Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Sultan Yohana by Sultan Yohana
July 23, 2026
in Singapura
0
Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

DALAM “tugas” hariannya sebagai sukarelawan untuk penyandang disabilitas, saban hari, istri saya harus menelepon seorang penyandang keterbelakangan mental. Untuk mengajaknya ngobrol. Tanya makan apa ini hari? Apa saja yang dikerjakan seharian? Nonton film apa? Atau sejumlah obrolan ringan harian lainnya. Biasanya, istri saya yang aktif bertanya ini-itu. Ngomong ini-itu. Tapi, Selasa (21/7) sore itu, saya lihat ia lebih banyak mendengar. Sesekali merespon “yes…”, “good…”


SAYA, yang duduk di depannya, masih sibuk mengais-ngais sisa daging ikan yang tertinggal di antara tulang-belulang dan bagian kepala ikan kukus bekas makan malam istri. Sore itu, memang kami makan malam terlalu dini. Kami bertemu di Vivo City, setelah saya menyelesaikan beberapa transaksi jualan, dan lokasinya dekat dengan tempat istri ikut pelatihan guru di kementrian pendidikan. Kebetulan ia juga baru selesai.

Sementara istri memilih makan ikan kukus, saya mengudap nasi dengan lauk sambal-goreng ati, oseng-oseng kacang panjang, dan sebutir telur rebus. Beli dari kedai Hj. Maimunah cabang Vivo yang terkenal uenak itu.

Begitu selesai ngobrol di telepon, istri kemudian menceritakan isi pembicaraannya. Orang yang ditelepon, seorang penyandang down syndrome berusia 30an tahun, CURHAT tentang masalah di keluarganya. Bercerita tentang ibunya yang selalu bertengkar dengan saudaranya. Bercerita tentang kurangnya perhatian keluarganya pada dirinya. Bercerita kenapa orang-orang tidak menghargainya. Dls.

Saya sedikit terkejut. “Apakah mereka bisa curhat? Bisa bisa sesensitif itu? Bisa berpikir serumit itu?” tanya saya. Sebelumnya saya menduga, mereka yang menderita down syndrome tidak sesensitif sebagaimana yang istri jelaskan. Seorang tetangga kami di Singapura misalnya, anak pemilik bengkel sepeda pancal. Digoda dan diomongin dengan bagaimanapun bahasa kasar, tetep enjoy-enjoy saja dia. Sambil mulutnya yang selalu senyum, tak pernah lepas dari rokok yang selalu menyala. Saya tak tahu, berapa banyak rokok yang ia habiskan dalam sehari. Setahu saya, begitu habis, ia segera menyulut lagi. Begitu seterusnya.

“Yang ini gejalanya ringan,” jelas istri saya tentang penyandang down syndrome yang tiap sore harus diteleponnya. “Perasaan yang dia miliki seperti kita juga,” istri menambahkan. Selain menelepon si A, saban hari Minggu, istri juga kebagian tugas volunteering membawa seorang penyandang down syndrome lainnya jalan kaki keliling taman. Satu atau dua jam. Sebagai bentuk olahraga si penyandang.

Mendengar penjelasan “perasaan serupa” penyandang keterbelakangan mental dengan kita, saya langsung teringat seorang tetangga saya yang lain di Singosari, Malang. Usianya empat tahun lebih tua dari saya. Saat kanak-kanak dan remaja, is selalu terlihat gembira. Dulu saya sering mengajaknya main ke rumah. Mengajarinya membaca-menulis. Saat itu saya selalu jengkel, kenapa dia tak kunjung bisa membaca dan menulis? Kenapa bocah sebesar tak bisa baca-tulis?

Tentu saja, saat itu, saya belum tahu kalau dia seorang berkebutuhan khusus. Rupa dan penampakannya biasa saja. Karena keluarganya cukup berada, ia bahkan terlihat berpenampilan lebih baik dari kabanyakan kami anak-anak kampung.

Menginjak remaja, kawan-kawan banyak yang mengolok-olok dia. Membully. Atau sekedar memintanya memijit ketika kami nongkrong bersama. Saya sendiri tak pernah tega memperlakukan demikian.

Tapi dia gembira-gembira saja. Sampai kemudian, neneknya, orang yang menjaganya, meninggal. Ia terpaksa kembali tinggal bersama kedua orangtuanya. Sejak itu, ia sering terlihat murung. Jalan ke sana-sini dengan wajah tertekuk.

Terakhir, tahun lalu, saya melihat ia berjalan dengan lunglai pulang ke rumah orangtuanya. Badannya kegemukan, wajahnya kasar, kopyah yang dikenakan awut-awutan. Saat itu, entah kenapa, melihatnya seperti itu, saya merasa begitu bersedih.

Ia mungkin merindukan nenek, yang semasa hidup, begitu mencintainya. Ia mungkin ingin dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya. Ia mungkin ingin dihargai. Ia mungkin ingin diperlakukan seperti orang biasa. Tapi tak tahu bagaimana kudu mengatakannya.

(*)

Catatan foto ilustrasi: otak manusia itu memang unik. Seekor ayam misalnya, yang tiap hari keberadaanya tidak kita pedulikan, ketika muncul di perkotaan besar seperti Singapura, tiba-tiba kemudian menjadi seolah luar biasa. Kita memotretnya, terheran-heran dibuatnya. Padahal sama ayamnya dengan di kampung Kita.

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura
Singapura

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

July 12, 2026
Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Singapura Maju karena Sastra?
Singapura

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Terjerumus Rombengan!

Terjerumus Rombengan!

3 years ago
Sekeluarga Singapura dan Satunya Babu Indonesia

Sekeluarga Singapura dan Satunya Babu Indonesia

19 years ago
Hanya orang Goblok yang Masih Cinta Arema

Hanya orang Goblok yang Masih Cinta Arema

10 years ago

Pukimak, Pesing Seni Sapa Nih…

19 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Alas kaki Anak Batam Cara mengajar Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Museum Netizen Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rupiah Sastra Sepakbola Sepatu jogging Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Dua Bapak dengan Balita mereka

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Singapura Maju karena Sastra?

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Trending

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli
Singapura

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

by Sultan Yohana
July 23, 2026
0

DALAM "tugas" hariannya sebagai sukarelawan untuk penyandang disabilitas, saban hari, istri saya harus menelepon seorang penyandang keterbelakangan...

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

July 12, 2026
Sepeda Pancal

Sepeda Pancal

July 1, 2026
Dua Bapak dengan Balita mereka

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

June 17, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana