Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Batam

Episode Tentang Pelacur Yuli

Sultan Yohana by Sultan Yohana
December 22, 2008
in Batam
0
Episode Tentang Pelacur Yuli
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Tiba-tiba kesedihan menerkam saya, sepagi ini. Sehabis menyelesaikan membaca kalimat terakhir Catatan Pinggir Goenawan Mohamad pada lembar terakhir Tempo edisi 15-21 Desember, berjudul Pelacur, kesedihan itu berseri. Tentang pelacur: episode pertama emosi saya terbabit-babit ketika pada Minggu (21/12/2008), saat saya mengedit berita seorang pelacur hamil yang masih memperdagangkan kelaminnya untuk Posmetro Batam.

Yuli, dengan janin berusia empat bulan di perutnya tidak tahu siapa lelaki yang nantinya akan dipanggil “bapak” oleh calon anak. Puluhan lelaki silih berganti datang ke warung kumuh yang berdiri di sudut galangan kapal Tanjunguncang, untuk meniduri Yuli. Puluhan lelaki itu, salah satunya tentu saja bapak biologis sang jabang bayi di rahim Yuli. Dan pada Minggu dinihari yang berangin kencang itu, para polisi Batuaji menangkapi Yuli dan wanita-wanita senasib dengan alasan yang nyaris masuk akal: mengupayakan pemberantasan penjualan manusia.

Dan lihatlah! Gambar Ken, anak semata wayang saya dengan pipi gemuk merekah merah, menyembul dari layar monitor tempat saya menulis artikel ini. Semakin menggarami kegeraman yang tercipta dari dua episode sebelumnya: Pelacur GM, dan kisah seorang Yuli.

Ketika kita dibombardir berita sejenis semacam Yuli, kisah janda 27 tahun asal Bandung ini seolah menjadi hal yang sangat biasa. Televisi-televisi lebih gemar berita infotainmen; koran-koran lebih mengingini berita korupsi; otak para pedagang lebih memperhatikan nilai tukar rupiah; para politikus lebih memikir harus merangkai kata terbaik untuk iklan kampanye mereka; pemuka agama sibuk mencari bahan ceramah paling menggugah; dan wartawan (di Batam) berebut kursi untuk kepengurusan organisasi. Sementara Yuli, dengan perut yang kian membesar, selalu mencari jawaban, menduga-duga; siapa lelaki yang pantas menjadi bapak janin di rahimnya.

Sehari sebelum menerima berita dan mengedit berita tentang Yuli, saya tersesat dalam belantara keramaian Orchard Road Singapura. Gentayangan di antara aroma-aroma parfum kelas kapital, mencari kado Natal untuk anak semata wayang. Astaghfirullahhaladzim, saya mendapati pembantu-pembantu Indonesia di sudut-sudut jalanan Orchard, bersama segerombolan lelaki India yang nyaris semuanya memasang wajah birahi: mencari celah lengah untuk meniduri sang wanita.

Lalu kisah berikutnya yang terjadi: muncullah kisah-kisah tentang kepulangan pembantu dengan perut membuncit. Menghindari malu, dan memilih berlabuh di Batam. Banyak di antara mereka kemudian memilih menjual kelamin. Memperdagangkan satu-satunya yang bisa mereka jual. Untuk menyambung hidup, menyerah dalam keputusasaan.

Tiga tahun silam, masih teringat lekat ketika saya berada di sebuah kamar kumuh Lokalisasi Pelita bersama seorang PSK. Berteman seuplik penerangan bohlam, kipas angin yang berderik-derik, serta tilam lusuh yang penuh ceceran sperma, tiga tahun silam saya menggelar wawancara dengan seorang PSK yang hamil delapan bulan. Tiga tahun berikutnya, kisah itu terulang lagi pada Yuli. Bahkan ketika Lokalisasi Pelita sudah meng-arang oleh sebuah kebakaran hebat pada pertengahan 2008 silam. Seperti sebuah lingkaran setan tak berujung-pangkal; emosi itu kian hari kian redup. Oleh tipu-tipu yang mengatasnamakan moral.

Saya membayangkan Yuli, Nur Hidayah (tokoh di tulisan GM), juga Ken di antara lingkaran setan itu. Saya membayangkan wajah pembantu-pembantu Indonesia di Singapura yang terkibuli oleh kalimat-kalimat indah dari mulut lelaki yang mereka bayangkan sebagai Shahrur Khan di film-film India. Saya membayangkan suara nyinyir kritikus-kritikus media yang menganggap kisah Yuli (yang prostitusi) tak layak dimediamassakan; koran-koran kuning tak layak diperhatikan. Saya membayangkan tawa para politikus yang berhasil menemukan kata paling mutakhir untuk iklan kampanye mereka. Saya membayangkan wajah-wajah berseri para wartawan yang gembira menuliskan dalam berita mereka, kata mutakhir milik politikus itu. Dan saya akan selalu menunggu, tiga tahun dari sekarang – atau lebih cepat – akan kembali muncul kisah-kisah semisal Yuli, juga kisah Nur Hidayah.

Selamat! Untuk semua yang telah membinasakan kisah seperti Yuli, untuk kemudian memasukkan dalam tong sampah kelumrahan.

Foto Yuli diambil oleh Arrazi Aditya

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

UMK Batam dan “Minimarket Negara” ala Singapura
Batam

UMK Batam dan “Minimarket Negara” ala Singapura

November 13, 2014
Calo Tiket Pun Melanggar HAM
Batam

Calo Tiket Pun Melanggar HAM

August 1, 2014
$$$$$$$$
Batam

$$$$$$$$

September 2, 2013
Next Post

Kian Meng-Golput

Foto yang (pernah) Ditolak

Foto yang (pernah) Ditolak

Kisah Cinta Dua Singa (12)

Kisah Cinta Dua Singa (12)

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

UMK Batam dan “Minimarket Negara” ala Singapura

UMK Batam dan “Minimarket Negara” ala Singapura

11 years ago
Catatan dari Singapore Palestine Film Festival 2024

Catatan dari Singapore Palestine Film Festival 2024

2 years ago
Anak “Jaman Sekarang”

Anak “Jaman Sekarang”

9 years ago

Behind Blue Eyes

20 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Citizen Dollar Efisiensi Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kedai Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Netizen Opini Pendidikan Pengemis rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Warung
No Result
View All Result

Highlights

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

Keteladanan Lee Kuan Yew

Eror “White Balance” Mata!

Trending

Berhentilah Mengkritik!
Indonesiaku

Berhentilah Mengkritik!

by Sultan Yohana
January 25, 2026
0

PEMUDA di samping saya ini, Asyik, 18 tahun, adalah yang termuda di grup sepakbola Minggu kami. Seusia...

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

December 6, 2025
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana