Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Tentang Aku

Satu Malam yang Menggembirakan

Sultan Yohana by Sultan Yohana
July 12, 2006
in Tentang Aku
0
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dia kelihatan gembira. Ipong, yang kawan lama itu, sembari duduk di atas kotak pendingin minuman kaleng milik pedagang kakilima, bercanda bersama rekannya. Ada tawa, cekikikan, umpat-umpatan, juga pukulan-pukulan kecil di antara mereka.
Malam yang ceria di sederet puluhan pedagang kakilima pinggir kantor walikota. Aku hampiri keduanya, mencoba mengemis kegembiraan.

”Om…,” Ipong selalu memanggilku demikian. Sapaan yang sangat membebankan. Ia menambahkan, ”bajunya bagus, merah-merah.”

Aku tak dapat menyembunyikan tawa ketika dari mulutnya keluar pujian terhadap baju, tepatnya t-shirt merah yang kukenakan. Pikirku, jangan-jangan berikutnya jins yang lututnya sudah deduel… del.. itu giliran peroleh pujian. Atau gelang monel yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Khusus untuk gelang bermotif sederhana yang kubeli sehari sebelum aku memutuskan untuk bercinta dengan dunia, tercatat sudah ada tujuh orang yang memberi pujian. Tentu saja dengan satu pengharapan, gelang seharga 23 dolar ini akan berpindah tangan. Maaf! Yang ini tak akan terjadi.

Untungnya, dari mulut bocah satu SMP itu tidak keluar pujian-pujian berikutnya. Aku merasa lega. Terlebih ketika kedua bocah itu mengekor di belakangku, ketika aku masuk sebuah warung tenda. Saat itu, aku benar-benar butuh sedikit kegembiraan dari mereka.

”Aku bungkus saja ya, Om! Untuk emak. Tadi aku sudah makan, masih kenyang!” Ipong buru-buru menyusupkan kata-katanya, ketika aku memesan tiga ayam penyet untuk kami.

”Aku juga Om!” rekan Ipong ikut-ikutan.

Sementara pesanan disiapkan, kami mengambil duduk di meja nomor dua dari ujung paling kiri. Meja persegi seukuran satu meter persegi ini, bergelinjang, ketika tersentuh sedikit saja. Maklum, salah satu dari empat kakinya, tidak merata menyentuh tanah. Ipong dan rekannya mengambil duduk tepat di hadapanku.

Di meja sebelah kanan kami, dua orang pria paruh baya lahap menghajar nasi masing-masing, sepiring besar lele penyet, tempe, ayam, sayur-sayuran. Sesekali meneguki gelas-gelas bir minuman mereka. Selera yang aneh, pikirku. Lele penyet berkawan bir. Bir impor lagi.

Sedari berjalan tadi, celotehan keduanya mengalir seperti badai, memberikan kegembiraan luar biasa. Tentu saja kepadaku. Aku mencoba untuk tidak berkata-kata. Hanya mendengarkan keduanya. Hanya mendengarkan!

Kepada rekannya, Ipong menceritakan khayalannya: bagaimana seandainya Batam dijatuhi bom atom. Bagaiaman seandainya bom nuklir yang digambarkan Ipong sebesar meja di hadapan kami, dijatuhkan di Batam, bumi terbelah. Laut membuncah. Bukit-bukit berguguran. Gedung-gedung tinggi bertumbangan. Apalagi rumah liar mereka yang terdiri dari papan beratap seng karatan.

“Wuih…., pasti akan ada tsunami. Kalau sudah begitu kita mau tinggal di mana? Hih… ngeri! Pasti kita semua mati. Iya kan Om?”

Aku mengangguk.

”Memangnya kita bisa buat bom nuklir?” tanya rekan Ipong. Mendapat pertanyaan itu, bocah kurus yang seharusnya di waktu seperti sekarang ini berada di hangatnya dekapan keluarga, melirik padaku. Seakan minta aku untuk menjawab pertanyaan kawannya.

”Kalau Singapur pasti bisa!” rekan Ipong itu menghilangkan huruf akhir a ketika menyebut Singapura.
”Betul Om…” tanya Ipong. Aku kembali mengangguk.
”Wah bahaya dong!” rekan Ipong mengguncangkan tubuhnya. Menggidik sendiri.
”Tapi orang Singapur baik-baik, kok! Aku saja sering dibayar pakai dolar Singapura. Satu kali nyemir dikasih tiga dolar. Sudah berapa itu?” Cecar Ipong.
”Tapi mereka bisa buat bom nuklir!”
”Kita juga bisa buat! Iya, kan, Om!?” Aku mengangguk lagi.

Namun, sebelum perdebatan Ipong dan rekannya berlanjut, tiga ayam penyet sudah tersiapkan. Sebuah, di atas piring untukku. Dan, dua bungkus yang di dalam kresek untuk mereka berdua. Ipong segera bangkit dan menerima bungkusan itu. Sesaat beradu pandang dengan temannya, sebelum kemudian bersama mengucap terimakasih dan berlari.
Sekali lagi aku mengangguk. Menerima kegembiraan terakhir dari mereka, sebelum akhirnya sebuah SMS brengsek menghancurkan semuanya.

(Batam, 6-7-2006)

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Sepeda Pancal
Tentang Aku

Sepeda Pancal

July 1, 2026
Merencanakan Pensiun
Tentang Aku

Merencanakan Pensiun

November 1, 2023
Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah
Tentang Aku

Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah

April 30, 2023
Next Post
Hape-hape-hape

Hape-hape-hape

Tusuk Gigi, Tissu, dan Toilet

Sekeluarga Singapura dan Satunya Babu Indonesia

Sekeluarga Singapura dan Satunya Babu Indonesia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Sisi Lain Hot Dancer Ai Ling

Sisi Lain Hot Dancer Ai Ling

15 years ago
Kejutan dari Lensa Antah Berantah

Kejutan dari Lensa Antah Berantah

9 years ago

Bangun, bangun, Batam

20 years ago
Kicau Kepodang

Kicau Kepodang

14 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Netizen Opini Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sastra Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Singapura Maju karena Sastra?

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Trending

Sepeda Pancal
Tentang Aku

Sepeda Pancal

by Sultan Yohana
July 1, 2026
0

KETIKA SD dan SMP, tempat parkir sekolah saya masih didominasi sepeda pancal. Di pasar Singosari, Malang, kampung...

Dua Bapak dengan Balita mereka

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

June 17, 2026
Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana