Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas

Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah

Sultan Yohana by Sultan Yohana
February 15, 2023
in Catatan Lepas
0
Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Suatu hari, enam tahun silam, gigi saya nyeri-nyeri. Sementara saya tinggal di Singapura, saya tidak bisa langsung ke dokter gigi karena dokter gigi saya jauh di Batam. Begitu kesempatan nyebrang ada, begitu di depan dokter gigi saya langsung ngomong; “dok, tolong dicabut lima gigi saya sekaligus!”

Si dokter bingung. Geleng-geleng. Dan, tentu saja menolak.

Saya ngotot. Dokter juga ngotot menolak. Tapi ketika itu saya bersikeras, saya merasa yang paling tahu tubuh saya ketimbang si dokter. Ini gigi-gigi, satu-satunya cara untuk tidak nyeri-nyeri lagi, ya harus dicabut. Saya tak mempertimbangkan hal-hal lainnya. Saya hanya ingin tidak lagi nyeri-nyeri gigi. Titik!

Memang, belakangan itu, saya sering nyeri sakit gigi. Usut punya usut, karena saya ketika itu keseringan berolahraga. Otot yang terlalu stress, kemudian membuat otot-otot lelah, tegang, dan berefek pada gigi. Kadang juga merembet menjadi sakit kepala. Setelah benar melakukan olahraga, plus pijit rutin sebagaimana saran seorang kawan yang berprofesi sebagai personal training instructor, nyeri-nyeri itu berkurang banyak, dan gigi saya tidak lagi pernah nyeri-nyeri.

Kembali ke dokter gigi. Setelah debat panjang, plus melakukan X-ray, dll, dokter menyerah. Menuruti permintaan saya. Tapi ia mau mencabut empat gigi sekaligus. Gigi-gigi yang sebetulnya masih sangat sehat. Tapi ya itu tadi, KESOKTAHUAN serta kengototan saya, itu yang membuat saya pada akhirnya menyesali keputusan “brutal” itu. Gigi saya jadi ompong. Kegiatan mengunyah terganggu. Ujung-ujungnya, ada rasa malu dan tidak percaya diri ketika ngobrol membuka mulut.

Setelah itu, saya memutuskan membuat gigi palsu. Habis Rp2.5 juta. Tapi tidak nyaman, dan itu gigi tak pernah saya pakai lagi. Mau pasang gigi permanen, mahalnya naudzubillah. Ndak mampu keuangan saya.

Setiap kali gosok gigi, saya terus saja menyesali keputusan “brutal” itu. Membodoh-bodohi diri sendiri. Tapi, pada akhirnya, saya kepikiran, ngapain berlarut-larut menyesal, tokh semuanya sudah terjadi. Kenapa ndak milih mencari “hikmah” lain dari keputusan bodoh itu?! Mencari hal-hal lebih positif?!

Dan ya, saya akhirnya bisa menemukannya:

Dengan gigi ompong, saya KINI selalu berusaha membatasi diri untuk tidak banyak bicara. Ya itu tadi, karena rasa malu dan tak percaya diri punya gigi-gigi ompong. Setiap kali ngomong dengan orang lain, saya berusaha ngomong secukupnya. Membuka mulut sekecil-kecilnya. Tentu saja, untuk menutupi keompongan saya.

KOndisi yang memang tidak nyaman sekali.Tapi, lama-kelamaan, rasa malu itu berubah menjadi rasa syukur. Ketika saya tidak banyak ngomong, saya tidak banyak KESELEO lidah. Tidak banyak ngelantur. Tidak banyak berbohong. Tidak banyak ngoceh-ngoceh ngawur. Pada akhirnya, saya harus bersyukur, gigi ompong “menghindarkan” saya dari bahayanya lidah.
(silat) Lidah itu betul-betul berbahaya. Apalagi di jaman Youtube ini. Di jaman setiap orang punya HP yang bisa merekam kesalahan-kesalahan lidah kita saat berbicara. Ustad-ustad, kyai-kyai, penceramah-penceramah; atau siapa pun mereka yang profesinya mengandalkan “silat lidah”, seringkali terpeleset oleh kesalahan lidah mereka sendiri. Anda pembalap mobil, resiko terbesar tentu kecelakaan dengan mobil. Begitu juga Anda yang mencari uang dengan “jualan” lidah. Lidahlah potensi terbesar yang bisa mendatangkan resiko dan bahaya.

Kerapkali, mereka gagal mengendalikan lidah mereka. Apalagi ketika di hadapan banyak orang yang khusuk mendengar omongannya. Di hadapan umatnya, di hadapan jamaahnya; lidah-lidah itu seakan terus saja meronta untuk sehebat mungkin bisa membuat pengagumnya kian kagum. Sekalipun kata-kata kotor atau kebohongan yang keluar dari itu mulut, mereka tidak peduli. Di MOMEN itu, biasanya, di kepala para penceramah, yang penting orang yang mendengar omongannya, tergakum-kagum.

Mereka, BIASANYA selalu merasa malu dianggap bodoh! Hingga, terus saja mereka bersilat lidah untuk menyembunyikan keterbatasan pengatahuan mereka. Hingga…, pada satu titik, ketika bahan pembicaraan habis, terpelesetlah lidah mereka.

Mereka yang gagal menjaga lidah, jelas salah. Tapi, bagi saya, kita yang kerap memberhalakan mereka-mereka, memuji-muji mereka setinggi langit, sama salahnya. Karena “penyembahan” kita lah, mereka jadi manusia-manusia kurang ajar! Di Kitab Suci kita, banyak sekali mengingatkan bahayanya bersilat lidah, sekaligus tidak memberhalakan manusia.

Gigi ompong, ternyata bermanfaat juga! Hehe.

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Ekon
Singapura

Ekon

February 4, 2026
Berhentilah Mengkritik!
Indonesiaku

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka
Singapura

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Next Post
Sepatu Puma Palsu dan Orang Singapura yang Impulsive Shopper

Sepatu Puma Palsu dan Orang Singapura yang Impulsive Shopper

Girang, Sukacita & Riang. Dan Awas Politikus “Lubang Jambang”!

Girang, Sukacita & Riang. Dan Awas Politikus "Lubang Jambang"!

Madura dan India. Dan Harga Diri Tinggi Mereka

Madura dan India. Dan Harga Diri Tinggi Mereka

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Mikroskop di Pameran Lukisan

Mikroskop di Pameran Lukisan

1 year ago
Harmoni Babi Hutan dan Prata India

Harmoni Babi Hutan dan Prata India

11 years ago
Si Fleksibel Panasonic Lumix DMC-ZS100/TZ100/TZ110

Si Fleksibel Panasonic Lumix DMC-ZS100/TZ100/TZ110

5 years ago
Media Sosial dan Jaman Fitnah (bagian I)

Media Sosial dan Jaman Fitnah (bagian I)

1811 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Citizen Dollar Efisiensi Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kedai Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Netizen Opini Pendidikan Pengemis rasa singapura Rupiah Secondary school Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

Keteladanan Lee Kuan Yew

Trending

Ekon
Singapura

Ekon

by Sultan Yohana
February 4, 2026
1

"Ekon". Begitulah orang Singapura melafalkan akronim air conditioning. Pendiri sekaligus perdana menteri paling ikonik Singapura, Lee Kuan...

Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana