Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Humaniora

Si Penjual Bintang

Sultan Yohana by Sultan Yohana
October 16, 2005
in Humaniora
0
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Udara sumuk, penuh nyamuk. Pada malam yang cerah, langit berwarna dengan hiasan kemintang. Benderang! Terintip dari celah kaca jendela kamar saya, yang terbuka seperempatnya. Saya merindukan hujan.

Dua orang gaduh, dari kamar sebelah. Tampaknya sedang membenah kamar mereka. Maklum, baru pindah. Ketika saya longokkah kepala tadi, barang-barang mereka berserakan di depan kamar mereka. Saya belum sempat menyapa mereka.

Semoga kecoak-kecoak yang ngendon di kamar mereka, tak eksodus ke kamar saya. Karena kamar saya, tampaknya sudah sesak menampung kecoak. Saya tidak ingin semakin tersiksa dengan udara sumuk, nyamuk, dan ditambah kecoak dari kamar tetangga.

Saya buka jendela lebar-lebar. Angin malam menerpa dan membuat rambut saya berantakan. Sejenak saya menikmati hembusannya dan berusaha mencapai klimaks dengan tarikan-tarikan nafas paling panjang yang saya bisa. Sejenak saya bisa mendapatkannya, sebelum akhirnya tersenggal dengan pemandangan yang begitu mencengangkan. Kemintang yang ada di gelap langit malam, kok, seperti barang-barang dagangan di toko-toko kelontong? Menggantung, berjejar, beraneka rupa warna, beraneka macam bentuk, dan tentu saja beraneka macam harga.

”Sampeyan berani menawar berapa untuk bintang kejora ini?” Lebih mencengangkan lagi, ketika sebuah suara tanpa rupa membuyarkan lamunan saya. Mengagetkan saya. Lebih terperanjat lagi, di depan saya sudah tersodor seonggok bintang dengan kejoranya yang luar biasa terang. Bak intan 340 karat yang diterpa cahaya rembulan. Sungguh indah. Saya longok ke kanan-kiri, namun, tak menemukan, milik siapa suara tadi. ”Untuk benda seindah ini, mungkin seperempat hidup sampeyan cukup berharga sebagai gantinya!” suara itu kembali mengemuka.

Sejenak, saya begitu tertarik untuk memiliki si bintang kejora. Taruhannya seperempat hidup saya? Saya pikir cukup masuk akal untuk memberternya dengan barang sedemikian indah. Jutaan manusia negeri ini, bahkan, mempertaruhkan sepanjang hidupnya, dapatnya cuma selembar kartu kompensasi BBM. Itupun mencairkannya harus dengan susah payah. Padahal itu sudah menjadi hak mereka.

Seonggok bintang kejora? Siapa pula yang meragukan keindahannya? Kehebatannya? ”Kalau saya benar menginginkan ini, lalu bagaimana cara pembayarannya?” Saya tak ingin kehilangan kesempatan pertama. ”Bagaimana kalau saya menawar, sepuluh tahun dari hidup saya?!”

Sejenak saya sadar, saya seperti orang gila, tawar menawar dengan bukan siapa-siapa. Tapi, sungguh, indahnya bintang kejora di hadapan saya, membuat saya bisa melakukan itu.

”Itu harga pas, Mas! Mau ambil atau tidak? Kalau tidak, dalam hitungan sepuluh, bintang itu akan lenyap dari hadapan sampeyan. Pasti sampeyan akan menyesal!” Tambah suara yang tadi. Dan, tanpa banyak kata, saya mengiyakan tawarannya. Saya tandatangani kuitansi jual-beli, dan berikutnya, bintang kejora sudah sah menjadi milik saya.

Saya elus-elus benda berharga itu. Saya bungkus kertas koran, dan saya simpan rapat-rapat. Takut kecoak mengganggunya. Saya pun kemudian menutup rapat-rapat daun jendela kamar saya.

”Tok…tok…tok…” jendela kamar saya terketuk. Saya buka, dan di hadapan saya sudah tersodor seonggok benda yang jauh lebih indah dari bintang kejora yang berhasil saya miliki tadi. ”Seperempat hidup sampeyan, untuk bintang senja yang begitu menakjubkan ini?” bunyi suara yang tadi. Saya menyebutnya suara ghaib penjual bintang. Dan lagi-lagi tanpa banyak tanya, saya mengiyakan, saya tandatangani kwitansi jula-beli, kemudian, bintang senja pun sudah berhak menjadi milik saya. Saya elus-elus benda berharga itu, kemudian saya bungkus kertas koran dan saya simpan rapat-rapat. Takut kecoak mengganggunya. Saya pun kemudian menutup rapat-rapat daun jendela kamar saya.

Wuih…dua buah benda, bintang kejora dan bintang senja sudah menjadi milik saya. Dua benda yang, tentu saja, sangat berharga. Selain indah, menakjubkan, mahal harganya, tentu saja tidak semua orang bisa mendapatkannya. Orang yang kerja banting tulang tiap hari, kepala jadi kaki kaki jadi kepala, belum tentu bisa mendapatkan dua benda yang begitu indah ini. Setengah hidup saya, cukup layaklah, coi…

Sebelum saya picingkan mata, daun jendela saya kembali diketuk. Saya buka, dan kini di hadapan saya, sudah menampak rangkaian belasan bintang. Lebih indah, lebih menakjubkan, lebih melenakan, dari dua benda yang saya sudah saya miliki sebelumnya. ”Kami berikan diskon deh, untuk rasi bintang utara ini, hanya sepuluh tahun dari hidup sampeyan! Ambil atau tidak?” Sudah jelas, saya ambil tawaran itu.

Berturut-turut, kemudian, daun jendela saya terketuk. Berturut turut pula, saya tandatangani kwitansi jual beli, hingga pada pembelian terakhir, sebuah rasi bintang selatan, limit hidup saya sudah tak mencukupi. Berbagai hal paling berharga milik saya, semua sudah saya barterkan. Saya begitu mengingini untuk memiliki benda itu. Untuk terakhir kali, pikir saya. Ketika tawaran saya satu-satunya, harga diri, saya sodorkan, terjadilah kesepakatan.

Kini, saya tidak memiliki apa-apa.

Batam minggu kedua Oktober.

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Dua Karakter Berbeda Orangtua
Humaniora

Dua Karakter Berbeda Orangtua

March 15, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan
Humaniora

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna
Humaniora

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
Next Post

Dia Mengatai Saya Anjing Jalanan

Perempuan yang Kaku Beku

Dua Nenek di Depan Toko Pakaian Dalam

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Catatan dari Singapore Palestine Film Festival 2024

Catatan dari Singapore Palestine Film Festival 2024

2 years ago

Tusuk Gigi, Tissu, dan Toilet

19 years ago
Keluhan Sopir Ompong, & Angkutan Umum di Malang

Keluhan Sopir Ompong, & Angkutan Umum di Malang

9 years ago
Madura dan India. Dan Harga Diri Tinggi Mereka

Madura dan India. Dan Harga Diri Tinggi Mereka

3 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Opini Orang tua Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Berhentilah Mengkritik!

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Trending

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Singapura

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

by Sultan Yohana
March 30, 2026
0

BUS nomor 242 yang membawa saya sore ini (10/2/2026), memasuki kawasan baru. Tengah nama kawasan itu. Sepanjang...

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Dua Karakter Berbeda Orangtua

March 15, 2026
Ekon

Ekon

February 4, 2026
Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana