SAYA ndak mudeng, di mana susahnya menjaga tubuh tetap langsing? Sepengalaman saya cukup mudah. Juga tidak butuh usaha sekeras tukang gali lubang pinggir jalan. Atau seketat cara hidup biksu petapa. Ada tiga cara mudah yang saya lakukan, untuk tetap menjaga tubuh saya tetap berbaju dan bercelana S (atau M), bahkan ketika usia saya kini 48, dan kegemukan terasa begitu mudahnya terjadi pada saya (jika tidak disiplin saya jaga).
PERTAMA, yang saya lakukan adalah mendengarkan tubuh saya dengan seksama. Dengan sejujur saya bisa. Kalau tubuh saya lapar, ya makan. Kalau kenyang, ya, berhenti makan. Kalau capek, tidur. Kalau otot pegal-pegal, ke tukang pijit. Kalau otak sudah tegang, ya, berhenti mikir, dan segera mencari penghiburan/pengalih perhatian. Misalnya dengan nonton film, baca, atau sekedar cuci mata jalan-jalan ke hutan atau mana saja Anda suka. Persoalan yang tidak bisa dipecahkan, saya akan melupakannya. Ngapain mikir sesuatu yang tak bisa kita selesaikan?
Oh ya, jangan pelit pada diri sendiri untuk membeli makanan/minuman terbaik yang bisa Anda konsumsi. Saya sendiri mempercayai idiom “tubuh kita adalah apa yang kita makan”.
Memastikan semua hal di paragraf kedua benar-benar saya jalankan, adalah hal penting kedua yang saya percaya berperan penting dalam menjaga tubuh saya tetap langsing. Setiap yang berlebihan, apa pun itu, saya percaya, itu selalu saja merusak. Setiap pikiran yang stres, pelampiasan paling mudah biasanya dengan makan atau minum minuman yang melezatkan (biasanya minuman manis-manis). Seorang tetangga saya di S’pore, yang baru saja bercerai karena suaminya selingkuh, tubuhnya menjadi melar dengan cepat gara-gara mikir masalahnya berlebihan. Meski dari perceraian itu, dia mengantongi duit 420 ribu dolar hasil rumah mereka yang menjadi hak dan dijualnya.
Ketiga, berolahraga dengan gembira. Saya tak mau berlebihan dalam hal ini, dan terpenting, saya tak pernah membuat target apa-apa. Mengalir. Sebisanya. Tak ikut-ikutan tren. Agar olahraga bisa mendarah-daging, dan menyatu dengan kegiatan sehari-hari. Agar kegiatan ini bisa terus saya lakukan dengan hati gembira. Dengan olahraga, saya bahkan tak berharap punya tubuh yang langsing seperti sekarang ini.
Saya juga tidak ingin punya tubuh kekar macam Rambo. Dua sepupu saya, kakak-beradik Farid dan Nur, pernah “hilang bentuk” setelah berhenti total dari kegiatan body-building. Tubuh keduanya yang semula begitu keren, dengan cepat amburadul karena berhenti nge-gym, namun konsumsi kalori yang sebelumnya besar karena dipakai nge-gym, tidak dikurangi/hentikan secara bersamaan.
Saya memilih Latihan ringan, dikit-dikit, namun terus menerus tanpa terbebani. Di rumah misalnya, saya seraki rumah dengan banyak barbel, pegas tangan, raket padel, atau memasang tiang monkey bar di kusen pintu kamar. Agar sambil nonton tivi saya bisa angkat barbel. Atau kalau lagi boring kelamaan di depan komputer, saya bisa main tablek-tablek-an padel melawan dinding. Habis sholat, saya pun bisa pull-up tiga-empat-lima kali saat keluar kamar. Akan tidur, saya sempatkan sit-up 10 atau 20 kali, tergantung mood.
Cara saya ini sangat membantu untuk terus mengingatkan diri sendiri, untuk selalu bergerak. Untuk terus menjaga otot tanpa perlu pergi ke gym atau meluangkan waktu khusus berolahraga. Jogging kini sangat saya kurangi. Seminggu paling satu atau dua kali, dengan rata-rata lari cuma 3 kiloan saja. Karena, jujur, ini kegiatan boring sekali.
Tapi, main bola, memang masih terus saya lakukan dan itu memakan waktu khusus. Seminggu bisa dua hingga tiga kali. Bersama kawan-kawan sebaya, atau bahkan lebih tua. Saya melakukan ini, karena saya benar-benar sangat menyukai olahraga ini. Bermain bola, selain dapat sehatnya, juga kumpul banyak orang dengan berbagai latarbelakang dan negara berbeda. Saya bisa belajar banyak hal dari perbedaan yang saya temui di kawan-kawan bola.
Di Spore, penghobi bola membentuk grup-grup on-line yang dengan mudah bisa mendapatkan informasi, kapan dan di mana bisa main. Tidak eksklusif. Siapa saja, bahkan yang belum kenal, bisa gabung, dan langsung ikut main. Hampir tiap hari, ada saja ajakan main bola. Kawan bola saya, mulai dari produser film hingga tukang antar paket, ada. Dari asisten juru masak asal Myanmar, hingga bisnismen asli Mali, ada. Dari “pengangguran” seperti saya, pekerja kasar, hingga bankir yang kepalanya sudah botak meski usianya baru menginjak kepala tiga, juga ada. Mereka berlatarbelakang etnis dan negara berbeda. Ada yang Melayu, China, Jepang, bule, Myanmar, Brazil, semua tumplek blek bersama.
Saya juga suka sensasi setelah main bola. Tiap kali meraba perut sehabis bal-balan, saya merasa ini perut begitu rata. Meski engkel dan lutut semriwing karena kerja terlalu berat.
Tiga cara “nyante” ini, setidaknya mampu menjaga tubuh saya, yang bulan lalu genap 48 tahun, tetap langsing dan enak diajak gerak. Saya masih bisa lari secepat orang-orang yang usianya 10-15 tahun lebih muda dari saya. Semua itu saya lakukan tanpa ribet, tanpa mahal, tanpa diet ketat, tanpa menyiksa diri, tanpa makan/minum suplemen/vitamin khusus. Tanpa pergi ke gym, bahkan tanpa perencanaan apa pun.
(*)











