Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Tentang Aku

Anak “Jaman Sekarang”

Sultan Yohana by Sultan Yohana
February 13, 2017
in Tentang Aku
0
Anak “Jaman Sekarang”
0
SHARES
66
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

: Karena anak kita bukan kita.

Seperti umumnya anak “jaman sekarang”, kedua anak kami, Ken dan Zak, juga senang iPad, gemar berselancar internet, juga hobi main game. Dan sudah menjadi tabiat “anak internet”, emosi keduanya cepat naik, tidak sabaran, serta jarang memberi perhatian pada sekelilingnya. Hal-hal yang kadang memunculkan kekhawatiran saya.

Tapi bagaimanapun, dunia maya, massif manfaatnya. Kita tidak seharusnya LUPA, dan kudu memberi APRESIASI yang tinggi, anak-anak “jaman sekarang pintar-pintar, cepat belajar; tiba-tiba saja mereka bisa mengenal huruf. Tiba-tiba bisa membaca, bisa menulis, serta sanggup tahu tentang isu-isu mutakhir. Siapa menduga, Ken, sudah cukup bisa membicarakan Donald Trump, presiden USA yang kontroversi itu.

“Saya tak akan memilih presiden yang rasis (menunjuk pada Trump),” katanya satu malam ketika kami bersantai di ruang keluarga. Kesempatan seperti ini, langsung saya manfaatkan untuk menjelaskan soal rasisme, soal hakikat perbedaan, soal fitrah keberagaman. Soal ke-Tuhanan. Bagi saya pribadi, menyenangkan sekali, mengetahui anak berumur 10 tahun sudah paham tentang rasisme, menyadari tentang bahayanya rasis. Dan semua itu dia tahu dari internet.

Awalnya, sebagai bapak yang hampir sepanjang hari menghabiskan waktu dengan mereka, saya khawatir dengan semua yang berbau game, internet, HP pintar, tablet, maupun komputer. Saya sempat membatasi secara ketat akses anak-anak terhadap benda-benda itu. Tapi, sebagai orang yang banyak “bekerja” dengan internet, akhirnya saya HARUS menyadari. Dunia telah berubah begitu cepatnya!

Apalagi saya tinggal di Singapura, negara yang begitu “mendewakan” tekhnologi. Begitu tergantung pada tekhnologi. Hampir semua aspek kehidupan di sini, tekhnologi berbasis on-line telah diterapkan. Naik bus, meli makan di warung, butuh tekhnologi internet. Beli kolor di Carousell juga. Bayar ini-itu dengan butuh tekhnologi on-line, bahkan sebagian cara belajar si Ken pun, kini telah disesuaikan dengan tekhnologi. Sebagaian pekerjaan rumahnya, telah dialihkan ke on-line.

Fakta ini kemudian “membenturkan” saya pada dua pilihan: apakah akan membawa anak-anak ke dalam aturan “Korea Utara” atau “USA”. Pilihan yang sulit memang, tapi bagaimanapun, harus memilih salah satunya. Pada akhirnya, saya memang harus memilih pilihan terakhir. Meskipun efek yang akan datang, juga tak kalah bahayanya, tapi saya tidak ingin menjadi orangtua yang “tidak tahu diri”. Yang memaksa “ikan hidup di gurun pasir”. Meski harus mengawasi ketat dan selalu waspada pada perubahan perilaku anak-anak. Pada akhirnya saya membolehkan kedua anak saya bermain dan mengakses internet dengan baik. Meski, tentu saja, masih ada batasan dan waktu yang kami tetapkan. Serta memberi “keamanan ekstra” pada iPad atau komputer yang biasa mereka mainkan.

Dan, memang butuh begitu banyak tenaga dan kreatifitas untuk terus membuat anak “bergerak” dan sedikit melupakan “dunia on-line” mereka saban hari. Saya biasa memilih berkegiatan luar ruang, menyediakan banyak mainan alternatif sebagai pengganti, melibatkan diri dalam kegiatan sehari-hari. Bahkan kini, saya kerap mengajak anak-anak “berbisnis” dengan ikut saya ketika saya bertemu dengan pembeli/penjual untuk bertransaksi. Kegiatan ini, sungguh, sebagai orangtua, sangat menguras tenaga. Capek sekali, dan tidak menyenangkan. Anda bisa bayangkan, saya saban hari harus duduk, memelototi, dan ikut bermain mobil-mobilan dengan Zak di lantai. Ikut serta masih dalam imajinasi anak-anak. Atau pura-pura kembali menjadi anak-anak, adalah salah cara saya untuk tidak bosan ketika Ken atau Zak mengajak saya bermain mobil-mobilan atau perang-perangan.

Mahal? Ya benar! Membeli sebuah mobil-mobilan tak jarang harganya jauh lebih mahal ketimbang membeli game on-line yang bisa didownload hanya dengan beberapa sen saja. Tapi begitulah dunia. Seaidainya keluarga kami tinggal di desa di kota asal saya di Singosari, Malang; mungkin ceritanya akan beda. Anak-anak saya mungkin akan saya ajarkan trik-trik  mancing belut, membuat perapian untuk membakar singkong curian di tegalan. Atau mengajarkan menangkap udang dengan tangan, juga keahlian memanjat pohon agar bisa memetik buah-buahan liar yang biasa tumbuh di pinggir-pinggir tegalan untuk bermain sekaligus mencukupi nutrisi/vitamin tubuh.

Tapi, saya tidak lagi tinggal di desa!

Kita harus menyadari, dan menerima, anak “jaman sekarang” berbeda banget dengan anak “tempoe doeloe”. Tentu sangat tidak BIJAKSANA, kalau kita membandingkan dua dunia itu, apalagi memaksakan “cara lama” serta menganggap semua yang ada di masa silam adalah lebih baik ketimbang jaman sekarang. Setiap jaman ada sisi baik sekaligus sisi jahatnya. Tergantung bagaimana kita menyerap sebanyak mungkin sisi baik itu, serta menangkal sebisa mungkin sisi buruknya.

Salah satu hal TERKERAS yang saya ajarkan pada kedua anak saya adalah, “kebiasaan meminta maaf” sekecil atau seremeh apa pun sebuah kejadian. Minta maaf kepada siapa pun, di manapun. Karena saya sadar, “jaman sekarang” meski sederhana, tapi kata MAAF sungguh sangat sulit dilakukan. Padahal kata ini, begitu “saktinya”; sanggup meruntuhkan sebesar apa pun kebencian, jika permintaan maaf dilakukan secara tulus tanpa tendensi.

Anak kita bukan kita! Jaman saya dan jaman anak saya jelas beda!

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Sepeda Pancal
Tentang Aku

Sepeda Pancal

July 1, 2026
Merencanakan Pensiun
Tentang Aku

Merencanakan Pensiun

November 1, 2023
Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah
Tentang Aku

Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah

April 30, 2023
Next Post
Mencintai Pengemis

Mencintai Pengemis

Keluhan Sopir Ompong, & Angkutan Umum di Malang

Keluhan Sopir Ompong, & Angkutan Umum di Malang

Terimakasih Tiga Generasi

Terimakasih Tiga Generasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Beberapa Jenis Lapar

Beberapa Jenis Lapar

9 years ago
Bagaimana Jika Rejekimu Datang Setahun Sekali?

Bagaimana Jika Rejekimu Datang Setahun Sekali?

2 years ago
Bagaimana Bersekolah di SMP Orchid Park Seperti Gibran?

Bagaimana Bersekolah di SMP Orchid Park Seperti Gibran?

5 hours ago
Sepatu Puma Palsu dan Orang Singapura yang Impulsive Shopper

Sepatu Puma Palsu dan Orang Singapura yang Impulsive Shopper

4 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

ASN Batam Cara mengajar Catatan Citizen Dollar Efisiensi Etalase publik Fasilitas Foto Gibran Guru Humaniora Indonesia Jatim Koran Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Manajemen Netizen Olahraga Pajak Pedagang Pembaca lansia Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Pembaca Lansia

Jalan Kaki itu Membahagiakan

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Trending

Bagaimana Bersekolah di SMP Orchid Park Seperti Gibran?
Singapura

Bagaimana Bersekolah di SMP Orchid Park Seperti Gibran?

by Sultan Yohana
October 16, 2026
0

KASUS ijazah SMA Gibran ini, benar-benar menyita perhatian banyak pihak. Seorang kerabat saya di Malang, bahkan, nyempat-nyempatin...

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

October 5, 2026
Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

September 27, 2026
Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

September 19, 2026
Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

September 7, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana