Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

Tapis yang tak Lagi Gratis

Sultan Yohana by Sultan Yohana
February 14, 2010
in Singapura
0
Tapis yang tak Lagi Gratis
0
SHARES
9
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

ACARA piknik kami sepekan lalu di Pantai Changi “diganggu” oleh kemunculan pendekar bakau. Si pendekar itu, dengan keperkasaannya yang sulit dimiliki kebanyakan orang Singapura – bahkan yang rutin fitnes sekalipun – memanggul sejala besar tapis. Saya taksir mungkin beratnya mencapai 50-an kilo. Tapi, seolah tak ada sedikitpun rasa berat meraut di wajahnya.

Kulit pria paruh baya itu benar-benar legam karena seringnya terbakar matahari. Topi warna kuning yang menutup kepalanya tak mampu menyembunyikan sebagian kecil ujung-ujung merah rambut ikalnya yang juga terlalu sering dibakar matahari. Bahkan dua betisnya yang kurus namun liat, masih belepotan lumpur bakau ketika lewat di depan kami duduk nyante di pasir berwarna coklat yang kami alasi tikar pandan.

Berjalan dengan ringan seolah tak ada beban di pundaknya. Begitu sampai di paviliun peristirahatan yang berada sekitar sepuluh meter dari kami duduk, sejala besar tapis itu kemudian dilemparkan begitu saja. Seorang wanita Melayu – saya kira istrinya – kemudian mengeluarkan tapis yang sudah steril dari lumpur, kemudian membagi-bagikannya ke dalam beberapa kantong plastik, dan meletakkan begitu saja di lantai paviliun. Si pendekar bakau kemudian melepas baju, duduk nyante di kursi plastik, dan kemudian mengeluarkan rokok. Asap yang dibakarnya segera lenyap disambar angin laut yang siang itu berhembus cukup kencang.

Tapis adalah sejenis kerang bercangkang lunak yang gampang ditemukan di lelumpuran hutan bakau di pinggir pantai. Mirip seperti kerang namun dagingnya lebih lembut, teman yang paling nikmat melahap tapis rebus adalah dengan dicocolkan begitu saja pada sambaljeruk. Sekali cocol, segarnya bisa bikin kita ndak mau berhenti.

Dan si pendekar bakau yang saya maksudkan tadi adalah pencari tapis yang mumpuni. Terbukti sejala besar tapis berhasil dipanen di siang yang terik itu. Dari beberapa belas plastik berisi tapis yang telah dibagi-bagi tadi, si wanita yang membagi itu kemudian mengangkatnya satu per satu ke pinggir pedestrian. Menunggu siapa pun pengunjung Pantai Changi yang ingin membeli tapis segar tersebut.

Saya kemudian menghampiri. Oleh seorang pria yang ketika itu tengah ngobrol dengan si wanita penjaja, saya berusaha diyakinkan bahwa tapis yang dijual kawannya sungguhlah segar dan nikmat jika dimasak. ”Ayo…, ayo…, enam dolar saja! Lima dolar pun jadilah kalau kau beli dua,” ia menggoda saya.

Saya sempat tergoda, namun istri saya meyakinkan bahwa tapis itu akan sia-sia sesampainya di rumah karena tidak ada yang bisa masak. Tapi godaan saya yang lebih besar muncul ketika tiba-tiba saya menangkap ketakutan yang tergambar di raut wajah si penjual, juga si pendekar bakau, ketika seorang rekannya yang lain – ibu paruh baya bertubuh besar, datang dan menyodorkan koran Berita Harian edisi hari itu. Tapi, rasa ingin tahu saya ketika itu sirna ketika Ken, anak saya, datang dan menarik saya untuk diajak bermain.

Rasa penasaran saya akan perubahan raut muka para pedangang tapis terobati ketika pulang dari piknik, saya masuk ke toko serba ada. Saat menunggu si kecil pilih-pilih makanan saya sempat melirik headline Berita Harian. Dan ternyata hari itu, headline yang diangkat koran berbahasa Melayu itu adalah larangan pemerintah Singapura atas penangkapan tapis. Melindungi ekosistem adalah alasan utama pelarangan itu. Dendanya jika melanggar? Berkisar antara 5.00 hingga 2.000 dolar Singapura. Dan tiba-tiba saja saya merasa begitu benci dengan negeri istri dan anak saya ini.

Tiba-tiba saja saya membayangkan tapis yang menjadi wabah, sebagaimana halnya burung-burung jalak dan burung dara yang kehadirannya di Singapura bahkan lebih banyak membawa masalah ketimbang keindahan. Sebanyak apa pun tapis yang bisa diambil si pendekar bakau itu, tak akan sehebat kepunahan yang ditimbulkan oleh pembangunan. Oleh reklamasi besar-besaran. Sebagaimana kerusakan yang sudah terjadi di Batam.

Tapis kini, sudah tak bisa didapat gratis oleh si pendekar bakau.

sultanyohe@yahoo.com

Foto tapis, by my.

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli
Singapura

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

July 23, 2026
Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura
Singapura

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

July 12, 2026
Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Next Post
Mbah Satiman, Kearifan Indonesia

Mbah Satiman, Kearifan Indonesia

Welcome to Our Kampong!

$6.6 Billion Bonanza

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Pagi yang Nyaris Sempurna

Pagi yang Nyaris Sempurna

8 months ago

Kisah Cinta Dua Singa (7)

18 years ago
Kuburan Paling Instagrammable in Singapore

Kuburan Paling Instagrammable in Singapore

5 years ago

labuh

21 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Alas kaki Anak Batam Cara mengajar Catatan Dollar Efisiensi Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Museum Netizen Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Sastra Sepakbola Sepatu jogging Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Sepeda Pancal

Dua Bapak dengan Balita mereka

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Singapura Maju karena Sastra?

Trending

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery
Humaniora

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

by Sultan Yohana
August 17, 2026
0

BEBERAPA pekan lalu, saya datang ke sebuah toko grosir battery di daerah Toa Payoh, Singapura. Ini toko,...

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

July 23, 2026
Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

July 12, 2026
Sepeda Pancal

Sepeda Pancal

July 1, 2026
Dua Bapak dengan Balita mereka

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana