Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Kultur

Kisah dalam Sepiring Char Kway Teow: dan perbedaan melangit antara dolar dan ringgit

Sultan Yohana by Sultan Yohana
July 12, 2024
in Kultur
1
Kisah dalam Sepiring Char Kway Teow: dan perbedaan melangit antara dolar dan ringgit
0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

KARENA masih terbawa nuansa “Pulau Penang”, sekembalinya dari sana, saya minta ke istri untuk cari char kway teow. Yang enak ya! Pesan saya pada istri, setidaknya seperti di kedai yang kami kunjungi di Penang. Bukan char kway teow ala Singapura yang terasa tebal, berat, dan dominan kecap hitam itu. Saya ingin char kway teow yang ringan tapi lezat seperti di Penang. Senin (17/6) siang itu, bini kemudian mengajak saya ke Penang Culture, kedai makan di sebuah mall di daerah Serangoon yang bersertifikat halal.

Sulit mencari char kway teow halal di Singapura. Beberap bulan lalu, saya sempat makan char kway teow halal di daerah Bukit Merah yang bereputasi “wah” karena penjualnya mantan chef hotel berbintang, dan seorang China yang muallaf. Tapi saat makan, rasanya biasa saja.

Di Culture Penang, Senin itu, saya memesan char kway teow dan es cendol. Bini pesan kway teow kuah dan white coffee dikit gula. Hmm, boleh juga, bathin saya ketika sendok pertama char kway teow masuk ke mulut. Tapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan char kway teow yang saya nikmati di Penang sebelumnya. “Rasanya masih terasa berat, terlalu asin, dan kurang seimbang,” saya mengungkapkan pendapat saya soal rasa char kway teow pada istri.

Di Penang, sepekan sebelumnya, kami menemukan sebuah kedai di sebelah kantor pemerintah Penang, yang ramai. Pengelolanya seorang Tionghoa muda yang ramah. Kedai buka sebentar saja, dari jam 8 pagi hingga 3 siang. Hari berikutnya, ketika kami datang lagi pada jam 3.15 sore, ia tidak mau melayani kami. Kedai tutup. Saya kecewa sekaligus gembira. Orang Tionghoa di Penang, bisa kerja nyante, bisa lebih menikmati hidup. Tidak kerja ngoyo sampai kaki jadi kepala, kepala jadi kaki; sebagaimana saudara-saudaranya di negeri tetangga. Saya kemudian berkunjung ke kedai sebelah, alhamdulillah kami masih diterima. Tapi seperti kedai char kway teow yang tutup, kedai itu juga segera tutup begitu kami selesai makan.

Orang China Penang memang terkenal agak nyante.

Ketika itu, kami berdua masing-masing memesan char kway teow, secangkir kopi putih, dan es cendol. Total habis 21 ringgit. Jika di Singapurakan dengan kurs sekarang, cuma S$6 untuk semua makan dan minuman yang kami berdua nikmati. Gila, pikir saya! Makanan senikmat ini, harganya cuma $6 dolar. Di Singapura, dengan uang segitu, Anda mungkin cuma bisa beli nasi ayam yang rasanya tidak ke mana-mana, serta secangkir kopi.

Kurs dolar Singapura ke ringgit yang mengkuat hingga menembus 3.5 kali, memang membuat apa-apa hal di Malaysia terasa murah bagi orang Singapura. Sopir Grab yang mengantar kami ke Bandara Penang, Jumat lalu bercerita, betapa beruntungnya orang Singapura, yang kurs duitnya begitu perkasa. Bisa beli apa saja ketika pelesir ke Malaysia. Pendapat sopir Grab itu memang tidak salah. Tapi, sebagai penduduk Singapura, saya merasa penguatan kurs dolar Singapura terhadap ringgit Malaysia tidak berpengaruh banyak di kehidupan sehari-hari. Harga sayur, buah-buahan, atau apa pun yang diimpor dari Malaysia, tetap mahal, bahkan kini terasa lebih mahal. Padahal, impor Singapura dari Malaysia nilainya mencapai 13.21 persen dari total impor keseluruhan. Hanya kalah 0,22 persen dari impor China ke Singapura. Seharusnya, secara teori kurs, saat ini, masyarakat Singapura bisa mendapatkan bahan pokok lebih murah.

Saya tak tahu kenapa? Kurs dolar menguat dari nilai mata uang negara-negara tetangga, tapi harga-harga kebutuhan tetap saja tinggi. Bahkan setengah tahun terakhir ini, terasa kian naik. Itu mungkin karena semua kebutuhan di Singapura, diimpor. Harus didatangkan dari negara lain. Ini berbeda dengan Malaysia, misalnya, yang bisa memenuhi segala kebutuhan mereka dari produk lokal. Tidak perlu impor.

Beginilah kenyataan hidup di kota yang tak punya apa-apa. Semua-semua tergantung negara lain. Semua-semua didatangkan dari luar. Semua-semua mahal. Berbahagialah Anda yang bisa memanen apa pun kebutuhan pangan dari kebun Anda sendiri.

Kembali ke kedai Culture Penang. Saya harus membayar S$35 untuk semua makanan yang kami berdua nikmati. Harga yang sebetulnya wajar untuk makanan Singapura. Namun kami baru pulang dari Penang, dan hanya membayar 21 ringgit atau S$6 untuk menu makanan serupa. Perbedaan bak langit-bumi yang membuat saya ingin berteriak sekeras-kerasnya pada dunia, “jiancuukkkkkk….”

Sepiring char kway teow bisa menjelaskan pada kita, bagaimana keras dan mahalnya kehidupan di Singapura. Sepiring char kway teow di Singapura, bisa menjelaskan pada kita, bahwa Anda dilarang hidup bermalas-malasan di sini! Anda dilarang boros! Anda dilarang hidup penuh gengsi!

Kalau sudah begini, masih Anda bermimpi ingin tinggal di Singapura? Sebaiknya batalkan saja!

Keterangan foto: seporsi char kway teow yang saya nikmati Senin kemarin di Culture Penang.

(*)

Tags: MalaysiaPenang
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan
Kultur

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

September 19, 2026
Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal
Kultur

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

November 21, 2025
Eror “White Balance” Mata!
Kultur

Eror “White Balance” Mata!

October 22, 2025
Next Post
“Ketika Pulang dengan Sepatu Bersih”

"Ketika Pulang dengan Sepatu Bersih"

Mikroskop di Pameran Lukisan

Mikroskop di Pameran Lukisan

Cara Sederhana Singapura Melawan Gratifikasi

Cara Sederhana Singapura Melawan Gratifikasi

Comments 1

  1. Pingback: Kisah dalam Sepiring Char Kway Teow - BatamBuzz

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Ah Meng dan Lubang Jalan

Ah Meng dan Lubang Jalan

19 years ago

Ningsih dan Gaji Dolarnya

19 years ago
Begini Kebiasaan Orang Asli Singapura di Eskalator

Begini Kebiasaan Orang Asli Singapura di Eskalator

6 years ago

Remember Me

21 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Batam Bebas kendaraan Cara mengajar Catatan Citizen Dollar Efisiensi Fasilitas Foto Gibran Guru Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Koran Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Manajemen Media Netizen Olahraga Pajak Pedagang Pembaca lansia Pendidikan Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Pembaca Lansia

Jalan Kaki itu Membahagiakan

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Trending

Melatih Bola, Melatih Menghadapi Manusia
Bolaisme

Melatih Bola, Melatih Menghadapi Manusia

by Sultan Yohana
October 26, 2026
0

"SEMAKIN saya belajar (banyak) tentang bola, semakin saya belajar tentang kemanusiaan," sembari menjabat tangan pelatih Aidil, saya...

Bagaimana Bersekolah di SMP Orchid Park Seperti Gibran?

Bagaimana Bersekolah di SMP Orchid Park Seperti Gibran?

October 16, 2026
Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal

October 5, 2026
Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

Seorang Janda dan Dua Anak Lelakinya

September 27, 2026
Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

September 19, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana