Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Humaniora

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Sultan Yohana by Sultan Yohana
August 17, 2026
in Humaniora
0
Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BEBERAPA pekan lalu, saya datang ke sebuah toko grosir battery di daerah Toa Payoh, Singapura. Ini toko, tempat saya biasa mencari batre-batre kamera dagagan, yang kadangkala soak atau ndak ada. Sehari sebelumnya, lewat on-line marketplace milik si toko, saya berkabar tentang jenis batre, ketersediaan, dan apakah saya bisa segera datang mengambil. Tanpa menunggu lama, semua pertanyaan saya terjawab. Esoknya, batre saya ambil.

Toko grosirnya penuh “kedamaian”. Meski grosir, semua barang tertata rapih, dan memudahkan siapa saja konsume menemukan benda yang mereka cari. Ketika saya datang, hanya ada satu pegawai yang melayani konsumen. Pria berkacamata berusia 25an tahun.

Begitu datang, dan menyebut nomor HP saya, ia segera mengambil pesanan saya yang sudah disiapkan. Bayar lewat kartu, semua beres tak sampai dua menit. Semua beres dengan satu orang, dan satu komputer di mejanya.

Sebagai pelanggan, data saya, pesanan, dll, memang sudah tersimpan di database mereka. Karena itulah, dia minta nomor HP, dan segera setelahnya, semua beres. Invoice dls, semua berupa data elektronik yang tersimpan di komputer mereka.

Ini berbeda dengan toko grosir batre di daerah Ubi yang saya datangi Selasa (4/8) pagi ini. Begitu masuk toko, mata saya langsung dihadapkan pada pemandangan yang ruwet: apa saja berserak. Empat meja buruk dengan masing-masing komputer, dengan empat orang tua yang pengoperasikannya. Bagian depan toko yang sekaligus kantor, full berisi kotak-kotak invoice hingga sundul ke langit-langit. Tak jarang-kotak-kotak itu, diselipkan ke space-space kosong di mana saja ruangan yang tersisa. Hingga terkesan berantakan sekali.

Ketika saya datang, seorang perempuan 60an tahun datang pada saya. Bertanya nomor order, ia segera mengeceknya di komputer, begitu saya menyebut nomor yang diminta. Sehari sebelumnya, lewat email, saya diinformasikan bisa mengambil batre langsung di sana.

Mereka terlihat tergopoh-gopoh. Seperti belum disiapkan. Satu orang masuk ke dalam, ke gudang penyimpanan, dan sepuluh menit kemudian keluar dengan kabari tidak menyenangkan: “Kami tidak ada stok di toko ini. Harus meminta cabang lain mengirimkan ke sini”. Kata-katanya ini membuat saya langsung hilang selera.

“Kira-kira kapan saya bisa mendapatkan batrenya? tanya saya.

“Mungkin esok. Tapi yang jelas, saya akan mengkonfirmasi Anda lewat email jika sudah siap,” jawabnya. Padahal, saya butuh itu batre sesegera mungkin.

“Anda belum membayar, bukan?” kawannya yang lain, seumuran, menimpali. Saya buka HP, mencari bukti pembayaran, dan segera menyodorkan padanya. ” Saya sudah membayar kemarin,” jawab saya. Ia hanya mengangguk-angguk pasrah.

Tak ingin berdebat lama, saya menawarkan diri untuk datang sendiri ke toko cabang yang punya stok. Ia terlihat gembira. Tapi, katanya, “sebentar, saya siapkan dulu surat-suratnya, serta bukti pembayaran”. Ia kemudian ngeprint selembar kertas, ewek-ewek-ewek…, lima menit kemudian kertas-kertas itu disodorkan pada saya. “Anda tunjukkan ini ke toko cabang kami di Sim Lim,” jelasnya menyebut tempat toko cabang.

Ribet sekali!

Di toko cabang tempat saya mengambil batre, saya masih disodori dua kertas yang harus saya tandatangani. Oalahhh…, bathin saya, ribetnya ndak nyucuk dengan harga batre yang cuma $9.66 dolar. Makan siang saya hari ini saja, masih lebih mahal, yakni, $11 dolar.

Dua pengalaman saya di atas, bisa menggambarkan perbedaan yang begitu besar antara toko yang diurus dengan manajemen tua, versus manajemen muda. Padahal, dua-duanya menjual barang serupa. Dua-duanya pula berada di Singapura. Perbedaan yang begitu mempengaruhi efisiensi, waktu, tempat usaha, kenyamanan pelanggan, serta banyaknya karyawan yang dipekerjakan.

Manajemen muda, dengan memanfaatkan tekhnologi yang ada, menang segalanya. Sementara manajemen tua, mirip birokrasi Indonesia, yang tak hanya komplek, rumit, mahal, dan menjengkelkan, namun juga TAK MASUK di AKAL manusia modern seperti ssya; kenapa di jaman semaju ini, masih ada pihak yang sengaja memelihara kerumitan yang demikian menyusahkan semua orang.

Birokrasi komplek!!!

Orang-orang yang suka mempersulit orang lain itu, mungkin tak pernah membaca Kitab Suci. Tak tahu, bahkan Gusti Allah saja, menyukai dan memerintahkan memudahkan segala macam urusan.

(*)

Catatan foto ilustrasi: salah satu ikhtiar agar hidup kita bisa terasa lebih masuk akal, yakni dengan menyediakan waktu membaca buku, sambil bersantai di pantai, dan menyeruput sebiji kelapa muda.

Tags: BatamManajemenSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Dua Bapak dengan Balita mereka
Humaniora

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan
Humaniora

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

June 17, 2026
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum
Humaniora

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Nyetrit dengan Zeiss 24mm

Nyetrit dengan Zeiss 24mm

1811 years ago
Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

4 weeks ago
Hitam-putih di Waduk Macritchie

Hitam-putih di Waduk Macritchie

10 years ago
Anak “Jaman Sekarang”

Anak “Jaman Sekarang”

10 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Alas kaki Anak Batam Cara mengajar Catatan Dollar Efisiensi Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Museum Netizen Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Sastra Sepakbola Sepatu jogging Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Sepeda Pancal

Dua Bapak dengan Balita mereka

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Singapura Maju karena Sastra?

Trending

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery
Humaniora

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

by Sultan Yohana
August 17, 2026
0

BEBERAPA pekan lalu, saya datang ke sebuah toko grosir battery di daerah Toa Payoh, Singapura. Ini toko,...

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

July 23, 2026
Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

July 12, 2026
Sepeda Pancal

Sepeda Pancal

July 1, 2026
Dua Bapak dengan Balita mereka

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana