BEBERAPA tahun terakhir ini, kata “Baalawi” atau (Ba’alwie) terdengar kontroversi di lingkungan masyarakat Nahdlatul Ulama. Ini tak lepas dari pendapat sebagian pihak yang meragukan klan Baalawi sebagai keturunan Rasulullah SAW. Sementara sebagian lagi, begitu mengagung-agungkan klan ini, bahkan sampai terjerumus pada kultus.
SAYA pribadi, sebagai orang NU kultur, tidak peduli apakah klan Baalawi punya garis keturunan langsung dengan Nabi SAW. Sepanjang seseorang itu baik, santun, bermoral, welas-asih, tidak menipu; apa pun keturunan dan agamanya, saya akan membalasnya dengan perlakuan serupa.
Tapi, banyak orang NU yang terlalu malas ( dan tentu saja kemudian menjadi bodoh) untuk MAU belajar dari sejarah: bahwa salah satu fungsi kedatangan Islam, justru untuk memerangi penghormatan berlebihan berdasarkan klan, kesukuan, keluarga, pangkat atau kekayaan seseorang. Ketakwaan adalah MATA UANG baru yang disodorkan Islam, sebagai alat ukur baik-buruknya seseorang. Jika kita mau konsisten dengan MATA UANG ini, saya yakin kita tak akan terjerumus pada kontroversi yang menjurus saling benci seputar keturunan Baalawi.
Jika kita mau konsisten dengan MATA UANG ini, saya yakin kita tak akan terjerumus memilih pemimpin-pemimpin “njancuki” seperti yang kini ditunjukkan oleh pemimpin-pemimpin di negeri kita ini saat ini. Jika kita mau konsisten dengan MATA UANG ini, kita pasti tidak akan tertipu dengan penampilan seseorang, dengan sorban, dengan jam tangan mewah, mobil mengkilap, dengan hidung mancung, dengan bacaan fasih Quran, atau dengan koneksi tingkat tinggi seseorang. Jika kita mau konsisten dengan MATA UANG ini, kita pasti akan dengan mudah tahu, siapa yang suka menjual “surga”, siapa yang “berdagang” agama demi kemakmuran dapurnya.
Sialnya, kita memang malas untuk belajar dari sejarah! Dan mereka yang terus menerus menjadi pemalas, tidak akan pernah naik derajat mereka. Terus menerus menjadi bodoh dan terus-menerus mudah ditipu-daya.
Bagi saya, kontroversi Baalawi adalah kebodohan yang cetho welo-welo! Terang-terangan. Memalukan. Terlepas di kubu mana Anda berada.
Okelah tentang kontroversi Baalawi di Indonesia. Selasa (7/4) siang kemarin, saya berkesempatan salat Dhuhur di Masjid Ba’alwie. Mendengar namanya saja, orang Indonesia yang punya laterbelakang NU pasti segera teringat dengan kontroversi di Tanah Air. Tapi saya tidak menemukan kontroversi begitu masuk ke dalam masjid yang terletak di kawasan pemukiman paling elit di Singapura, Bukit Timah, ini. Yang muncul justru masjid yang mirip museum. Begitu banyak benda-benda bersejarah dipamerkan di sana. Dari berbagai daerah. Benda-benda yang itu justru bisa memberitahu kita: Islam itu penuh warna dan kaya tradisi.
Monggo, silahkan dinikmati sebagian foto-foto yang saya jepret. Maaf, kualitas fotonya kurang sip, dijepret dengan HP murah.
(*)






















