Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

Singapura, dan Hari Anti-rasisnya

Sultan Yohana by Sultan Yohana
July 18, 2014
in Singapura
0
Singapura, dan Hari Anti-rasisnya
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bahkan di Batam, persoalan tanah bisa merembet ke isu SARA.

Begitu keluar dari pintu gerbang sekolah dasar, Rabu (16/7) siang itu, anak sulung saya, Ken Danish, sudah ‘ngoceh’ soal kegiatan sekolah yang akan diikutinya esok hari. “Papa, esok ke sekolah harus pakai pakaian adat. Kami ada selebrasi Racial Harmony Day. Saya mau pakai pakaian China,” kata dia sambil berjalan setengah lari mengikuti saya yang memang tak bisa berjalan pelan. Hmmm, bukankah Racial Harmony Day, atau jika saya bahasa Indonesiakan secara bebas berarti Hari Anti-rasis atau Hari Keharmonisan Etnis di Singapura, jatuh pada Senin pekan depan? 21 Juli? Di sekolah playgroup adiknya saja, Zachary, sang guru menginformasikan pada saya acara anti-rasis digelar pada 21 Juli. Ah.., kok kenapa tiba-tiba saya mempersoalkan soal “kapannya” selebrasi dilakukan. Bukankah, seharusnya pilihan Ken untuk mengenakan busana China jauh lebih menggelitik hati.

“Bagaimana kalau esok pakai pakaian Jawa?” saya bertanya pada Ken.
“No. Saya China, dan harus pakai pakaian China.”
“Lho, bukankah kamu separuh Jawa?” tanya saya lagi.
“Tapi saya tak mau pakai pakaian Jawa. Saya mau China.”
“Tahun lalu kamu pakai Jawa. Keren. Semua orang suka kamu pakai pakaian Jawa,”
“Tapi kawan-kawan banyak yang pakai pakaian China.”

Pada akhirnya, sayalah yang harus mengalah dengan kengototan bocah yang baru bersekolah kelas satu sekolah dasar itu. Malam harinya, ibunya sudah menyiapkan seperangkat pakaian etnis China warna merah menyala. Saya sempat menunjukkan tiga pakaian adat lainnya yang beberapa waktu lalu saya beli saat pulang ke Malang: seperangkat pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkon, pakaian sakerah dari Madura, serta satu stel pakaian takwa yang mirip pakaian Melayu plus kopyahnya. Tapi, lagi-lagi Ken menolak memilihnya. Padahal, di daftar isian ketika mendaftarkan Ken masuk sekolah dasar dulu, saya dan istri sepakat mengisi kolom etnis: Javanese.

Tahun lalu ketika Ken masih belajar di taman kanak-kanak, di perayaan Racial Harmony Day 2013, kami memilihkan seperangkat pakaian Jawa untuk ia kenakan. Ketika itu dia senang, tak protes, serta semua orang di sekolahnya juga terkesan. Terkesan, terutama melihat blangkon coklat lurik yang Ken kenakan. Bahkan akhirnya, pihak sekolah meminta seperangkat pakaian yang dikenakan itu, untuk dijadikan koleksi sekolah. Kami menyumbangkan seperangkat pakaian itu, dan membeli dua perangkat lagi saat bulan Juni 2014 lalu saya pulang kampung ke Malang, Jawa Timur. Satu untuk Ken, satu lagi untuk Zachary yang belum genap berusia dua tahun.

Sebetulnya saya sama sekali tak mempersoalkan apakah dua anak saya kelak akan lebih condong ke Jawa (baca: Indonesia) ataupun China/Singapura. Jauh-jauh hari saya bersama istri sudah sepakat, kedua anak kami akan menjadi “milik dunia”, sebisa mungkin mengglobal untuk menghapus sekat-sekat bernegara yang selama ini membatasi pergerakan kami. Sekeluarga yang memang berlatar-belakang beda negara, keyakinan, dan kebudayaan. Sebelum tidur, saya sering berbicara penuh harap kepada Ken, kelak semisal dia jadi dokter, jangan cari uang dengan berpraktik di Singapura. Melainkan pergilah ke Indonesia, ke daerah paling pelosok, untuk bisa membantu mereka yang membutuhkan dan tak mampu pergi ke dokter. Ken tentu saja belum terlalu mengerti apa yang saya bicarakan. Tapi saya yakin, di otaknya, bakal selalu terekam memori itu, dan semoga kelak jika harapan saya terkabul, memori itu bisa bangkit dari pikiran Ken.

Untuk terus menabung memori baik pada anak-anak kami, kami sekeluarga juga selalu mengagendakan pergi jalan-jalan ke daerah berbeda tiap tahunnya. Setiap daerah yang kami tuju, kami berusaha memilih daerah atau kota kecil yang di dalamnya kami bisa bergaul dan bertemu dengan masyarakat setempat. Belajar apa pun perbedaan yang mereka punya. Saya ingin menunjukkan pada anak-anak saya dengan bahasa yang “sederhana”, bahwa dunia ini begitu luas dengan orang-orang yang sangat berbeda. Bahwa dunia ini tidak hanya sebesar kotak i-Pad kesayangannya saja. Di rumah, kami juga mempraktikkan secara bersama-sama, antara Bahasa Inggris, Jawa, China, maupun Bahasa Indonesia – juga ayat-ayat Alquran dan doa bahasa Arab.

***

Saya selalu tertarik dengan setiap gerakan melawan rasisme. Singapura menjadi contoh keren bagaimana resisme ditempatkan sebagai “musuh” bersama yang harus dilawan sedini mungkin. Sebagai puncak dari perlawanan itu, saban tahun Singapura merayakan Racial Harmony Day, atau kalau saya bahasa Indonesiakan secara bebas bisa berarti Hari Anti-rasis atau Hari Keharmonisan Etnis. Bahkan sejak balita, sebagaimana anak saya Zachary yang usianya belum genap dua tahun, sudah terlibat di dalamnya. Sekolah-sekolah menggelar Racial Harmony Day. Distrik-distrik (baca: kecamatan) di Singapura juga menggelar acara serupa di mana-mana. Tahun 2014 ini, Racial Harmony Day mengambil tema “Harmony from the Heart”. Harmoni antar-etnis, dari tema yang saya baca di situs Kementrian Pendidikan Singapura, bisa terwujud jika hati bisa menghargai perbedaan sekecil apa pun dari masyarakatnya.

Sebagai kota-negara heterogen yang nyaris seluruh etnis di seantero dunia bisa ditemui di Singapura, Racial Harmony Day seperti segelas air putih di tengah tenggorokan dahaga di terik matahari yang panas. Ini jika kita melihat di Indonesia, bagaimana persoalan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), dijadikan “komoditi” oleh politikus-politikus tak punya hati yang yang merebut kekuasaan. Isu SARA dianggap para politikus kotor tersebut, sebagai bahan seksi untuk diprovokasi. Mereka tidak peduli, potensi kerusuhan, perang, pertumpahan darah, yang bisa terjadi karena isu SARA yang mereka mainkan. Di Batam misalnya, persoalan lahan saja, bisa merembet hingga ke persoalan kesukuan dan agama. Ini jelas sangat berbahaya. Pemerintah Indonesia, terutama politikusnya, seolah tidak serius menggarap pendidikan tentang rasisme dan menghormati setiap perbedaan, karena mereka menganggap, justru isu tersebut menguntungkan mereka. Mereka kerap “menjaring suara” masyarakat, dengan memunculkan isu-isu seputar SARA.

Di Singapura, perang terhadap rasisme secara terus menerus, seperti mengingatkan pada setiap orang, apa pun ras yang Anda miliki, apa pun agama yang Anda yakini, sehebat apa pun keluarga yang Anda miliki: semuanya setara di mata negara. Setara dalam hal kesempatan apa pun, untuk menjadi apa pun, untuk memilih cara hidup bagaimanapun. Di Singapura – yang saya rasakan – hanya ada dua model manusia yang bisa menentukan cerah tidaknya masa depan kelak. Yakni model manusia yang RAJIN, dan manusia PEMALAS.

Penghormatan pada perbedaan memang betul-betul terasa di Singapura. Bahkan Anda bisa dengan mudah menemuinya di jalan-jalan, di pasar-pasar, di bus-bus, maupun di kereta api atau mal-mal. Wanita-wanita etnis India, dengan pedenya masih berpakaian sari saat jalan-jalan di mal, atau pemeluk Budha yang dengan bebasnya menaruh sesaji di bawah pohon pinggir-pinggir jalan seantero Singapura. Saya juga gembira ketika melihat bocah-bocah seusai pulang dari masjid belajar mengaji, masih berkopyah sembari menenteng skate-board. Jika hari Minggu, cobalah datang ke daerah City Hall, di sana Anda akan bisa menyaksikan wanita-wanita muda dari Myanmar, banyak yang memakai selendang khas negara mereka sebagai rok. Tulisan-tulisan penunjuk arah, papan pengumuman di tempat umum, tak jarang ditulis dalam beberapa bahasa yang digunakan warga Singapura.

Sekitar 12 tahun silam, saat-saat pertama saya datang ke Singapura, mungkin sedikit susah kita menemukan sepasang kekasih berlainan etnis, berlenggak-lenggok mesra di tempat-tempat umum. Tapi kini, Anda akan mudah menemukan pemuda India, tengah mengandeng mesra tangan wanita China. Atau pria Melayu sedang mojok pacaran dengan bule Eropa. Dunia Singapura, dengan menepatkan rasisme sebagai musuh utama, kini seolah-olah menyatu hanya dalam satu kesamaan: semuanya adalah MANUSIA.

(sultan yohana)

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Ekon
Singapura

Ekon

February 4, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka
Singapura

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Sepakbola Sederhana!
Singapura

Sepakbola Sederhana!

November 24, 2025
Next Post
Calo Tiket Pun Melanggar HAM

Calo Tiket Pun Melanggar HAM

Anggrek

Anggrek

Harmoni Babi Hutan dan Prata India

Harmoni Babi Hutan dan Prata India

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

I Say ‘i’ Papa, Not ‘ai’!*

I Say ‘i’ Papa, Not ‘ai’!*

14 years ago
Perpustakaan dan Pajak Kita

Perpustakaan dan Pajak Kita

10 months ago
Antoni (us)

Antoni (us)

18 years ago

Lelaki dengan HP Sebesar Kepala Anjing

20 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Opini Orang tua Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

Trending

Dua Karakter Berbeda Orangtua
Humaniora

Dua Karakter Berbeda Orangtua

by Sultan Yohana
March 15, 2026
0

HARI Minggu (18/1/2026) lalu, saya bersama istri menemani Zak menerima penghargaan pelajar teladan. Sekaligus uang saku $500...

Ekon

Ekon

February 4, 2026
Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana