JIKA Anda datang dan makan di restoran di Singapura, Anda akan menemukan kotak tip yang biasa diletakkan di depan kasir. Pelanggan bisa menyisihkan uang kecil (uang besar juga ndak apa-apa), sebagai tip. Uang terimakasih.
UANG yang terkumpul, biasanya akan dibagi ke karyawan, atau untuk keperluan mendesak dan besarnya seringkali sangat membantu keuangan si karyawan, yang memang digaji tak seberapa.
Bagaimana kalau kita memberi tip untuk guru?
Di negara yang pemerintahnya yang cenderung menjadi beban bagi rakyat seperti Indonesia, ikhtiar dan kreatifitas masyarakat kudu dikedepankan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita telah melihat bagaimana kreatifitas luar biasa masyarakat Indonesia untuk bisa bertahan hidup. Profesi-profesi sederhana seperti tukang tambal ban, pedagang cilok, tukang ngarit rumput, calo KTP, jasa daftarkan Facebook Pro, buzzer, pak ogah, anggota ormas, dls; adalah bukti bagaimana kreatifitas itu dilahirkan dari situasi negara yang amburadul. Di Singapura, saya tak menemukan profesi-profesi ini.
Kita harus mengapresiasi ikhtiar-ikhtiar itu. Terlepas dari pro-kontra beberapa profesi yang dianggap meresahkan, tokh harusnya kita menyadari: semua itu karena negara telah gagal menyediakan pekerjaan yang cukup. Rakyat pun kemudian berikhtiar sendiri.
Kembali ke urusan tip untuk guru. Saya tidak bisa menilai gaji seorang itu kecil atau besar, karena tiap orang punya kebutuhan berbeda. Punya nafsu berbeda. Gaya hidup berbeda. Punya kegemaran belanja berbeda. Apakah gaji guru di Indonesia sesuai dengan kebutuhan mereka? Bisa iya, bisa juga tidak. Sepengalaman saya, banyak teman dekat yang berprofesi sebagai guru, baik-baik saja hidup mereka. Bahkan cenderung melebihi kecukupan dari umumnya masyarakat Indonesia.
Tapi saya juga tak bisa menutup mata, banyak kawan-kawan guru saya yang digaji jauh dari cukup. Saya sendiri, beberapa dekade silam, pernah menjadi guru. Gaji yang saya terima sebagai guru MTS milik salah satu orang terkaya di Batam sebesar Rp600 ribu/bulan. Sementara gaji saya sebagai wartawan ketika itu sudah Rp2.5 juta. Seorang kawan saya, DI JAMAN INI, bahkan mengaku bergaji Rp250 ribu per bulan, dan terpaksa kudu mengajar banyak sekolah untuk bisa memenuhi kebutuhannya. Mengerikan.
Lalu apa ikhtiar kita sebagai masyarakat kecil untuk mengatasi keadaan ini? Nah itu tadi, bagaimana kalau kita memberi tip pada guru-guru yang kita anggap gaji mereka jauh dari memadai? Sebagaimana ketika kita memberi tip seusai makan di restoran, atau meninggalkan duit “terimakasih” selesai kita nginap di satu hotel.
Tip untuk guru mungkin tak perlu diberikan kepada guru yang mengajar anak-anak kita. Karena itu bisa menimbulkan persoalan. Bisa menimbulkan KONFLIK KEPENTINGAN. Guru juga bisa jadi tuman, dan selalu berharap dikasih tip oleh orangtua murid. Sebagaimana pegawai-pegawai kelurahan sekarang yang enggan “bergerak” kalau belum disisipi duit.
Kita bisa memberi tip pada guru yang notabene tetangga kita, pada guru yang kenalan kita. Tip bisa berupa apa saja. Sekilo gula atau sebungkus rokok jika sang guru senang merokok. Beberapa lembar uang juga tidak masalah. Pemberian-pemberian seperti ini, saya yakin sangat berarti bagi mereka. Pemberian yang juga bisa diterjemahkan sebagai “barokah” menjadi guru, yang kemudian mampu membangkitkan rasa iklas mengajar, dan Insyallah, akan menjauhkan banyak keburukan.
Hasil pengajaran guru yang mengajar secara ikhlas, saya PERCAYA, akan jauh lebih baik ketimbang hasil mengajar guru lulusan Singapura! Hehe.
Jika kita dengan mudah ngamplopi kyai, nyawer penyanyi dangdut; kenapa kita tidak bisa melakukan hal serupa pada tetangga kita guru yang belum sejahtera? Seharusnya itu mudah.
(*)