Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Bola Bolaisme

Soeharto yang Setan Merah

Sultan Yohana by Sultan Yohana
January 28, 2008
in Bolaisme
0
0
SHARES
4
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Soeharto meninggal. Bahkan, prosesi upacara pemakamannya yang konon menghabiskan dua ton kuntum bunga, telah usai. Namun, harus sesedih itukah kita ditinggal Pak Harto?

Saya melongok laga Manchester United versus Tottenham Hotspur ketika semua TV nasional menayangkan kesedihan. Duh, sial. Spurs akhirnya kalah 3-1 meski sempat unggul 0-1 lewat gol Robbie Keane. Sebuah gol penuh energi Carlos Tevez, dan dua gol hasil kecerdikan Christiano Ronaldo mengkandaskan impian pelatih Juande Ramos memboyong Piala FA di tahun pertama kepemimpinan di Spurs. Dan semua televisi nasional, terus berlomba-lomba menyiarkan kedukaan yang serupa.

Saya tak pernah suka Manchester United. Meski harus saya akui, Sir Alex Ferguson menghadirkan permainan yang begitu cantik selama 20 tahun memimpin Setan Merah. Bagi saya, menonton Ryan Giggs dkk berlaga bak menonton sebuah film action yang menegangkan. Film kelar, penonton bubar, dan esok harinya, kitapun lupa setelah muncul film action yang lebih tegang.

Saya juga tidak sedih ketika Spurs akhirnya kalah. Karena toh, klub idola saya adalah Barcelona. Klub yang tak mata duitan. Klub yang bahkan menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk UNICEF. Klub yang selalu dan selalu, lebih memilih seniman bola ketimbang selebritis bola.

Pak Harto? Saya melihat sosoknya bak Setan Merah. Digjaya di masa berkuasa. Memanipulasi sejarah dengan kuasa dan harta. Sekaligus sanggup menjadi sosok bersahaja yang mampu menarik hati masyarakat untuk menjadi fans beratnya. Soeharto luar biasa. Tapi, darah dan daging saya yang tak tumbuh dari secuilpun uang pemerintah – karena tak seorangpun keluarga saya yang pegawai negeri – tak rela ketika Soeharto meninggal dan mewariskan utang ke saya sebesar Rp6 juta.

Jika pengusaha Amerika, Malcom Glazer, ngutang Rp13,4 triliun untuk membeli Setan Merah 2005 silam, Soeharto di masa kepemimpinannya juga doyan utang. Tumpuk ditumpuk tumpuk, sebagian utang negara dikorup keluarganya. Sebagian lagi dikorup kroni-kroninya. Dan kita yang tak tahu apa-apa, dipaksa membayar Rp6 juta untuk membayar sebagian utang negara kita yang kini mencapai hampir Rp1.500 triliun.

Tapi, harus sesedih itukah kita ditinggal Pak Harto? Sesedih seperti artis-artis ibukota yang begitu hebatnya berakting di depan kamera: memperagakan adegan tangis-tangisan. Sesedih televisi yang hampir-hampir menayangkan berita Pak Harto berulang-ulang. Sesedih koran-koran yang menampilkan foto-foto Seoharto. Sesedih pejabat-pejabat yang menggunakan anggaran negara, untuk pasang iklan duka cita. Dan kita, tetap punya utang Rp6 juta yang harus terbayar.

Diancok…

Kasus korupsi penyelewengan dana yayasan milik Soeharto harus terus jalan! Tapi sebagai manusia, meluangkan waktu sekejap untuk sekedar membaca Al Fatihah yang pahalanya diperuntukkan kepada Pak Harto, adalah keharusan. Dan saya berdoa kepada Tuhan, “ampuni dosa Soeharto, Tuhan!”

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Merakyatnya Sepakbola di Singapura: Karena sehat dan bersenang-senang itu mahal
Bolaisme

Merakyatnya Sepakbola di Singapura: Karena sehat dan bersenang-senang itu mahal

December 26, 2024
Indra Sjafri dan Pencarian Bakat Itu
Bolaisme

Indra Sjafri dan Pencarian Bakat Itu

May 31, 2023
Tumapel Putra, Leicester, & Duit Besar China
Bolaisme

Tumapel Putra, Leicester, & Duit Besar China

May 3, 2016
Next Post
Ken, Atawa Kisah Cinta Dua Singa

Ken, Atawa Kisah Cinta Dua Singa

Ah Meng dan Lubang Jalan

Ah Meng dan Lubang Jalan

Ningsih dan Gaji Dolarnya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

“Seteguk Air Dingin”: dari budaya baik bule di Singapura

“Seteguk Air Dingin”: dari budaya baik bule di Singapura

1 year ago

Pukimak, Pesing Seni Sapa Nih…

18 years ago
(Lagi-lagi) Tambah Ongkos Lagi

(Lagi-lagi) Tambah Ongkos Lagi

9 years ago
Terima Raport*

Terima Raport*

12 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Opini Orang tua Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Berhentilah Mengkritik!

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Trending

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Singapura

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

by Sultan Yohana
March 30, 2026
0

BUS nomor 242 yang membawa saya sore ini (10/2/2026), memasuki kawasan baru. Tengah nama kawasan itu. Sepanjang...

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Dua Karakter Berbeda Orangtua

March 15, 2026
Ekon

Ekon

February 4, 2026
Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana