Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

Selendang Sutra Rasa Singapura

Sultan Yohana by Sultan Yohana
March 31, 2007
in Singapura
0
0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Lelaki 25-an tahun, begitu usai mengantarkan pesanan saya: seporsi ayam penyet, langsung duduk di bangku plastik di meja lain depan saya. Melanjutkan hisapan rokok lintingan yang ketika melayani pesanan saya tadi diletakkan di antara selempitan kaki-kaki besi meja lipat, kepala lelaki itu menggeleng-geleng ringan. Ritmis dengan hentakan kaki kanannya ke lantai. Selendang Sutra, lagu itu, memang melenakan.

Ini malam hampir di penghujung Jumat (30/3). Sebetulnya, kalau saya berpegang pada waktu setempat, waktu Singapura, beberapa menit lalu, hari Jumat sudah terlewat. Berganti dengan Sabtu (31/3). Tapi entahlah, setiap berada di negeri kota ini, saya tidak pernah mempedulikan waktu setempat. Saya lebih mengikuti waktu Indonesia Barat. Mungkin karena di kepala ini, jadwal kerja tak pernah benar-benar terlupa. Sialnya, saya harus selalu menghitung-hitung jadwal itu dengan WIB.

Lelaki itu masih terlihat melena. Selendang Sutra? Almarhum Ismail Marzuki mungkin bangga, lagu yang diciptakannya tahun 1946 itu, malam ini dinikmati dengan sempurna oleh seorang lelaki muda, bukan WN Indonesia, terlebih di sudut negeri tetangga. Disiarkan oleh radio Singapura lagi. Duh, sialnya Indonesia.

Lima tahun terakhir hidup di Batam, Indonesia, baru malam ini saya berkeroncong Indonesia dengan nikmat. Yang demikian, bukan karena saya penggemar keroncong. Bukan pula saya merindukan keroncong. Tapi semata-mata karena radio-radio di Batam, mulai dari mata memincing hingga memincing kembali, lebih doyan menyiarkan lagu-lagu baru beraroma baru. Yang lebih laku. Tidak salah memang!

Tapi mendengar Selendang Sutra di negeri orang, tiba-tiba memunculkan sentimentil nasionalisme. Apalagi jika mengingat, hidangan yang saya santap ini, sebenar-benarnya makanan Indonesia yang dikomersilkan untuk kemudian pelan-pelan ‘disingapurakan’ – seperti masakan-masakan tradisional dari berbagai daerah dan negara lain yang ironisnya, justru menjadi terkenal di sini – tanpa perlu ijin waralaba.

Ketika hampir seluruh perhatian negeri ini kepada Singapura hanyalah tersoal penyetopan penjualan pasir darat dan granit, sebuah Selendang Sutra dari Indonesia terkhawatirkan lepas tangan. Atau setidaknya terkomersilkan tanpa rakyat Indonesia mendapat apa-apa. Sebagaimana halnya hadiah ultah ke 26 saya dari istri tercinta: sebuah CD berisi foto-foto Singapura (saya saat itu lagi gandrung-gandrungnya dengan fotografi) dan lagu-lagu khas Singapura seharga 18 dolar Singapura. Yang ironisnya, salah satu lagu itu, adalah Bengawan Solo. Tidak ada nama Gesang di keterangan CD itu. Hanyalah kreator CD itu, sialnya lagi, berwarganegara Eropa.

Lelaki 25-an tahun itu buru-buru menyelesaikan hisapan terakhir rokok lintingnya, ketika seorang lelaki Tionghoa minta tambahan sambal. Lagu Selendang Sutra beberapa saat lalu telah tersudahi. Namun channel stasiun radio itu, masih tetap berkeroncong ria.

(yoh)

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Ekon
Singapura

Ekon

February 4, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka
Singapura

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Sepakbola Sederhana!
Singapura

Sepakbola Sederhana!

November 24, 2025
Next Post

Kampung Tua Batam

Antara Kulit Kambing Mella, Apek, dan Pulau Secantik Bidadari

Antara Kulit Kambing Mella, Apek, dan Pulau Secantik Bidadari

Keluarga “Sampah”

Keluarga "Sampah"

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Seperti Artis, Menggunjing Aris

Seperti Artis, Menggunjing Aris

17 years ago
Tuhan yang Semakin “Mahal”

Tuhan yang Semakin “Mahal”

9 years ago

Perempuan yang Kaku Beku

20 years ago
Girang, Sukacita & Riang. Dan Awas Politikus “Lubang Jambang”!

Girang, Sukacita & Riang. Dan Awas Politikus “Lubang Jambang”!

3 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Citizen Dollar Efisiensi Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kedai Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Netizen Opini Pendidikan Pengemis rasa singapura Rupiah Secondary school Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

Keteladanan Lee Kuan Yew

Trending

Ekon
Singapura

Ekon

by Sultan Yohana
February 4, 2026
1

"Ekon". Begitulah orang Singapura melafalkan akronim air conditioning. Pendiri sekaligus perdana menteri paling ikonik Singapura, Lee Kuan...

Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana