Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Kultur

Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean

Sultan Yohana by Sultan Yohana
February 23, 2025
in Kultur
0
Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean
Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean
Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean
Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean
Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean
Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean
Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean
Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean
0
SHARES
11
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

DUA kesempatan bersolat di sini, sebelumnya, ini masjid selalu dalam tahap renovasi. Tapi kali itu, Selasa (11/2/2025) lalu, saya bisa benar-benar menikmati indahnya Masjid Abdul Gafoor, di Little India, Singapura. Meski kecil, namun masjid ini benar-benar indah, unik, dan jauh dari kesan mewah. Berada di dalam masjid yang sudah ada sejak 1859 ini, saya seperti dilemparkan ke seratus tahun silam.


BERSAMA Masjid Sultan, Masjid Malabar, dan Masjid Jamae Chulia; Masjid Abdul Gafoor ini adalah masjid-masjid terindah di Singapura. Anda yang berekreasi ke sini, harus mengagendakan mengunjungi empat masjid ini!

Terletak di 41 Dunlop Street, d kawasan cagar budaya Little India, nama masjid ini diambil dari nama pendirinya, Shaik Abdul Gafoor bin Shaik Hyder. Sebelumnya, nama masjid ini adalah Masjid Al-Abrar. Cerita di balik berdirinya masjid ini menarik. Di pertengahan abad 19, di lahan seluas 20 hektar di dekat masjid itu, dibangun tempat pacuan kuda pertama di daerah Little India. Perlombaan pacuan kuda sendiri, digelar pada tahun 1843, dan hingga kini lomba masih berlangsung.

Namun tempat pacuan kuda kini sudah dipindahkan ke daerah Kranji. Kenapa pacuan kuda, juga olahraga polo popular di Singapura? Itu tak lain karena Singapura dijajah Inggris yang mengekspor kegemaran berkuda ini ke negeri jajahannya. Di Kranji, pacuan kuda ini begitu banyak diminati. Pengunjung yang datang melebihi supporter sepakbola.

Kembali ke pertengahan abad 19. Tempat pacuan kuda di Little India selalu ramai oleh penonton. Perlombaan diadakan dua kali setahun, pada bulan Mei dan Oktober, yang sering kali berlangsung selama tiga hingga empat hari. Orang Eropa dan pedagang Cina kaya, tak pernah absen mengikuti lomba ini. Hari-hari perlombaan adalah hari libur setengah hari, dengan bank dan kantor pemerintah tutup pada siang hari. Masyarakat Singapura berduyun-duyun ke sana. Menikmati pacuan kuda.

Peluang di keramaian itu dimanfaatkan oleh orang India untuk berdagang di sana, termasuk para pedagang India Muslim. Di sisi lain, orang Bawean adalah suku yang terkenal sebagai sais dan pemelihara kuda yang handal. Pedagang India Muslim dan sais/pemelihara kuda Bawean, tentu butuh tempat salat. Lalu, bersepakatlah mereka mendirikan masjid, dan masjid itu kini bernama Masjid Abdul Gafoor.

Oleh pemerintah Singapura, masjid itu bahkan telah ditetapkan sebagai monumen nasional pada tahun 1979.

Berdiri di atas lahan seluas 2.449 meter persegi, gaya arsitek Moor yang tidak biasa pada masjid ini membedakannya dari masjid lain di Singapura. Secara arsitektur, masjid ini meniru desain Saracen dan Romawi.

Arsitektur Moor sendiri adalah gaya dalam arsitektur Islam yang berkembang di dunia Islam Barat, termasuk di semenanjung Iberia (Maroko, Aljazair, dan Tunisia). Arsitektur ini memadukan pengaruh dari arsitektur Romawi pra-Islam, Bizantium, dan Visigoth. Yang paling menarik perhatian saya adalah kubah di tengah ruang persalatan. Kubah itu seperti tabung cahaya yang menangkap cahaya dan angin di luar, untuk kemudian menyalurkannya ke bagian Utama masjid. Membuat ruang utama masjid terasa teduh, segar, dan tidak gelap. Kubah itu ditopang empat tiang besar yang membentuk lengkungan setengah lingkaran dengan berbagai ukiran yang sama indahnya dengan keseluruhan masjid.

Berada di dalam masjid ini, saya seperti dilemparkan kembali ke masa lampau, tak lagi di Singapura tempo kini. Setiap detilnya begitu enak dinikmati, dan seolah-olah ingin menceritakan betapa hebatnya orang-orang terdahulu. Setiap sudut masjid seolah-olah berbisik pada saya, “jangan melupakan sejarah!”

(*)

Tags: Abdul GofurBatamMasjidSejarahSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal
Kultur

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

November 21, 2025
Eror “White Balance” Mata!
Kultur

Eror “White Balance” Mata!

October 22, 2025
Tip untuk Guru: Ikhtiar Agar Profesi Guru Tetap Barokah
Kultur

Tip untuk Guru: Ikhtiar Agar Profesi Guru Tetap Barokah

August 29, 2025
Next Post
“Seteguk Air Dingin”: dari budaya baik bule di Singapura

"Seteguk Air Dingin": dari budaya baik bule di Singapura

Gadis China yang Tidak pernah Pakai Alas Kaki

Gadis China yang Tidak pernah Pakai Alas Kaki

Pintarnya Johor Mendulang Untung dari Singapura

Pintarnya Johor Mendulang Untung dari Singapura

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Jangan Sok Kaya di Negeri Kapitalis Sosialis

Jangan Sok Kaya di Negeri Kapitalis Sosialis

10 years ago

Memerdekakan Penyandang Cacad*

15 years ago

Aku, Saya, Kami, Gw, Ape Loo…

18 years ago

Mimpi 3-5/8: Perempuan Setengah Telanjang

14 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Air minum Alas kaki Anak Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Etnis Fasilitas Foto Gadis China Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Malang Malaysia Mudik Netizen Opini Orang tua Pajak Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Ekon

Berhentilah Mengkritik!

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Trending

Singapura Maju karena Sastra?
Singapura

Singapura Maju karena Sastra?

by Sultan Yohana
May 10, 2026
0

PERHATIAN saya tertuju pada empat lembar kertas hasil ujian pelajaran Kesusastraan yang tergeletak begitu saja di atas...

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

May 3, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

March 30, 2026
Dua Karakter Berbeda Orangtua

Dua Karakter Berbeda Orangtua

March 15, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana