Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Cerita Foto

Bocah di Beratus Pulau

Sultan Yohana by Sultan Yohana
April 20, 2009
in Cerita Foto
0
Bocah di Beratus Pulau
0
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Beratus pulau, beratus pula kisah tentang bocah penghuninya. Dari kisah gembira dengan kapal mainan kayu buatan sendiri, hingga cerita sedih kehilangan sebagian waktu masa kecil karena harus membantu orangtua mencari nafkah. Inilah yang tersimpulkan dari beberapa pekan saya mengunjungi beberapa kampung pesisir tua di Kepulauan Riau.

Kisah saya awali dari Kampung Kertang, di dekat Jembatan III Barelang. Kamera seolah tak tahan untuk segera mengabadikan bocah bernama Tedi Syahputra yang tengah asyik bersama seorang rekannya main kapal kayu buatan mereka sendiri (foto 1). “Om… foto om, foto!” mereka berteriak-teriak minta saya memfotonya. Sangat menggembirakan.

Kegembiraan di Kertang tersambung ketika dua bocah lainnya meminta saya memfotonya (foto 2). Berpose sekenanya, perut saya mengeras oleh tawa yang tak tertahan manakala melihat hasil foto bersama dua bocah ini. “Mana gigi kalian?” tanya saya pada mereka. Tapi, tanpa menjawab keduanya segera kabur berlari sambil tertawa-tawa.

Tapi, kegembiraan itu sedikit menguap ketika di kejauhan, seorang bocah menyembulkan kepala dengan malu-malu di jendela (foto 3) rumah papan milik orangtuanya. Ketika pandangan kami bertemu dan saya memberi isyarat untuk memfoto dia, kepalanya berangsur diturunkan.

Dari Tanjung Sebauk di Pulau Bintan, saya ditemani bocah bernama Heikal ketika menjelajah pantai yang dipenuhi tanaman laut tersebut (foto 4). Dengan membawa sebuah keranjang tampar, setiap beberapa meter dia menghentikan langkahnya. Meraba-rabakan tangannya di dasar pantai, untuk kemudian memungut sesuatu. ”Gonggong,” katanya. ”Seratus biji dijual 30 ribu. Sehari saya bisa dapat duaratus biji,” rinci Heikal ketika saya tanya berapa penghasilannya sehari. Untuk ukuran saya, penghasilan Heikal lebih dari lumayan.

Di Belakangpadang lain lagi kisah yang saya dapatkan. Di bagian pulau eksotis yang bernama Dapur Arang, saya temui beberapa bocah yang asyik bermain di pemakaman Tionghoa. Seorang bocah bertampang sangar menghampiri saya dan memohon berbagi rokok yang tengah saya hisap. ”saya sudah nggak sekolah Om. Jadi sudah biasa merokok,” kata bocah itu. Saya beri sebatang dan dia minta saya untuk memfotonya ketika tengah asyik menghisap rokok (foto 5). Sesudahnya, rekan-rekannya yang lain segera mengerubutinya, minta jatah menghisap rokok. Jadilah pemandangan yang memilukan.

Masih di Belakangpadang, saya sempat berpapasan dengan tiga bocah dengan gembira bermain kompang (foto 7) usai sekolah, dan “Popeye” junior yang dengan sangat berani duduk di atas perahu yang akan membawanya pulang sekolah (foto 6).

Di Kampung Agas, Tanjunguma, rasa bersalah saya terus meronta-ronta ketika memfoto sejumlah bocah yang tengah belajar di rumah milik seorang warga, Sitepu (foto 8 dan 9). Sitepu yang juga bertindak sebagai guru menjelaskan, semua anak didiknya adalah anak tetangga-tetangganya sendiri. Beberapa di antaranya bahkan ada yang tidak bisa belajar di sekolah resmi. Begitu ironis, jika mengingat sepelemparan batu dari rumah Sitepu, berdiri megah Pasar Induk Jodoh senilai puluhan miliar yang mangkrak, Pacific Diskotique, serta DC Mall yang wangi itu

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Kucing-kucing Mudik
Cerita Foto

Kucing-kucing Mudik

April 7, 2025
Hitam-Putih dengan 7D2
Cerita Foto

Hitam-Putih dengan 7D2

February 1, 2025
Cerita Foto

Monyet Ekor Panjang di Sebuah Pojok Singapura

January 30, 2025
Next Post

Hadiah Langka di Pagi Cerah*

Toilet

Toilet

Pembunuh!

Pembunuh!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Kubah Telur Saudagar Timur Tengah

Kubah Telur Saudagar Timur Tengah


9 years ago
Canon 5D Mark II Istimewa

Canon 5D Mark II Istimewa

5 years ago
Tanpa Cekikan di Changi

Tanpa Cekikan di Changi

14 years ago

Pizza, Burger, Kaviar? Kenapa tak Coba Pisang Goreng?

10 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Citizen Dollar Efisiensi Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kedai Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Netizen Opini Pendidikan Pengemis rasa singapura Rupiah Secondary school Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

Keteladanan Lee Kuan Yew

Trending

Ekon
Singapura

Ekon

by Sultan Yohana
February 4, 2026
1

"Ekon". Begitulah orang Singapura melafalkan akronim air conditioning. Pendiri sekaligus perdana menteri paling ikonik Singapura, Lee Kuan...

Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana