Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Indonesiaku

“Mukidi” & Umpatan yang Menyenangkan

Sultan Yohana by Sultan Yohana
November 9, 2016
in Indonesiaku
0
“Mukidi” & Umpatan yang Menyenangkan
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

: Asyik ber-Bahasa dengan pemahaman kontekstual.

Tahukah Anda, kata “Mukidi” sudah populer di kalangan profesi makelar sepeda motor/mobil di Malang sejak tahun 90an? “Di… Mukidi…” biasanya dipakai para makelar untuk mengejek kawannya yang pelit, yang ndak mau bagi-bagi komisi, yang ndak mau kasih informasi menguntungkan. Ejekan “Mukidi” itu, biasanya terlontar dalam nuansa guyon. Bercanda. Menyenangkan. Agar orang yang diejek tidak sakit hati.

Saya tahu, karena seorang paklik saya adalah makelar, dan nyaris saban hari di rumah nenek yang saya tempati, paklik dan kawan-kawan makelarnya nongkrong. Saling bercanda, mengejek, hingga bagi-bagi rejeki. Namun, kata “Mukidi”, tak kemudian menjadi ejekan “baku”. Kadang kata itu berkembang menjadi banyak varian. Seperti menjadi “Di… Di…, Paidi…”, “Lo…, Lo… Kartolo”, “mak… Blontang…” dan sejumlah varian sekenanya yang muncul di kepala si penutur. Mereka menuturkan itu semua, tidak memakai rumus tertentu, acak, asal comot, namun biasanya kata yang terpilih punya notasi yang enak ketika diucapkan.

Orang yang kebetulan punya nama “Mukidi” atau “Paidi”, atau semua pelaku makelaran yang memakai kata itu, jelas tak boleh marah. Dan mereka semua tahu, itu aturannya! Tidak boleh emosi! Tidak boleh ada yang ngamuk, apalagi sampai main bakar-bakaran.

Begitulah kata, Bahasa; MENEMUKAN ADAPTASINYA di lingkungan penutur tertentu. Bahasa itu bukan Matematika, atau ilmu Fisika; yang saklek punya rumus tertentu. Bahasa TIDAK BISA dijelaskan hanya dari sisi tekhnis linguistiknya. Lebih dari itu, TERPENTING Bahasa harus dilihat lewat kacamata kultur. Konteksnya. Siapa yang menuturkan, dari mana dia berasal, bagaimana tingkat pendidikannya; semua itu mempengaruhi penggunaan Bahasa si penutur. Bahasa mempunyai keunikan, serta tumbuh khas di antara kultur masyarakat penuturnya.

Kata “jancuk” adalah contoh yang paling populer untuk menjelaskan kenapa di JAMAN EDAN ini, Bahasa HARUS lebih dipahami dari sudut kontekstual. Jika misalnya saya misuh “jancuk…” di depan preman-preman Terminal Bus Bungurasih Surabaya, mungkin saya pulang “tinggal nama”. Digebuki hingga klenger, bahkan bisa sampai “is death”.

Tapi, begitu saya ketemu dengan kawan kecil, kemudian mengatakan, “jancuk… kowe! Gak tau kabar-kabari”, itu menandakan bahwa saya dengan kawan kecil adalah sahabat karib.

Coba perhatikan, bahkan kata umpatan “jancuk” saja, sudah punya arti yang begitu berbeda, dan menimbulkan akibat yang berbeda pula. Tergantung di mana dan siapa yang memakainya. Bahkan, tak jarang, tergantung suasana hati pemakainya. Seorang yang sama, dengan lawan bicara yang sama, akan berbeda pula ketika mengatakan “jancuk…” ketika keduanya sedang gembira atau sedang saling marah,

Di dunia yang kian emosional dengan banjir informasi yang gila-gilaan ini, salah satu cara terbaik untuk hidup damai, menyenangkan, dan cerdas adalah dengan memahami Bahasa. Memahami konteks sebuah Bahasa!

Asyik berbahasa, asyik pula Anda jadi manusia!

Ilustrasi nyomot di mbah Google!

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Berhentilah Mengkritik!
Indonesiaku

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Keteladanan Lee Kuan Yew
Indonesiaku

Keteladanan Lee Kuan Yew

November 10, 2025
Ketika Sedolar Nilainya Rp13.157
Indonesiaku

Ketika Sedolar Nilainya Rp13.157

May 3, 2025
Next Post
Tulisan yang Lebih Bahaya

Tulisan yang Lebih Bahaya

Anak “Jaman Sekarang”

Anak "Jaman Sekarang"

Mencintai Pengemis

Mencintai Pengemis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Si Penjual Bintang

21 years ago
Nyetrit dengan Zeiss 24mm

Nyetrit dengan Zeiss 24mm

1811 years ago
Kubah Telur Saudagar Timur Tengah

Kubah Telur Saudagar Timur Tengah


10 years ago
Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah

Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah

3 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Alas kaki Anak Batam Cara mengajar Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Museum Netizen Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rupiah Sastra Sepakbola Sepatu jogging Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Dua Bapak dengan Balita mereka

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Singapura Maju karena Sastra?

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Trending

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli
Singapura

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

by Sultan Yohana
July 23, 2026
0

DALAM "tugas" hariannya sebagai sukarelawan untuk penyandang disabilitas, saban hari, istri saya harus menelepon seorang penyandang keterbelakangan...

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

July 12, 2026
Sepeda Pancal

Sepeda Pancal

July 1, 2026
Dua Bapak dengan Balita mereka

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

June 17, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana