Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

“See u next time, Mr Lee”

Sultan Yohana by Sultan Yohana
March 28, 2015
in Singapura
0
“See u next time, Mr Lee”
0
SHARES
4
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

: Terimakasih atas pilihan Anda!

Anda pilih mana:
1. Negara yang “katanya” demokratis; bisa berdemo menuntut apa saja, boleh berteriak apa saja, menulis apa saja, merusak apa saja; namun wakil rakyat dan pemerintahnya TULI, tak punya malu, suka korupsi, dan bahkan sudah benar-benar salah pun tak pernah minta maaf.
2. Negara yang “katanya” otoriter; namun wakil rakyatnya tiap minggu membuka tangan, mendengar setiap keluhan warganya, dan langsung bereaksi. Pemerintahnya, tak perlu menunggu hingga muncul belasan korban tewas karena lubang jalan, begitu retak saja, jalan langsung diperbaiki, kebutuhan hidup dibuat stabil.

Lee Kuan Yew sadar, saat lepas dari Malaysia 1965, ia “mewarisi” Singapura yang tercabik-cabik oleh rasisme antara Melayu-China, Singapura yang kumuh dan penuh begundal pemadat, Singapura yang sungai-sungainya seperti lautan sampah, dan rakyatnya yang barbar, dengan seenak udel mereka membuang sampah. Rasisme dan disiplin/mentalitas, adalah dua hal yang terlebih dulu DIURUS Lee, karena dua inilah sumber daya paling hebat yang dimiliki Singapura. Bukan minyak, hutan, gunung emas, atau laut yang luas. Lee mengungkapkan, Singapura adalah “masalah” bagi bangsa di sekelilingnya, dan karena itu Singapura harus benar-benar menjadi mandiri. Saya suka kalimat yang sempat dipopulerkan Anies Basdewan, yang senada dengan cara pandang Lee atas Singapura; “Kekayaan terbesar sebuah bangsa, adalah manusianya.”

Lee, satu kali dalam pidato kenegaraannya tidak menyangkal Singapura dibuat maju karena otoritas mutlaknya. Ia mengungkapkan, ia melihat di banyak negara; menggelar PEMILU dengan biaya yang luar biasa besar, namun yang didapat justru WAKIL RAKYAT dan PEMIMPIN berkualitas JOROK, yang bahkan untuk cebok saja, rakyatnya yang diminta melakukannya. Singapura, kata Lee, tidak ingin demikian. Ia meminta rakyatnya percaya pada dirinya, bahwa ia akan melakukan apa pun yang terbaik untuk Singapura. Saya mempercayai Lee, bukan karena omongan dan janji yang ia ucapkan: tapi segala bukti yang telah ia berikan; termasuk untuk masa depan dua anak saya yang WN Singapura.

Saya mempercayai pilihan Lee, pria yang selalu berhenti makan sebelum kenyang. Pria yang masih membiarkan lantai semen mendasari rumahnya. Pria yang memakai perabot tua buruk yang didapatkan bersama istrinya hingga ajal menemuinya. Pria yang hobi menanam pohon. Pria yang bahkan masih menggunakan jeding kampung dan gayung untuk mandi. Pria yang bahkan, ketika mati, tidak mau menyusahkan orang dan tidak ingin punya kuburan yang akan dikultuskan. Dalam wasiatnya, Lee ingin tubuhnya dikremasi, kemudian abunya dicampur dengan abu istrinya yang lebih dulu meninggal dunia.
Lee kemudian, dengan otoritasnya, memilih setiap anggota PAP, partai yang didirikannya. Lee begitu selektif memilih calon-calon pemimpin Singapura. Tidak hanya cakap, jujur, dan kebanyakan sudah menjadi kaya duluan sebelum jadi wakil rakyat. Lee juga selalu memilih wakil rakyat untuk PAP dari kalangan keluarga harmonis; bapak/suami yang baik, atau ibu/istri yang cergas. Bahkan Lee tidak bisa mentolerir pemimpin yang punya latarbelakang pernah menyelingkuhi pasangannya. Logikanya sederhana, bagaimana seseorang bisa dipercaya untuk mewakili sekian ribu rakyat, jika istrinya saja dibohongi.

Bercerai, bagi Lee, mungkin lebih masuk akal. Tapi berselingkuh, sama dengan kebohongan besar. Pemilu 2012 lalu, wakil rakyat dari daerah Punggol dipecat dan terpaksa pemilihan kembali digelar di wilayah tersebut, karena wakil PAP kedapatan berselingkuh.

Cobalah perhatikan setiap wajah wakil rakyat Singapurap; Anda akan mendapati kesan teduh, dan jauh dari nafsu politis setiap kali menatap wajah mereka.

Di hari pertama kematian Lee, saya menyempatkan diri datang ke Istana. Sekedar mengucap Alfatihah sembari menuliskan secuil rasa duka. Jumat (27/3/2015) malam, pukul 10.55 waktu setempat, saya bersama istri dan kedua anak saya kembali mendatangi Istana untuk berdoa dan menuliskan secuil rasa duka. Antrian masih sangat panjang, meski hari sudah sangat larut dan jenazah sudah dipindahkan ke Gedung Parlemen. Saat pulang, di stasiun-stasiun MRT, pengeras suara mengumumkan pada warga untuk tidak lagi datang ke Padang, tempat di mana antrian warga untuk melihat peti jenazah di Gedung Parlemen mengular. Padang tidak lagi cukup menampung warga yang ingin memberi penghormatan terakhir pada Lee. Meski untuk bisa melihat peti jenazahnya, warga harus antri selama delapan jam.

Seingat saya, hanya ketika Gus Dur wafatlah, situasi serupa kematian Tuan Lee terjadi; masyarakat begitu kehilangan, serta kesedihan ada di mana-mana. Bahkan masyarakat mau bersusah payah untuk memberikan penghormatan terakhir mereka pada orang yang mereka cintai. Dan ini berlangsung selama seminggu!

Hanya orang BAIK yang mendapat CINTA dan penghormatan sedemikian besar. Bukan orang otoriter!

“By-by Mr Lee,” kata anak bungsu saya, Zachary, sesaat seusai kami meletakkan karangan bunga di depan Istana. “See u next time!” ia melanjutkan.

(SY)

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Ekon
Singapura

Ekon

February 4, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka
Singapura

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Sepakbola Sederhana!
Singapura

Sepakbola Sederhana!

November 24, 2025
Next Post
Tentang Nafkah Halal

Tentang Nafkah Halal

Valeria, dan Tempe Kegemarannya

Valeria, dan Tempe Kegemarannya

Kren Jatuh & Perpustakaan Desa

Kren Jatuh & Perpustakaan Desa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

“Hal Kecil” yang Lebih Sulit Dilakukan

“Hal Kecil” yang Lebih Sulit Dilakukan

9 years ago
Bakul Gedhe dan Bakul Cilik

Bakul Gedhe dan Bakul Cilik

8 months ago
Obat Awet Muda

Obat Awet Muda

3 years ago
Merencanakan Pensiun

Merencanakan Pensiun

2 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Citizen Dollar Efisiensi Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kedai Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Netizen Opini Pendidikan Pengemis rasa singapura Rupiah Secondary school Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

Keteladanan Lee Kuan Yew

Trending

Ekon
Singapura

Ekon

by Sultan Yohana
February 4, 2026
1

"Ekon". Begitulah orang Singapura melafalkan akronim air conditioning. Pendiri sekaligus perdana menteri paling ikonik Singapura, Lee Kuan...

Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana