BEBERAPA pekan lalu, saya datang ke sebuah toko grosir battery di daerah Toa Payoh, Singapura. Ini toko, tempat saya biasa mencari batre-batre kamera dagagan, yang kadangkala soak atau ndak ada. Sehari sebelumnya, lewat on-line marketplace milik si toko, saya berkabar tentang jenis batre, ketersediaan, dan apakah saya bisa segera datang mengambil. Tanpa menunggu lama, semua pertanyaan saya terjawab. Esoknya, batre saya ambil.
Toko grosirnya penuh “kedamaian”. Meski grosir, semua barang tertata rapih, dan memudahkan siapa saja konsume menemukan benda yang mereka cari. Ketika saya datang, hanya ada satu pegawai yang melayani konsumen. Pria berkacamata berusia 25an tahun.
Begitu datang, dan menyebut nomor HP saya, ia segera mengambil pesanan saya yang sudah disiapkan. Bayar lewat kartu, semua beres tak sampai dua menit. Semua beres dengan satu orang, dan satu komputer di mejanya.
Sebagai pelanggan, data saya, pesanan, dll, memang sudah tersimpan di database mereka. Karena itulah, dia minta nomor HP, dan segera setelahnya, semua beres. Invoice dls, semua berupa data elektronik yang tersimpan di komputer mereka.
Ini berbeda dengan toko grosir batre di daerah Ubi yang saya datangi Selasa (4/8) pagi ini. Begitu masuk toko, mata saya langsung dihadapkan pada pemandangan yang ruwet: apa saja berserak. Empat meja buruk dengan masing-masing komputer, dengan empat orang tua yang pengoperasikannya. Bagian depan toko yang sekaligus kantor, full berisi kotak-kotak invoice hingga sundul ke langit-langit. Tak jarang-kotak-kotak itu, diselipkan ke space-space kosong di mana saja ruangan yang tersisa. Hingga terkesan berantakan sekali.
Ketika saya datang, seorang perempuan 60an tahun datang pada saya. Bertanya nomor order, ia segera mengeceknya di komputer, begitu saya menyebut nomor yang diminta. Sehari sebelumnya, lewat email, saya diinformasikan bisa mengambil batre langsung di sana.
Mereka terlihat tergopoh-gopoh. Seperti belum disiapkan. Satu orang masuk ke dalam, ke gudang penyimpanan, dan sepuluh menit kemudian keluar dengan kabari tidak menyenangkan: “Kami tidak ada stok di toko ini. Harus meminta cabang lain mengirimkan ke sini”. Kata-katanya ini membuat saya langsung hilang selera.
“Kira-kira kapan saya bisa mendapatkan batrenya? tanya saya.
“Mungkin esok. Tapi yang jelas, saya akan mengkonfirmasi Anda lewat email jika sudah siap,” jawabnya. Padahal, saya butuh itu batre sesegera mungkin.
“Anda belum membayar, bukan?” kawannya yang lain, seumuran, menimpali. Saya buka HP, mencari bukti pembayaran, dan segera menyodorkan padanya. ” Saya sudah membayar kemarin,” jawab saya. Ia hanya mengangguk-angguk pasrah.
Tak ingin berdebat lama, saya menawarkan diri untuk datang sendiri ke toko cabang yang punya stok. Ia terlihat gembira. Tapi, katanya, “sebentar, saya siapkan dulu surat-suratnya, serta bukti pembayaran”. Ia kemudian ngeprint selembar kertas, ewek-ewek-ewek…, lima menit kemudian kertas-kertas itu disodorkan pada saya. “Anda tunjukkan ini ke toko cabang kami di Sim Lim,” jelasnya menyebut tempat toko cabang.
Ribet sekali!
Di toko cabang tempat saya mengambil batre, saya masih disodori dua kertas yang harus saya tandatangani. Oalahhh…, bathin saya, ribetnya ndak nyucuk dengan harga batre yang cuma $9.66 dolar. Makan siang saya hari ini saja, masih lebih mahal, yakni, $11 dolar.
Dua pengalaman saya di atas, bisa menggambarkan perbedaan yang begitu besar antara toko yang diurus dengan manajemen tua, versus manajemen muda. Padahal, dua-duanya menjual barang serupa. Dua-duanya pula berada di Singapura. Perbedaan yang begitu mempengaruhi efisiensi, waktu, tempat usaha, kenyamanan pelanggan, serta banyaknya karyawan yang dipekerjakan.
Manajemen muda, dengan memanfaatkan tekhnologi yang ada, menang segalanya. Sementara manajemen tua, mirip birokrasi Indonesia, yang tak hanya komplek, rumit, mahal, dan menjengkelkan, namun juga TAK MASUK di AKAL manusia modern seperti ssya; kenapa di jaman semaju ini, masih ada pihak yang sengaja memelihara kerumitan yang demikian menyusahkan semua orang.
Birokrasi komplek!!!
Orang-orang yang suka mempersulit orang lain itu, mungkin tak pernah membaca Kitab Suci. Tak tahu, bahkan Gusti Allah saja, menyukai dan memerintahkan memudahkan segala macam urusan.
(*)
Catatan foto ilustrasi: salah satu ikhtiar agar hidup kita bisa terasa lebih masuk akal, yakni dengan menyediakan waktu membaca buku, sambil bersantai di pantai, dan menyeruput sebiji kelapa muda.











