Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Humaniora

Andai Gus Dur di Samping Saya

Sultan Yohana by Sultan Yohana
January 13, 2010
in Humaniora
0
Andai Gus Dur di Samping Saya

Gusdur. Foto; Agus Wahyudi / JAWA POS

0
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Saya mencintai Gus Dur bukan karena bapak-ibu saya anggota fanatik Nahdlatul Ulama. Atau karena sejak kelas 4 madrasah saya dijejali pelajaran aswaja (ahlusunawaljamaah: ke-NU-an). Saya mencintainya karena penghargaannya yang luar biasa atas keanekaragaman. Bahwa manusia diciptakan tidak hanya berkulit legam seperti pria muda India yang saya saksikan itu, atau si cewek Tionghoa yang kulit mulusnya bak pualam itu. Dengan kerja kerasnya yang tak kenal lelah, Gus Dur mengusahakan keragaman itu menyatu di Indonesia. Sekian lama berjuang, justru saya menyaksikan sebuah praktik keanekaragaman yang begitu harmonis di Singapura. Negeri yang hanya berjarak 22 mil laut dari Batam. Saya yakin jika Gus Dur ada di samping saya ketika menyaksikan lenggang-kangkung sepasang sejoli di Harbour Front MRT tadi, dia akan menangis lirih. Sembari mendongengkan sebuah harapan tentang Indonesia yang benar-benar berbhineka.

Enam tahun wara-wiri di S’pore, terkadang saya bosan menyaksikan kesempurnaan negeri seluas 700-an kilometer persegi itu. Saya bosan menuliskan kesempurnaan di sana lewat rubrik “Rasa Singapura” di koran saya bekerja. Tapi bagaimanapun juga kita harus mengakui, sebuah negara makmur dengan nasionalisme yang begitu menggelora, dibangung di atas keragaman. Di Spore: jika Anda orang India yang berdaya upaya, Anda akan berkesempatan menjadi orang luar biasa. Jika Anda Melayu yang mumpuni, Anda akan tampil memimpin. Jika Anda Tionghoa yang berdedikasi tinggi, Anda akan meraih kesuksesan. Dengan diskriminasi, negara hanya akan terjerumus pada permusuhan tak berkesudahan. Di Batam – Kepri – ini: me-Melayukan pegawai pemerintahan tentu bukan solusi, me-Tionghokan bidang usaha akan sangat berbahaya, membabukan Jawa tentu sangat menyakitkan.

Di Singapura, bibit kebencian etnis sekecil apa pun berusaha dienyahkan pemerintah. Tentara, polisi, pegawai pemerintah adalah siapa Anda yang warga negara Singapura, apa pun etnisnya. Di tempat-tempat umum, penanda ketertiban umum ditulis dengan aneka bahasa: Melayu-Inggris-India-Tionghoa. Iklan-iklan layanan masyarakat berusaha menampilkan dan mengikutsertakan semua lapisan etnis dan agama. Pemerintah selalu merangkul semua etnis rakyatnya dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Ada televisi dan koran khusus Tionghoa, tapi ada juga yang spesial untuk Melayu dan India.

Anda akan mudah menemukan wanita India lengkap dengan busana sarinya dan aneka ragam noda tanda ibadah di wajahnya. Di Bulan Hantu-nya Tionghoa, pemerintah tak akan berani mendenda orang-orang yang membakar aneka rupa barang sesembahan di jalan-jalan yang selalu menciptakan segunung sampah. Para Muslim/ah bebas mengenakan busana tertutup, bebas melaksanakan ibadah salat tanpa takut dianggap menkorupsi waktu. Dari semua itu, maka lahirlah generasi-generasi yang tak mempedulikan etnis dan hanya menghargai kemanusiaan. Keanekaragaman tentu tak bisa diseragamkan, keanekaragaman harus dilestarikan. Sebagaimana si pria India yang berpacaran dengan gadis Tionghoa yang saya temui di Stasion MRT Harbour Front akhir pekan lalu.

Tentu tidak sebiji sejoli itu saja yang kebetulan saya temui yang kemudian mendasari saya menyusunan artikel ini. Di mana-mana saya kerap menyaksikan orang Tionghoa – etnis yang dianggap paling tertutup di antara tiga etnis besar di Singapura – bisa bermesraan bahkan bercinta-cintaan dengan pasangan dari etnis-etnis yang lain. Kedai-kedai yang menjual masakan babi bisa berjualan berdampingan dengan warung masakan Muslim. Menyaksikan seorang Melayu yang menyodorkan uang sekedarnya bagi pengamen Tionghoa. Atau menyaksikan pesta-pesta yang dijejali tawa dan canda aneka bahasa.

Seandainya Gus Dur ada di samping saya. Mungkin dia akan sangat berduka, usahanya yang sedemikian keras untuk menyatukan keanekaragaman (bukan menyeragamkan), justru dengan sempurna bisa dilaksanakan di Singapura.

Sultanyohe@yahoo.com

Foto pinjam JPNN

Saya membayangkan Gus Dur ada di samping saya ketika melihat pemandangan ini: menyaksikan seorang pria muda etnis India yang kulit legamnya naudzubillah sedang jalan mesra dengan seorang gadis Tionghoa bertank-top krem yang sebagaian pundaknya terbuka gila. Kulit putih si gadis itu seperti pualam, mulus tanpa noda. Sesekali, tengan legam si India meraih pinggul si gadis: keduanya kemudian jalan lenggang kangkung bak macan lapar, memamerkan kemesraan, menunjukkan bahwa perbedaan bisa dipersatukan. Di Stasiun MRT Harbour Front akhir pekan lalu, sayangnya saya menyaksikan adegan itu seorang diri. Dengan segala sedih yang hingga kini masih tersisa, saya yakin Gus Dur kini tenang beristirahat di Jombang sana!

Saya mencintai Gus Dur bukan karena bapak-ibu saya anggota fanatik Nahdlatul Ulama. Atau karena sejak kelas 4 madrasah saya dijejali pelajaran aswaja (ahlusunawaljamaah: ke-NU-an). Saya mencintainya karena penghargaannya yang luar biasa atas keanekaragaman. Bahwa manusia diciptakan tidak hanya berkulit legam seperti pria muda India yang saya saksikan itu, atau si cewek Tionghoa yang kulit mulusnya bak pualam itu. Dengan kerja kerasnya yang tak kenal lelah, Gus Dur mengusahakan keragaman itu menyatu di Indonesia. Sekian lama berjuang, justru saya menyaksikan sebuah praktik keanekaragaman yang begitu harmonis di Singapura. Negeri yang hanya berjarak 22 mil laut dari Batam. Saya yakin jika Gus Dur ada di samping saya ketika menyaksikan lenggang-kangkung sepasang sejoli di Harbour Front MRT tadi, dia akan menangis lirih. Sembari mendongengkan sebuah harapan tentang Indonesia yang benar-benar berbhineka.

Enam tahun wara-wiri di S’pore, terkadang saya bosan menyaksikan kesempurnaan negeri seluas 700-an kilometer persegi itu. Saya bosan menuliskan kesempurnaan di sana lewat rubrik “Rasa Singapura” di koran saya bekerja. Tapi bagaimanapun juga kita harus mengakui, sebuah negara makmur dengan nasionalisme yang begitu menggelora, dibangung di atas keragaman. Di Spore: jika Anda orang India yang berdaya upaya, Anda akan berkesempatan menjadi orang luar biasa. Jika Anda Melayu yang mumpuni, Anda akan tampil memimpin. Jika Anda Tionghoa yang berdedikasi tinggi, Anda akan meraih kesuksesan. Dengan diskriminasi, negara hanya akan terjerumus pada permusuhan tak berkesudahan. Di Batam – Kepri – ini: me-Melayukan pegawai pemerintahan tentu bukan solusi, me-Tionghokan bidang usaha akan sangat berbahaya, membabukan Jawa tentu sangat menyakitkan.

Di Singapura, bibit kebencian etnis sekecil apa pun berusaha dienyahkan pemerintah. Tentara, polisi, pegawai pemerintah adalah siapa Anda yang warga negara Singapura, apa pun etnisnya. Di tempat-tempat umum, penanda ketertiban umum ditulis dengan aneka bahasa: Melayu-Inggris-India-Tionghoa. Iklan-iklan layanan masyarakat berusaha menampilkan dan mengikutsertakan semua lapisan etnis dan agama. Pemerintah selalu merangkul semua etnis rakyatnya dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Ada televisi dan koran khusus Tionghoa, tapi ada juga yang spesial untuk Melayu dan India.

Anda akan mudah menemukan wanita India lengkap dengan busana sarinya dan aneka ragam noda tanda ibadah di wajahnya. Di Bulan Hantu-nya Tionghoa, pemerintah tak akan berani mendenda orang-orang yang membakar aneka rupa barang sesembahan di jalan-jalan yang selalu menciptakan segunung sampah. Para Muslim/ah bebas mengenakan busana tertutup, bebas melaksanakan ibadah salat tanpa takut dianggap menkorupsi waktu. Dari semua itu, maka lahirlah generasi-generasi yang tak mempedulikan etnis dan hanya menghargai kemanusiaan. Keanekaragaman tentu tak bisa diseragamkan, keanekaragaman harus dilestarikan. Sebagaimana si pria India yang berpacaran dengan gadis Tionghoa yang saya temui di Stasion MRT Harbour Front akhir pekan lalu.

Tentu tidak sebiji sejoli itu saja yang kebetulan saya temui yang kemudian mendasari saya menyusunan artikel ini. Di mana-mana saya kerap menyaksikan orang Tionghoa – etnis yang dianggap paling tertutup di antara tiga etnis besar di Singapura – bisa bermesraan bahkan bercinta-cintaan dengan pasangan dari etnis-etnis yang lain. Kedai-kedai yang menjual masakan babi bisa berjualan berdampingan dengan warung masakan Muslim. Menyaksikan seorang Melayu yang menyodorkan uang sekedarnya bagi pengamen Tionghoa. Atau menyaksikan pesta-pesta yang dijejali tawa dan canda aneka bahasa.

Seandainya Gus Dur ada di samping saya. Mungkin dia akan sangat berduka, usahanya yang sedemikian keras untuk menyatukan keanekaragaman (bukan menyeragamkan), justru dengan sempurna bisa dilaksanakan di Singapura.

Sultanyohe@yahoo.com

Foto pinjam JPNN

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan
Humaniora

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna
Humaniora

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran
Humaniora

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

December 6, 2025
Next Post
Dilarang Pintar

Dilarang Pintar

Bukit Timah

Bukit Timah

Tapis yang tak Lagi Gratis

Tapis yang tak Lagi Gratis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Seperti Artis, Menggunjing Aris

Seperti Artis, Menggunjing Aris

17 years ago
Begini Kebiasaan Orang Asli Singapura di Eskalator

Begini Kebiasaan Orang Asli Singapura di Eskalator

5 years ago
The Power of Fingers

The Power of Fingers

9 years ago

Orkes Sakit Hati*

20 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Citizen Dollar Efisiensi Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kedai Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Netizen Opini Pendidikan Pengemis rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Warung
No Result
View All Result

Highlights

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

Keteladanan Lee Kuan Yew

Eror “White Balance” Mata!

Trending

Berhentilah Mengkritik!
Indonesiaku

Berhentilah Mengkritik!

by Sultan Yohana
January 25, 2026
0

PEMUDA di samping saya ini, Asyik, 18 tahun, adalah yang termuda di grup sepakbola Minggu kami. Seusia...

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

December 6, 2025
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana