadis China yang Tidak pernah Pakai Alas Kaki
0
SHARES
24
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter


ADA rasa tak biasa, ketika Selasa (25/2/2025) pagi, saya mengenakan sepatu lari, hendak jogging. Kok longgar banget? Pikir saya. Padahal sepatu lari saya ikat dengan simpul tali mati sesuai ukuran kaki. Jadi, ndak mungkin berubah sedemikian longgar tanpa sebab. Saking longgarnya, saya sampai harus bundeli lagi simpul tali matinya hingga lebih pendek sekitar satu senti. Sambil berjalan keluar rumah, saya bingung, apa yang terjadi?

Memang sih, nyaris tiga pekan saya stop lari. Itu setelah hamstring saya cedera ketika main bola. Sebetulnya itu persoalan biasa, dan biasanya pula, esok harinya pun saya masih bisa main bola atau jogging lagi. Tapi kali ini cedera cukup parah. Saya stop segala olahraga agar kaki benar-benar pulih. Sabtu kemarin, ketika “terpaksa” main bola, saya memilih jadi penjaga gawang saja. Sabtu itu pula, sebetulnya saya juga sudah curiga, sepatu bola saya rasanya kok sangat kebesaran?!?! Tapi kecurigaan itu tak saya gubris. Saya berpikir, mungkin salah pilih kaos kaki saja.

Pulang jogging, saya perhatikan seksama ini kaki ketika melepas sepatu. Eureka!!! Ada yang berubah dari bentuk telapak kaki saya. Aneh. Hmmm…, telapak kaki saya kini kok jadi agak langsing dan tonjolan urat-uratnya muncul di mana-mana? Jari-jari kaki saya juga lebih tirus. Telapak kaki bagian bawah terasa kian tipis, namun terasa lebih stabil. Perubahan ini, pasti, yang membuat sepatu-sepatu saya serasa longgar. Ketika mandi, saya malah mendapati hal yang lebih mengejutkan, pecah-pecah di tumit yang sebelumnya ada dan banyak (mungkin karena usia an kesukaan jalan kaki), kini nyaris hilang. Kini, tumit saya jadi bagus lagi.

Saya kian bingung, kenapa bisa berubah begini, ya? Atau jangan-jangan, perubahan ini karena saya memakai sepatu barefoot?(sebelumnya saya menulis tentang alas an memakai sepatu barefoot di sini: https://www.facebook.com/photo/?fbid=10162071484998444&set=a.10150109465563444)

Hari ini, memang genap satu setengah bulan saya memakai sepatu jenis barefoot. Rata-rata, tiap hari, saya jalan kaki sekitar 5-8 kilometer. Sebetulnya, tidak ada aktivitas yang berbeda, sebelum atau saat memutuskan memakai sepatu barefoot. Jalan kaki tiap hari, ya, kira-kira sama jauhnya. Saya juga tidak diet atau melakukan apa yang bisa mengubah tubuh saya.

Selain perubahan bentuk kaki, masalah sakit di kedua tumit saya kini sudah hilang. Tinggal sedikit sakit di engkel kanan, serta hamstring yang memang saya dapat dari sepakbola.

Perubahan telapak kaki saya menjadi langsing itu, tiba-tiba mengingatkan saya pada sekeluarga China yang menyewa rumah bibi saya, di dekade 90an. Warga Desa Tawangargo, Karangploso, Malang, yang berusia 40an lebih, pasti tahu tentang keluarga ini. Mereka tinggal di Dusun Leban, menyewa rumah di pinggir jalan raya Karangploso-Batu, dan ketika itu membuka satu-satunya tempat hiburan di desa itu, yakni tempat billiard. Sekaligus warung makan. Saya yang saban liburan sekolah tinggal di rumah bibi, kerap bertemu keluarga ini, karena memang bertetangga.

Sekeluarga China dengan tiga anak itu unik. Bapak-ibunya berperawakan besar, bongsor, sangat kelebihan berat badan. Dua anaknya punya perawakan serupa dengan kedua orangtuanya. Hanya satu, seorang gadis yang kira-kira seusia saya, yang punya penampilan berbeda. Ia langsing dan cantik. Ia berambut panjang. Ia menarik. Sialnya, seumur-umur dia tak pernah memakai alas kaki. Kecuali ketika sekolah; dipastikan kapan pun, entah itu pagi, siang, malam, ia tak pernah pakai sandal, apalagi sepatu. Ke pasar, main di jalan aspal, naik mikrolet, atau lari-lari di sawah, ia tetap tak mau pakai sandal. Satu kali pernah saya melihat, ia berlarian di jalan dusun yang penuh batu-batu tajam, dengan nyamannya tanpa alas kaki. Saya saja, yang juga kerap nyeker, tak senyaman itu lari di atas kerikil-kerikil.

Ibunya pernah bercerita, si gadis memang sudah tak mau pakai alas kaki sejak balita. Kebiasaan itu terus berlangsung hingga ia remaja. Padahal anak-anaknya yang lain tidak ada yang punya kebiasaan demikian.

Di jaman itu, saya sendiri juga lebih gemar tidak pakai alas kaki ketika bermain. Misalnya pergi ke kebun-kebun, sawah, atau main bola di lapangan. Tapi, tetap saja sandal selalu terpakai. Apalagi ketika petang setelah mandi, sandal akan terpakai untuk aktifitas seperti pergi ngaji atau ke musala. Tapi tidak untuk gadis China itu. Bahkan seusai mandi petang pun, ia akan tetap keluar rumah tanpa alas kaki.

Kala itu, bagi saya, gadis China tanpa alas kaki itu adalah sesuatu yang kontradiksi. Apalagi ketika ia bersama seluruh anggota keluarganya. Ia menjadi satu-satunya anggota keluarga yang langsing dan menarik, namun juga sedikit “menjijikkan” karena ketidakmauannya memakai alas kaki. Kakinya “nggedebul” kotor. Padahal ketika itu, saya agak naksir dia. Hehe.

Kembali ke perubahan kaki saya, setelah juga “bertelanjang kaki (bukankah barefoot bisa diartikan bertelanjang kaki)” selama sebulan setengah. Jangan-jangan, karena itu kaki saya berubah menjadi langsing, sebagaimana gadis China yang menyewa rumah bibi saya?!?! Jangan-jangan pula, rahasia orang-orang jaman dulu sehat-sehat, tidak punya penyakit macam-macam, serta panjang umur; karena mereka terbiasa jalan kaki tanpa alas kaki. Nenek saya, Rafiah, yang meninggal sekitar umur 85 tahun, dan nyaris tak pernah sakit macam-macam (kecuali pegel linu dan pusing), juga terbiasa banyak jalan kaki dengan tanpa alas kaki. Kalaupun beralas kaki, biasanya jenis bakiak.

Ayo, rame-rame bertelanjang kaki! Siapa tahu dugaan saya benar, bisa membuat langsing tubuh! Bisa membuat sehat! Tapi tentu saja, syaratnya, bertelanjang kaki dan banyak jalan kaki! Bukan bertelanjang kaki, lalu mapan tidur sambil mentelengin HP.

(*)

Tags: Alas kakiCatatanGadis ChinaSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya
Humaniora

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

September 27, 2026
Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery
Humaniora

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

August 17, 2026
Dua Bapak dengan Balita mereka
Humaniora

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Next Post
Pintarnya Johor Mendulang Untung dari Singapura

Pintarnya Johor Mendulang Untung dari Singapura

Kucing-kucing Mudik

Kucing-kucing Mudik

Aku Musti Belajar dari Nenek Pengemis itu!

Aku Musti Belajar dari Nenek Pengemis itu!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Ketika Sedolar Nilainya Rp13.157

Ketika Sedolar Nilainya Rp13.157

1 year ago

Marhaban Sembako Mahal

15 years ago
Toilet

Toilet

17 years ago
Kisah Sebuah Sepeda Pancal

Kisah Sebuah Sepeda Pancal

3 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

ASN Batam Cara mengajar Catatan Citizen Dollar Efisiensi Fasilitas Foto Gibran Guru Humaniora Indonesia Jatim Koran Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Manajemen Netizen Olahraga Pajak Pedagang Pembaca lansia Pendidikan Pengemis Perpustakaan PNS Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Pembaca Lansia

Jalan Kaki itu Membahagiakan

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Sepeda Pancal

Trending

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya
Humaniora

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

by Sultan Yohana
September 27, 2026
0

TETANGGA samping rumah kami di Ang Mo Kio, Singapura, adalah seorang janda paruh baya, dengan dua anak...

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

September 19, 2026
Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

September 7, 2026
Pembaca Lansia

Pembaca Lansia

September 3, 2026
Jalan Kaki itu Membahagiakan

Jalan Kaki itu Membahagiakan

August 23, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana