Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Humaniora

Sepenggal Drama pada Dini hari

Sultan Yohana by Sultan Yohana
August 7, 2005
in Humaniora
0
Sepenggal Drama pada Dini hari
0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Suatu malam menjelang dini yang cerah. Di warung mie rebus depan masjid raya, Nasirun bercerita pada saya. Katanya, matahari siang sekarang, jauh lebih ramah dibandingkan dengan aparat pemerintah. Lho?

“Semua kebijakan sepihak! Ratusan ribu orang, diberangus pekerjaannya, sementara pemerintah sama sekali tidak mencarikan penggantinya.” Terus terang saja, saya sepaham dengan pedagang sate Padang keliling ini. Sekarang, yang lagi ngetrend, pemerintah mengadakan acara berangus memberangus-an. Pedagang kaki lima, judi, prostitusi, calo, dan segenap pekerjaan yang dianggap oleh mereka, mengganggu
pemandangan indah, sebuah kota.

“Intinya, Abang setuju dengan prostitusi dan judi? Juga PKL atau calo?” Tanya saya.

“Kalau dibilang setuju, nanti terjerat pidana! Lebih parah lagi, dikira subversif! Melawan negara! Melanggar undang-undang! Memang sih, sekarang tidak ada culik menculik. Tapi, apalah artinya seorang saya? Apakah setuju atau tidak, bukan masalah!” Mantap juga bahasa bapak satu ini. Mungkin terlalu banyak baca suratkabar atau nonton Liputan 6.

“Yang jelas sekarang, sekilo daging dagangan saya, tidak pernah habis dalam semalam. Dulu, dua kilo ludes tak tersisa,” ia meneruskan keluh kesahnya.

“Empatpuluh ribu sehari, sekarang sudah tidak terkejar! Itu pun masih harus putar-putar cari sewa,” kali ini yang angkat bicara Temiang. Lelaki beranak dua, yang bangga, tapi dulu, menyebutkan profesinya sebagai tukang ojek profesional.

“Ah, lagi-lagi keluh kesah!” potong ibu pemilik warung.
Saya hanya tertawa.

“Apa-apa diberangus! Tapi tidak secuilpun pekerjanya dicarikan kerjaan pengganti. Padahal, berapa puluh ribu yang bekerja menggantung di sana!” Suara Nasirun kembali
membuncah. Malam yang cerah, berangsur-angsur menggigil. Oleh keluh kesah mereka.

“PKL-PKL dipaksa pindah ke tempat sesunyi kuburan! Mana ada yang mau mereka?” Temiang menimpali.

“Pelacur-pelacur ditangkap lalu kerangkeng tanpa tersedia pembalutnya wanitanya!” beber Nasirun. Ibu pemilik warung cemberut. Mungkin mendengar kata pembalut!

“Belum lagi calonya? Orang yang bekerja di tempat judi?” Lagi, Temiang bersuara.

Saya kembali tertawa. Dan mereka kecewa.

“Mak, tiga batang gepe lagi-lah! Bekal sebelum tidur!” Ini teriakan Temiang kepada ibu pemilik warung. Setelah itu, dengan motor bututnya, Ia pun sirna.

Bersamaan itu pula, Nasirun menyeruput kopi di depannya. Sebelum seteguk air hitam itu masuk ke kerongkongannya, terlebih dahulu dicecapnya di mulut. Mungkin menikmati
pahitnya gerunjel bulir-bulir kopi yang tak pernah halus tergerus. Maklum kopi murahan.

“Mamak selalu gembira ketika aku pesan kopi yang pahit,” dedah Nasirun lagi. Seperti tahu apa yang saya pikirkan. Mamak yang dimaksud, ibu pemilik warung, hanya tersenyum. “Ah, kayak tak tahu saja! Harga gula sekarang di atas kantor pemerintah! Tinggiiiii… sekali,” sela ibu pemilik warung.

“Kok, di atas kantor pemerintah, Bu?” Tanya saya.

“Lho-lho…, kantor pemerintah kita kan tinggi sekali! Tujuh lantai lagi! Saya saja belum pernah memasukinya! Tak berani. Katanya angker! Banyak hantunya! Masuk pakek sandal saja tak bisa?! Apalagi pakek celana rombeng? Padahal, tinggal itu yang kita punya! Padahal kan, itu milik kita semua! Padahal lagi, lho… kan, mbangunnya dari uang kita! Pajak dari kita! Kita beli rokok, kena pajak! Naik teksi, ditarik pajak! Nonton bioskop, dipajakin! Makan di warung, masih saja!” Ibu pemilik warung itu nyerocos dengan semangatnya.

“Ohh…” mulut Nasirun melongo.

Saya pun spontan tertawa. Ibu pemilik warung itu juga. Berikutnya Nasirun.

Sebuah lori besar bermuatan batu, lewat di depan kami. Suaranya menggelegar memecah dini. Memecah tawa kami. Menyisakan abu-abu debu di belakangnya.

Kami hirup, kami nikmati, sisa-sisa debu yang beterbangan itu. Berikutnya kami umpati! Tiba-tiba saya teringat pada selarik bait sajak si tua, WS Rendra*

…
kemiskinan yang mengekang
dan telah lama sia-sia cari kerja.
Ijasah sekolah tanpa guna.
Para kepala jawatan
akan membuka kesempatan
kalau kau membuka paha.
…

* Dari Kumpulan Sajak Blues untuk Bonnie; Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta.

Batam, 7/8/05

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya
Humaniora

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

September 27, 2026
Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery
Humaniora

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

August 17, 2026
Dua Bapak dengan Balita mereka
Humaniora

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Next Post
Percakapan Dua Ekor Katak

Percakapan Dua Ekor Katak

Memangnya Saya Siapa?

Memangnya Saya Siapa?

Religion of Sky

Religion of Sky

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Doa yang Melanggar Syariat

Doa yang Melanggar Syariat

4 years ago
Jalan Tol Singapura: Motor Masuk, Tak Perlu Loket

Jalan Tol Singapura: Motor Masuk, Tak Perlu Loket

6 years ago
KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

10 months ago
Singapura Punya Hutan

Kampung (di) Singapura yang Dihutankan Lagi!

6 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

ASN Batam Bebas kendaraan Cara mengajar Catatan Citizen Dollar Efisiensi Fasilitas Foto Gibran Guru Humaniora Indonesia Jatim Koran Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Manajemen Netizen Olahraga Pajak Pedagang Pembaca lansia Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Pembaca Lansia

Jalan Kaki itu Membahagiakan

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Trending

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
Singapura

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

by Sultan Yohana
October 5, 2026
0

SALAH satu hal yang paling saya khawatirkan di era yang sedemikian maju ini, era kecerdasan artifisial (AI),...

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

September 27, 2026
Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

September 19, 2026
Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

September 7, 2026
Pembaca Lansia

Pembaca Lansia

September 3, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana