KETERSEDIAAN “etalase publik”. Ini adalah salah satu keuntungan dari bagusnya sebuah kota membangun transportasi publik mereka. “Etalase publik”, yang secara sengaja bisa diakses ratusan ribu, bahkan jutaan tiap hari, dan dengan itu, memberi begitu banyak potensi peluang keuntungan materi maupun fungsi sesial bagi negara/pemerintah daerah.
“Etalase publik” dengan sendirinya muncul dari terbangunnya stasiun kereta, halte, terminal bus, atau armada transportasi itu sendiri. Di tembok-tembok stasiun atau terminal. Di badan bus atau kereta itu sendiri. Di sepanjang jalan tempat masyarakat mengakses transportasi publik; semua berpotensi menjadi ladang atau sumber keuntungan. Bisa untuk dipasangi iklan. Bisa untuk iklan layanan masyarakat. Bisa untuk mengedukasi. Bahkan, di Singapura, beberapa “etalase publik” dipakai untuk memamerkan karya seni seperti foto, lukisan, maupun seni instalasi. Ruang-ruang lain yang tercipta juga bisa disewakan untuk usaha.
Transportasi publik yang bagus, tidak hanya menyediakan layanan angkutan massal yang bagus. Lewat “etalase publik”, juga akan tercipta ruang pembelajaran masyarakat yang bagus. Dari interaksi sosial yang intens di antara pengguna transportasi publik, kepedulian dan pembelajaran sosial mereka terasah. Belajar antri. Belajar memberi tempat duduk kepada yang membutuhkan. Belajar berkomunikasi atau ngobrol dengan orang asing. Belajar memperhatikan detail. Inspirasi-inspirasi bermutu juga kerap bermunculan dari interaksi itu.
Pemimpin, seniman, pemuka agama yang hebat, tidak lahir dari ketekunan mereka hanya berkutat di bangku sekolah atau tekun membaca buku semata. Mereka lahir dari ketekunan belajar serta keseksamaan memperhatikan ruang sosial. Di mana saja ruang sosial itu, termasuk di “etalase publik” yang tercipta dari transportasi publik, di pasar-pasar, di tempat-tempat nongkrong, dls.
Bukankah Alquran telah menegaskan, salah satu ciri kekasih Allah, rasul-nya, adalah kebiasaannya pergi ke pasar. Alquran tidak menyebut majelis pengajian!
Catatan foto: sebuah iklan layanan masyarakat terdisplai di stasiun mrt Woodland, Singapura, foto diambil pada 12 Februari 2026.
(*)












