Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Humaniora

Dua Nenek di Depan Toko Pakaian Dalam

Sultan Yohana by Sultan Yohana
November 12, 2005
in Humaniora
0
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Nenek-nenek itu, dua orang yang tampaknya seusia, berhasil menghibur saya. Seorang yang tubuhnya menjangkung dan jalannya membungkuk dengan topangan tongkat alumunium, seorang lagi pendek gemuk setinggi tak lebih dari tongkat kawannya.

Saat saya menyusur koridor panjang Harbour Front dan belum hilang kedongkolan tersebab interogasi berlebih petugas imigrasi, kedua nenek itu justru asyik di depan etalase toko pakaian dalam. Sama-sama memerhatikan maniken berbalut celana dalam hijau muda dengan bh sewarna. Saya berhenti untuk menguping obrolan keduanya.

”Jangan hijau muda lah, aku rasa akan sangat cocok be ha dan ce de-nya warna gelap. Biar kontras dengan kulit tubuh kita,” si jangkung angkat bicara. Tangan kanannya yang memegang tongkat, bergemetaran.

”Cik, ini bukan jaman selayak kita dulu. Warna-wana gelap tak menarik mata sudah jauh ketinggalan jaman,” kilah nenek rekannya.

”Seandainya kita yang pakai?”
”Seandainya? Maksudmu?”
”Hmmm…,mungkin akan terliha seksi. Seperti iklan di tivi-tivi,”
Si nenek pendek tertawa terbahak. Tubuhnya berguncang-guncang. Terlebih itu perut yang sepenuhnya berisi timbunan lemak. ”Terus, dengan pakaian itu, kita berjemur di Pantai Sentosa.” Giliran tubuh si jangkung yang berguncang karena tawa. Tongkat alumuniumnya terantuk-antuk, mengeluarkan bunyi tuk…tuk…tuk.

Seorang bule wanita paruh baya, yang pantat mungilnya hanya berbalut jins sependek beberapa inci dari garis pantatnya, lewat di depan kedua nenek itu. Dengan langkah tergesa. Memberi senyum paling manis kepada keduanya, ketika hampir saja tubuh kurusnya menubruk si pendek gemuk. ”Sorry,” kata bule itu pendek.

Saya lirik jam pada HP saya. Masih pukul enam petang. Dengan demikian saya masih punya waktu kira-kira setengah jam lagi untuk menguping obrolan kedua nenek itu. Setengah tujuh nanti, saya harus bersegera ke Stasiun Outrum Park. Untuk selanjutnya bertemu dengan kekasih saya.

Sebenar-benarnya memang, obrolan kedua nenek itu menghibur diri saya. Setelah hampir setengah jam antri di pintu imigrasi. Terlebih, tadi, kedongkolan saya sempat memuncak ketika tiga kali berturut-turut petugas imigrasi bertanya, apakah foto di paspor saya? Benar foto itu adalah saya? Atau memang sebenar-benarnya foto saya? ” Bento…Bento…Bento…, sekali lagi asyik…” Jawab saya seraya menirukan bait tembang Bento-nya Iwan Fals.

”Bagaimana dengan yang satu di pojok sana? Sepertinya lebih sopan,” Si jangkung yang ubannya disamarkan dengan cat rambut memerah menunjuk ke maniken yang berdiri di pojok lain. Maniken dengan model wanita bule dengan balutan span bawah merah ngejereng dengan setelan atasnya mini t-short tanpa lengan. ”Cukup bisa menutupi lemak-lemakmu.”

Seketika saya membayangkan keduanya mengenakan pakaian itu. Sambil ongkang-ongkang di tepi pantai yang permai. Di bawah sebuah tenda, memerhatikan lalu lalang muda-mudi berbaju seksi sembari menikmati sebuah kelapa muda. Dan berkhayal, seandainya dunia tak pernah menjadi tua.

”Gemuk tapi seksi lebih baik dari kering kerontang seperti tacik!” Si pendek gemuk menimpali. ”Setidaknya jauh lebih menarik hati.”

Keduanya pun tertawa terbahak. Berkepanjangan. Sampai-sampai orang-orang yang lalu lalang di antara mereka terheran dibuatnya. Tentu saja sambil melempar senyum paling manis ke kedua nenek yang kira-kira sebaya itu. Saya pun melakukan hal yang sama, saat si jangkung berambut merah, melirik saya. Mungkin tersadar, sejak tadi saya memerhatikan mereka. Tapi si jangkung cemberut membalas senyum saya.

Seraya menarik pergelangan kanan kawannya, si jangkung bersegera mengajak si gemuk pendek berlalu dari depan toko pakaian dalam. Atau mungkin menjauh dari saya yang sedari tadi berdiri dua-tiga meter dari keduanya. Sebentar si pendek berusaha meronta menolak ajakan si jangkung. Tapi ketika sebuah isyarat kedipan mata dari rekannya, ia pun kemudian menurut saja.

Tuk…tuk..tuk.., suara ketukan tongkat alumunium pada lantai marmer mahal, ketika keduanya menjauh. Namun, kira-kira sepuluh langkah dari tempat semula, keduanya berhenti lagi. Di sebuah toko pakaian olahraga. Yang lagi-lagi, di etalasenya, terpajang maniken model wanita bule dengan balutan baju renang.

Sekilat, saya bertanya dalam hati. Maniken itu kenapa selalu bermodel orang-orang bule? Bukan semodel Tionghoa atau Melayu, bahkan mungkin Austronesia? Ah, mungkin kita terlalu tidak pede dengan hidung pesek anugerah Illahi ini. Atau standar umumnya memang sudah ditetapkan demikian.

Kali ini saya memilih untuk tidak menguping obrolan mereka.

Batam-Singapura, Minggu kedua November.

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya
Humaniora

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

September 27, 2026
Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery
Humaniora

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

August 17, 2026
Dua Bapak dengan Balita mereka
Humaniora

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Next Post

Lelaki dengan HP Sebesar Kepala Anjing

Jangan Panggil Saya Teroris!!

Idih...., Tante Ingin Berpolitik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Si Kurang Waras di Depan Masjid Abrar

Si Kurang Waras di Depan Masjid Abrar

12 years ago
Spore: Resep Jitu Stop Merokok

Spore: Resep Jitu Stop Merokok

15 years ago
Antoni (us)

Antoni (us)

19 years ago
Covid-19? Orchard Road Masih Sepi

Covid-19? Orchard Road Masih Sepi

6 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

ASN Batam Bebas kendaraan Cara mengajar Catatan Citizen Dollar Efisiensi Fasilitas Foto Gibran Guru Humaniora Indonesia Jatim Koran Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Manajemen Netizen Olahraga Pajak Pedagang Pembaca lansia Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Pembaca Lansia

Jalan Kaki itu Membahagiakan

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Trending

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
Singapura

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

by Sultan Yohana
October 5, 2026
0

SALAH satu hal yang paling saya khawatirkan di era yang sedemikian maju ini, era kecerdasan artifisial (AI),...

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

September 27, 2026
Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

September 19, 2026
Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

September 7, 2026
Pembaca Lansia

Pembaca Lansia

September 3, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana