Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Humaniora

Dua Karakter Berbeda Orangtua

yang sederhana atau "petarung" yang tak mau kalah

Sultan Yohana by Sultan Yohana
March 15, 2026
in Humaniora
1
Dua Karakter Berbeda Orangtua
0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

HARI Minggu (18/1/2026) lalu, saya bersama istri menemani Zak menerima penghargaan pelajar teladan. Sekaligus uang saku $500 dari pemerintah. Acara digelar di Kebun Baru CC (kayak kantor kecamatan), tanpa ba-bi-bu, si wakil rakyat di daerah pemilihan kami, Henry, mewakili pemerintah, membuka acara dengan bercerita soal geopolitik dunia.

Bercerita soal perang Ukraina-Rusia yang entah kapan berakhir, serta kemungkinan Amerika terus berulah: memerangi banyak negara. Atau China yang maju-mundur mengurusi Taiwan. Ya, semua masalah dunia itu, memang sangat berpengaruh bagi Singapura. Negeri kecil yang kini kami tinggali ini, kebutuhan ekonominya memang sangat tergantung pada impor dari negara lain. Karena itu, apa pun persoalan geopolitik dunia, sangat sensitif bagi Singapura.

Bathin saya, apa hubungan acara penyerahan penghargaan siswa berprestasi tingkat SD dan SMP, dengan urusan geopolitik dunia? Ya, begitulah politikus. Selalu punya cara untuk menyelipkan secuil propaganda, secuil rasa ngeri, secuil kekhawatiran, dan tentu saja semua itu untuk kepentingan politiknya. Saya memang tidak pernah bisa mempercayai politikus – kecuali Gus Dur nyel! BTW, yang paling menarik perhatian di acara itu bukan si wakil rakyat. Melainkan orangtua-orangtua yang datang menemani anaknya menerima penghargaan.

Ada sekitar 30an siswa yang memperoleh penghargaan. Dan nyaris semuanya datang ditemani orangtua. Beberapa bahkan membawaserta kakek-nenek dan handai-taulan. Seusai pidato singkat tadi, satu per satu keluarga datang ke stage untuk berfoto dengan si wakil rakyat. Satu per satu, saya perhatikan gaya dan penampilan para orangtua itu. Memperhatikan pemilihan busana, garis-garis wajah mereka, cara berbicara, gestur tubuh,sopan-santunnya. Hmmm, nyaris semua orangtua punya “selera” serupa: berpenapilan sederhana namun terlihat selalu awas pada apa pun. Apa adanya, namun terlihat cerdas dan bernas. Tidak saya lihat ada ibu-ibu yang berpenampilan seronok, merah merekah, atau seksinya provokatif. Tidak saya jumpai bapak-bapak yang rapih jali sambil berwibawa menjaga reputasi. Wakil rakyat kami, yang memakai dasi tanpa jas, justru yang paling terlihat parlente di antara semua yang datang. Beberapa dari kami, lelaki – termasuk saya – bahkan memakai celana pendek saja.

Bathin saya, mungkin para orangtua itu, tak lagi sempat atau terlalu mengurusi diri sendiri, karena Waktu mereka tersita banyak untuk anak-anaknya. Karena itulah, anak-anaknya pintar-pintar, menjadi pelajar teladan. Jenis orangtua-orangtua yang tidak merelakan anak-anak mereka diurus pembantu, dan memilih mengurus sendiri segala keperluan si anak.

*

Hari Senin Minggu (18/1/2026) siang, saya punya janji ketemu orang di Shenton Way. Di Marina One Tower, sebuah Gedung perkantoran paling mentereng di Singapura. Ndilalah, pas jam makan. Mak mbrudul, seperti laron, ketika saya sampai para pekerja kantoran itu berbondong keluar mencari makan. Sebagaimana kebiasaan saya yang gemar memperhatikan manusia-manusia dan apa pun di sekitar saya, nyaris semua jenis orang yang saya temui di sana, berbeda 180 derajat dari orangtua-orangtua murid teladan di hari sebelumnya. Garis-garis wajah mereka, para pekerja kantor ini, keras dan penuh ambisi. Provokatif dan kepandaian dan pendidikan tinggi mereka, begitu mudah terlihat dari pemilihan pakaian, serta cara bicara mereka. Karakter “petarung” yang tak pernah mau kalah atau rugi dari situasi manapun.

Uniknya, selain berkarakter “petarung” para pekerja kantor itu, banyak yang “berwajah letoi” seperti budak yang tak punya apa pun kuasa, dan terlalu capek bekerja di bawah tekanan. Orang-orang yang tak punya pilihan. Orang-orang, yang dengan mudah memutuskan: anak-anak mereka dijaga para pembantu, atau sekalian dititipkan saja ke student care. Persetan berapa pun duit yang mereka habiskan. Anak-anak, yang bisa jadi nantinya akan jadi anak pintar dan berprestasi, namun minim empati, manja dan rusak permanen.

Menjadi orangtua memang teramat sangat tidak mudah sekali! Kita bisa memilih “mengorbankan” diri untuk mengurusi anak-anak sewaktu kecil, atau membiarkan anak-anak kita memberi masalah kelak ketika kita sudah tidak bisa apa-apa lagi. Kita bebas memilihnya.

(*)

Catatan foto: gedung-gedung perkantoran di Shenton Way, saya jepret 19/1/2026.

Tags: AnakOrang tua
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum
Humaniora

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan
Humaniora

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna
Humaniora

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
Next Post
Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Tidak Ada "Kota Hantu" di Singapura

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

"Etalase Publik": yang lahir dari transportasi publik

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Comments 1

  1. Pingback: Dua Karakter Berbeda Orangtua - GoWest.ID

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Pintarnya Johor Mendulang Untung dari Singapura

Pintarnya Johor Mendulang Untung dari Singapura

1 year ago
Ketika Walikota Dahlan “Dicari” Ayu Ting Ting

Ketika Walikota Dahlan “Dicari” Ayu Ting Ting

15 years ago
Sepotong Dialog Ayah-anak

Sepotong Dialog Ayah-anak

15 years ago

Tirakat Kang Parno*

21 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Air minum Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Etnis Fasilitas Foto Gadis China Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Malang Malaysia Mudik Netizen Opini Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rupiah Sastra Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan
No Result
View All Result

Highlights

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Ekon

Berhentilah Mengkritik!

Trending

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

by Sultan Yohana
May 27, 2026
0

SETIAP hari di blok kami, di Ang Mo Kio Avenue 4, seorang kurir paket online, dengan ratusan...

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

May 3, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana