Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Tentang Aku

Merencanakan Pensiun

Cara saya dan sebagian besar orang Singapura

Sultan Yohana by Sultan Yohana
November 1, 2023
in Tentang Aku
0
Merencanakan Pensiun
0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

TIBA-TIBA saja, saya memikirkan pensiun. Semuda ini? Hehe. Ini aneh, bahkan bagi saya sendiri yang selama ini memegang prinsip “lha wong cacing saja dijamin rejekinya oleh Gusti Allah, masak saya yang nanti jadi kakek-kakek lansia, tidak…” Dengan prinsip itu pula, sejauh ini, saya tidak pernah takut tak punya uang, tidak pernah takut tak bisa makan, apalagi cuma sekedar takut miskin.

Saya berkeyakinan, sepanjang saya menjalin hubungan baik pada Gusti Allah, baik-baik pula lah hidup saya. Tokh selama ini saya telah membuktikan hubungan itu. Gusti Allah memang tidak membuat saya kaya secara harta. Bahkan untuk standar dan hasrat masyarakat Singapura, saya – secara opini pribadi – mungkin bisa dikatakan sebagai “kaum dhuafa”-nya Singapura. Tapi siapa peduli! Saya tidak pernah merepotkan atau minta siapa-siapa. Apa saja yang saya inginkan, entah itu mudah atau sulit, semuanya bisa terwujudkan.

Tapi, soal pensiun, tiba-tiba saja itu muncul mengganggu pikiran saya. Akhir-akhir ini. Mungkin itu karena apa yang saya lihat tiap hari. Melihat sebagian lansia Singapura, yang di usia senja mereka masih bekerja keras, membanting tulang mereka sekeras-kerasnya. Agar bisa meneruskan hidup mereka di Singapura yang mahal ini.

Secara psikologis, pemandangan itu cukup menggangu. Mempengaruhi saya. Saya membayangkan, kelak, jika saya seperti para lansia itu, saya harus mencuri-curi waktu kerja hanya untuk sekedar salat. Saya membayangkan, kelak, jika saya seperti mereka, tiap hari saya selalu was-was, tak punya uang, harus menunggui kiriman bulanan anak-anak!

Tidak! Saya tidak boleh dalam kondisi demikian! Saya harus punya uang pensiunan sendiri. Agar kelak ketika lansia, saya bisa mandiri. Bebas merdeka beribadah. Tidak ditanggung anak-anak. Tapi bagaimana? Lha wong saya bukan PNS? Warisan tidak punya. Kerja cuma serabutan; kadang jadi pencuci piring, kadang disuruh bantu motret orang.

Hmmm, tiba-tiba teringat, saya punya simpanan wajib yang tak bisa diambil. Simpanan ketika saya bekerja sebagai karyawan dulu. Simpanan yang nyaris terlupakan. Nama simpanannya Central Provident Fund (CPF). Sebagai pemegang status permanent residence Singapura, saat berstatus karyawan; setiap gaji bulanan yang saya terima, pemerintah memotong 20 persen untuk disimpan di akun CPF saya. Perusahaan kemudian menambahi 18 persen lagi. Jadi, dalam sebulan, saya menyimpan 38 persen gaji bulanan saya.

Saat saya buka CPF, isinya tak banyak. Hehe. Mungkin karena saya hanya bertahan kerja selama satu tahun lebih dikit. Tapi jauh lebih besar lah dari duit tunjangan hari tua BPJS yang saya terima selama hampir 10 tahun kerja di Batam. Uang di CPF itu tidak bisa diambil, kecuali saat saya di usia pensiun nanti, atau untuk membeli rumah.

Rumah di Singapura sudah ada. Milik sendiri. Urusan sekolah anak-anak pun sudah tersedia. Meskipun, di Singapura, ada budaya anak-anak kuliah tidak mengandalkan uang orangtua. Lepas politeknik (setingkat SMA/STM), umumnya generasi muda Singapura akan kerja sambil kuliah. Pelan-pelan hingga gelar tertinggi yang mereka inginkan. Giliran uang pensiun yang harus saya pikirkan. Bagaimana ini?

Saya berdiskusi dengan istri. Ia kemudian menyarankan untuk mengisi CPF saya secara mandiri. Tokh mudah, cukup mentop-up lewat HP. Tiap hari, bisa 10 atau 20 dolar! Semampu saya. Okelah, pikir saya. Saya ikuti sarannya. Setidaknya tiap hari menabung sebesar biaya makan yang saya keluarkan dalam sehari jika seandainya saya makan di luar. Tak terasa, dua bulan terakhir hal itu berjalan dengan rutin.

Berat? Ternyata tidak! Tokh semampu saya saja. Apalagi ketika teringat niat untuk bisa “tumukninah” beribadah saat tua kelak, itu malah justru membuat semuanya berjalan ringan. Menyenangkan. Saya berhitung, jika saya bisa rutin tiap hari menabung hingga 20 tahun lagi, 40 tahun ke depan keuangan saya akan baik-baik saja. Berarti, hingga usia 85 tahun, keuangan saya aman-aman saja. Saya bisa terus menjalani hobi motret sambil main bola. Itu jika kaki-kaki ini masih kuat.

Hehehe.

Seperti itulah, negara dan sebagian besar orang Singapura merencanakan pensiun mereka. Tidak peduli PNS atau bukan. Menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilan mereka, untuk ditabung di CPF. Seperti itulah sebagian besar orang Singapura merencanakan hari tua yang damai mereka. Bukan korupsi sebesar-besarnya saat masih menjabat, agar bisa disimpan untuk hari tua. Yang begitu itu, namanya cari sengsara.

Uang curian, disimpan di manapun, pasti akan ketahuan juga.

(*)

Gambar : © moneyweb
Tags: PensiunSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah
Tentang Aku

Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah

April 30, 2023
Dari Gudig hingga Rebutan Cewek
Tentang Aku

Dari Gudig hingga Rebutan Cewek

October 10, 2017
Duh Gusti….
Tentang Aku

Duh Gusti….

June 30, 2017
Next Post
Spesialnya Bahasa Melayu: dalam percakapan sehari-hari di Singapura

Spesialnya Bahasa Melayu: dalam percakapan sehari-hari di Singapura

Di Mana Orang Main Slot di Singapura?: Apa perlu Porkas dilegalkan lagi?

Di Mana Orang Main Slot di Singapura?: Apa perlu Porkas dilegalkan lagi?

Bibi Marie yang Hidup Sendiri

Bibi Marie yang Hidup Sendiri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Sepatu Puma Palsu dan Orang Singapura yang Impulsive Shopper

Sepatu Puma Palsu dan Orang Singapura yang Impulsive Shopper

3 years ago
Kisah Cinta Dua Singa (5)

Kisah Cinta Dua Singa (5)

18 years ago
Orang Singapura yang Tidak Bisa ‘Nyante’

Orang Singapura yang Tidak Bisa ‘Nyante’

1 year ago
Bocah di Beratus Pulau

Bocah di Beratus Pulau

17 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Opini Orang tua Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Berhentilah Mengkritik!

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Trending

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Singapura

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

by Sultan Yohana
March 30, 2026
0

BUS nomor 242 yang membawa saya sore ini (10/2/2026), memasuki kawasan baru. Tengah nama kawasan itu. Sepanjang...

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Dua Karakter Berbeda Orangtua

March 15, 2026
Ekon

Ekon

February 4, 2026
Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana