Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

Dua Poster Sakit Mental

di kantor perusahaan internasional

Sultan Yohana by Sultan Yohana
April 21, 2024
in Singapura
0
Dua Poster Sakit Mental
0
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter


LIMA ruang kantor itu, meriung di lantai 7 itu. Dinding, atap, semuanya serba putih. Dua ruang masing-masing ruang besarnya sekitar selapangan bola voli; berisi meja-meja berpartisi, dengan masing-masing meja berisi komputer dan seorang pegawai. Ruang satu lagi, masih dengan meja dan komputer, namun didesain seperti labolatorium komputer. Satu ruang sempit untuk rapat. Sementara satu ruang lagi, saya tak bisa mendeskripsikannya, karena tak bisa melongok ke dalamnya.

Koridor sempit memisahkan tiap ruang. Seruang tamu kecil, di tengah-tengahnya, berisi seperangkat meja-kursi; berhadap-hadapan dengan pantri yang menyediakan aneka minuman. Tidak banyak hiasan di kantor itu. Boring. Terlalu sederhana untuk kantor sebuah perusahaan besar beromzet triliunan, yang mengendalikan nyaris semua jaringan kabel fibre seantero Singapura. Satu pot bunga di dekat pantri, seolah tidak memberikan efek apa-apa. Dari semua itu, perhatian saya justru tersedot pada dua poster yang ditempel di dinding koridor. Ketika Selasa (6/2), mengasisteni sesi foto bos-bos sebuah perusahaan tekhnologi plat merah Singapura. Satu poster berisi daftar nomor telepon darurat bagi orang-orang yang menghadapi masalah mental. Sebelahnya, poster peringatan tentang tanda-tanda orang yang terkena sakit mental.

Kenapa di dinding kantor dipasang hal yang berhubungan dengan sakit mental? Ini tidak biasa? Pikir saya.

Tinggal sedekade lebih di Singapura, memberi pemahaman cukup bagi saya, bahwa orang Singapura yang tak pernah melakukan hal nonsense. Dua poster itu, tentu saja bukan sekedar pengumuman gaya-gayaan yang tidak bermakna apa-apa. Saya tiba-tiba ingat cerita karib saya, Lim, tentang keponakannya yang bekerja sebagai IT, dan tiap hari harus menelelan enam biji Panadol untuk meredakan sakit kepala dan stresnya. Saya tiba-tiba ingat instruktur yoga istri saya, yang bunuh diri terjun dari lantai 13. Tiba-tiba saja saya terbayang wajah tetangga saya, yang menangis di depan saya sembari menceritakan masalah pribadinya, padahan namanya saja saya tak tahu. Tiba-tiba juga muncul wajah anak tetangga sebelah rumah, seorang pengacara muda yang sukses, namun untuk sekedar bermain bola saja – satu hal yang menjadi kegemaran dia – kini tidak lagi bisa ia lakukan. Terakhir saya ketemu si pengacara, rambutnya mulai rontok, perutnya membuncit, padahal usianya belum lagi 30an.

Sebesar itu kah hal yang harus dipertaruhkan seseorang untuk mengejar kesuksesan? Dua poster berisi peringatan masalah mental yang tertempel di koridor sebuah kantor perusahaan tekhnologi itu; dengan mudah memberi gambaran betapa besarnya tekanan stres yang luar biasa pada para pegawai-pegawainya. Dan itu sangat berbahaya!

Saya pernah menjadi orang kantoran, tentu saja! Dan sejujurnya, itu bukan pengalaman yang menyenangkan. Saban sore sehabis ngantor, saya seolah-olah kehilangan tenaga. Lemas, malas, dan enggan ngapa-ngapain. Rasa lelahnya, bahkan jauh melebih rasa lelah setelah bermain bola. Bedanya, capek bermain bola itu sehat dan membuat hati gembira.

Tapi beruntung bagi saya. Di Batam, saya punya banyak kawan. Begitu selesai kerja, saya bisa ngajak siapa saja nongkrong sambil ngopi. Atau nonton film, makan malam sambil ngebir di pinggir pantai, atau banyak lain kegiatan menyenangkan yang dengan mudah melibatkan kawan-kawan. Kegiatan-kegiatan yang bisa dengan mudah menghilangkan stres dan beban kerja.

Di Singapura juga. Dengan mudah saya bisa mengajak kawan atau anggota keluarga untuk sekedar jogging bersama, mapun hiking keluar-masuk hutan. Pergi tahlilan ke masjid dekat rumah. Atau motret jalanan, berkunjung ke museum dan pameran seni, atau sekedar bersama istri hunting makanan-makanan khas dari warung-warung lama yang sudah mulai langka. Ada banyak hal, sebetulnya, yang bisa kita lakukan, untuk sekedar menghilangkan stres. Hal-hal yang seringkali sederhana, dan tak membutuhkan biaya.

Tapi, saya tahu, tak banyak orang Singapura seberuntung saya.

1 dari 10 remaja di Singapura, menderita gangguan kesehatan mental. Ini adalah salah satu dari hasil surve yang dilakukan Kementrian Kesehatna Singapura (MOH). Survei yang dirilis pada 27 September 2022 silam itu, dibuat untuk melacak kesehatan, faktor risiko, dan praktik gaya hidup penduduk Singapura berusia 18 hingga 74 tahun. Dari Juli 2021 hingga Juni 2022. Survei yang melibatkan 8 ribu orang dewasa melalui wawancara rumah tangga, dan 9 ribu orang dewasa lainnya, diwawancarai lewat pemeriksaan kesehatan. Temuan survei lainnya menunjukkan, ada peningkatan jumlah penderita gangguan mental, dari 13,4 persen pada tahun 2020, menjadi 17 persen pada tahun 2022.

Masyarakat Singapura usia antara 18 hingga 29 tahun, adalah mereka yang memiliki peningkatan jumlah angka kesehatan mental buruk tertinggi, yakni sebesar 25,3 persen. Prevalensi pada kelompok usia lain jauh lebih rendah, berkisar antara 10,5 persen pada kelompok usia 60 hingga 74 tahun. Pada kelompok usia 30 hingga 39 tahun, hanya ada di angka 19,4 persen. Survei itu juga mencatat, perempuan lebih banyak menderita gangguan mental (18,6 persen), dibanding laki-laki (15,2 persen).

Angka-angka di atas, jelas sangat mengkhawatirkan. Terutama pada peningkatan gangguan mental yang dialami masyarakat usia 18-29 tahun. Usia di mana seharusnya seseorang justru berada pada tingkat bahagia yang maksimal. Tapi sekali lagi, dua poster yang ditempel di kantor perusahaan tekhnologi yang saya ceritakan di awal, justru bisa memberi petunjuk, karyawan-karyawan mereka yang rata-rata berusia muda, adalah pihak yang paling rentan terkena gangguan mental.

Pertanyaannya? Kenapa hal demikian bisa terjadi? Kenapa terjadi justru di sebuah negara kaya raya? Terjadi pada masyarakatnya punya tingkat pendidikan yang baik? Fasilitas lengkap? Terjadi pada warga yang pemerintahnya adil serta mensejahterakan?

Jawabannya sederhana: karena hidup mereka tidak seimbang!

(*)

Tags: PosterSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Ekon
Singapura

Ekon

February 4, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka
Singapura

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Sepakbola Sederhana!
Singapura

Sepakbola Sederhana!

November 24, 2025
Next Post
Pria dengan Arloji Rp400 juta

Pria dengan Arloji Rp400 juta

Banyak Sama Sistem Pendidikan Singapura-Indonesia

Banyak Sama Sistem Pendidikan Singapura-Indonesia

Masjid Khadijah, di Geylang

Masjid Khadijah, di Geylang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Jenggot dan Kolojengking Goreng

10 years ago
Anakku Biar Jadi WN S’pore Saja

Anakku Biar Jadi WN S’pore Saja

19 years ago
Spore: Resep Jitu Stop Merokok

Spore: Resep Jitu Stop Merokok

14 years ago
Antara Kulit Kambing Mella, Apek, dan Pulau Secantik Bidadari

Antara Kulit Kambing Mella, Apek, dan Pulau Secantik Bidadari

19 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Citizen Dollar Efisiensi Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kedai Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Netizen Opini Pendidikan Pengemis rasa singapura Rupiah Secondary school Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

Keteladanan Lee Kuan Yew

Trending

Ekon
Singapura

Ekon

by Sultan Yohana
February 4, 2026
1

"Ekon". Begitulah orang Singapura melafalkan akronim air conditioning. Pendiri sekaligus perdana menteri paling ikonik Singapura, Lee Kuan...

Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana