Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

Jangan Sok Kaya di Negeri Kapitalis Sosialis

Sultan Yohana by Sultan Yohana
January 5, 2016
in Singapura
0
Jangan Sok Kaya di Negeri Kapitalis Sosialis
0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

: Subsidi bagi berpenghasilan 60 Juta ke bawah

Saat orientasi sekolah TK negeri anak ragil saya, Zak, 29 Desember 2015 lalu, si kepala sekolah menawarkan pada saya untuk mengikuti program Kindergarten Financial Assistance Scheme (KIFAS). Bahasa mudahnya, program subsidi sekolah. “Jika keluarga Anda punya menghasilan tak lebih dari 6.000 per bulan, ambil saja program ini. Pemerintah sudah menganggarkan dananya. Sayang kalau tidak diambil, tidak ada gunanya pula kami mempersulit (pemberian subsidi),” kata si kepala sekolah, perempuan muda berjilbab dan punya nama Tionghoa.

Sebelumnya, saat mendaftarkan Zak ke sekolah beberapa bulan lalu, kami juga sudah diberitahu soal program subsidi ini. Subsidi diberikan kepada keluarga yang punya penghasilan di bawah 6.000 dolar (mendekati Rp60 juta) per bulan. Busyet dah Singapura ini! Angka 60 juta ini, kalau di Indonesia mungkin penghasilan rata-rata seorang manajer.

Tapi dengan catatan, penghasilan itu untuk minimal empat anggota keluarga. Kalau 6.000 dolar cuma untuk seorang bujang atau suami istri, itu mah tergolong “wah”, dan ndak perlu disubsidi.

Setelah kami hitung, dari 170 dolar SPP per bulan uang sekolah Zak, kami akan mendapat potongan sebesar 55 dolar. Lumayan, setahun kami bisa menghemat kurang lebih Rp6,5 juta. Potongan itu sendiri, tergantung besarnya penghasilan setiap keluarga. Keluarga yang punya penghasilan 2.500 ke bawah, berhak mendapat subsidi hingga 99 persen! Jadi mereka cuma membayar 10 dolar saja per bulan.

Prosedur mendapatkan subsidi juga sangat-sangat mudah. Kami hanya harus menyerahkan identitas diri setiap anggota keluarga, dan karena penghasilan saya tak menentu, saya diwajibkan untuk mengambil sumpah di pengadilan atau notaris yang ditunjuk. Tanggal 29 Desember 2015 saya datang ke Pengadilan Singapura. Caranya pun begitu gampang. Seorang petugas penyumpah, perempuan Melayu berjilbab krubut yang ramah, membaca surat pernyataan yang sebelumnya kami buat. Mengoreksinya, dan kemudian menegaskan pada saya tentang pernyataan saya. Saya sempat beberapa kali menegaskan, “penghasilan saya tidak menentu. Kadang banyak, kadang sedikit”. Dan saya juga menjelaskan mengenai keabsahan sumpah, jika misalnya saya kemudian bekerja dan mempunya penghasilan lebih dari yang saya sebutkan. “Jangan kuatir,” kata dia. “Anda tinggal datang ke sekolah untuk mencabut subsidi yang Anda ajukan, atau membuat sumpah baru jika diperlukan.”

Beres urusan sumpah-sumpahan, semua file kemudian saya berikan ke pihak sekolah. Mereka memeriksa, tak sampai lima menit, BERES!. “Jangkrik,” pikir saya. Begitu mudahnya. Begitu sederhananya. Saya tiba-tiba teringat bagiamana perjuangan kakak saya, memperoleh beasiswa sewaktu SMP hingga kuliah, yang harus pontang-panting ke sana-sini, lari sana-sono, dan dengan sejumlah syarat yang terkadang “ndak masuk akal”, salah satunya penerima beasiswa haruslah anak pintar. Ujung-ujungnya (juga terjadi di era saya), yang mendapatkan beasiswa justru anak-anak pintar dari keluarga mampu.

Bukankah sekolah dibuka untuk orang yang tidak pintar? dan Subsidi diberikan untuk orang yang kurang mampu? Kalau sudah pintar, NGAPAIN SEKOLAH!

Untuk SD hingga SMA, tidak ada program seperti KIFAS, mengingat SPP yang dibebankan kepada setiap siswa, hampir-hampir tidak ada/bisa dikesampingkan (anak saya Ken – kelas 3 SD – cuma bayar 6 dolar per bulan). Namun setiap siswa SD hingga SMA, bisa meminta subsidi untuk biaya buku, seragam, ke pemerintah. Bahkan, seorang kenalan saya, anaknya mendapat subsidi berupa pemberian uang saku yang jumlahnya hingga ratusan dolar per bulan. Tidak peduli si siswa/anak pintar atau “berotak udang”, jika memang tidak mampu bisa mendapatkan subsidi.

Saat menyusun tulisan ini, saya tiba-tiba ingat obrolan saya dengan rekan lama, Hasan Aspahani, yang Tahun Baru kemarin numpang nginap di rumah saya. “Singapura ini, (memanglah) Kapitalis sosialis,” katanya. Maksudnya, Singapura, serasa sebagai negeri kapitalis untuk orang-orang kaya (dan juga sok kaya), namun menjadi sosialis untuk rakyat kurang mampu. Jadi, jangan sok kaya di Singapura! Jangan sok-sok nekat beli mobil! Jangan sok-sok hidup royal, jika tidak benar-benar kaya! Atau Anda akan “dipermak” habis oleh pemerintah!

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Singapura Maju karena Sastra?
Singapura

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik
Singapura

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Next Post
Fotografer se-Model Apa Anda?

Fotografer se-Model Apa Anda?

Saya Mendukung LGBT

Saya Mendukung LGBT

Hanya orang Goblok yang Masih Cinta Arema

Hanya orang Goblok yang Masih Cinta Arema

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Saya Mendukung LGBT

Saya Mendukung LGBT

10 years ago

Malam ini aku ingin mendengar ini:

20 years ago
Singapura Punya Hutan

Kampung (di) Singapura yang Dihutankan Lagi!

5 years ago

Kisah Cinta Dua Singa (7)

18 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Netizen Opini Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sastra Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Singapura Maju karena Sastra?

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Trending

Sepeda Pancal
Tentang Aku

Sepeda Pancal

by Sultan Yohana
July 1, 2026
0

KETIKA SD dan SMP, tempat parkir sekolah saya masih didominasi sepeda pancal. Di pasar Singosari, Malang, kampung...

Dua Bapak dengan Balita mereka

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

June 17, 2026
Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana