Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Humaniora

Antoni (us)

Sultan Yohana by Sultan Yohana
December 14, 2007
in Humaniora
0
Antoni (us)
0
SHARES
21
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

”Ayo… ayo…, aneh tapi nyata. Ada orang Flores yang bisa menjadi putih! Ini pasti bisa masuk koran. Aneh tapi nyata,” tiba-tiba Antoni meneriakkan kalimat ini ketika bertemu saya, Kamis, 14 Desember kemarin di Mitra Mall. Disodorkannya selembar foto ukuran 4R yang sudah lecet kepada saya. “Nih, aneh kan, mana ada orang Flores jadi putih seperti ini,” katanya lagi.

Putih yang dimaksud Antoni adalah gambar bayi mungil yang didekapnya dengan – harus saya akui – perasaan sayang paling ekspresif sedunia yang pernah saya lihat. Kulit bayi lelaki itu memang berbeda 360 derajat dari kulit Antoni. Putih, bersih. Sementara ketika melihat Antoni, saya selalu teringat dengan bek tangguh klub Arsenal, Kolo Toure. ”Dia anakku. Aneh kan, orang Flores bisa punya anak seputih ini,” jawabnya ketika saya tanya siapa bayi berkulit putih yang di foto itu.

Antoni adalah Flores, dan dia sangat bangga mengakui hal itu kepada siapa pun. Dia juga pengecer koran: Seorang pengecer nyentrik yang dengan bantuan megaphone, selalu membacakan kutipan-kutipan dari headline koran dagangannya. Kehadirannya selalu ditunggu sekaligus dimuaki. Tapi kenapa Indonesia perlu seorang Antoni?

Jika Menteri Senior Singapuran Lee Kuan Yeuw mengatakan: dunia (baca Indonesia) tak perlu lagi seorang politikus, dunia perlu seorang pemimpin. Saya bersikeras Indonesia perlu seorang Antoni. Tidak Susilo Bambang Yudhoyono! Tidak Megawati! Tidak Gus Dur! Apalagi Walikota Batam Ahmad Dahlan! Dan bosnya wakil rakyat Batam “Romo” Soeryo Respationo! Atau bahkan si kecil yang selalu gemetaran jika ngomong: Ketua Otorita Batam Mustafa Wijaya. Indonesia, terkhusus Batam, perlu seorang pemimpin seperti Antoni. Seorang yang dengan fair sanggup menertawakan dirinya sendiri (Antoni selalu memposisikan diri sebagai seorang Flores yang katrok, bodoh, dan emosional) sekaligus terbuka dengan apa pun caci maki yang menghinggap dirinya. Seorang yang bersedia melakukan itu agar bisa selalu berakrab-akrab dengan siapa pun. Bercanda dengan siapa pun. Membuat gembira siapa pun. Meskipun mereka tak membeli koran dagangannya.

Tak bisa dipungkiri, Ahmad Dahlan merengkuh kursi walikota Batam karena berjualan “keperkasaan ke-Melayuannya”. Tapi pada akhirnya ketika jadi, nasib kampung-kampung tua Melayu tetap merana seperti sediakala. Bahkan di kampung kelahiran Dahlan sendiri, Batubesar, seorang kenalan pernah mengeluh pada saya. ”Hidup tambah susah. Masak pemerintah membiarkan usaha-usaha kerajinan kecil kita dimatikan orang-orang Korea.” Yang ngomong demikian seorang ibu rumahtangga Batubesar yang punya usaha dagang jual suvenir. Dua tahun terakhir, investor pukimak Korea mengobrak-abrik usaha orang Batubesar. Dengan modal tak seberapa mereka, orang-orang Korea itu memotong jalur rejeki warga Batubesar, dengan cara menggiring para turis ke toko mereka lewat jalur paket travel.

SBY jadi presiden hanya karena menjual ketidakberdayaan. Berimbal belas kasihan. Juga Megawati. Gus Dur yang lumayan oke memerintah, justru dijatuhkan orang-orang bodoh yang enggan kekuasaannya dijadikan bahan komedian Gus Dur. Romo Soeryo? Setali tiga uang, darah Jawanya selalu diumbar-umbar.

Jika Antoni maju mencalonkan diri sebagai walikota Batam 2011 mendatang, mungkin saya dengan senang hati mencabut status golput yang tersandang sejak pemilihan presiden yang memenangkan Gus Dur silam. Saya dengan senang hati akan datang ke tempat pemungutan suara, mencoblos wajah katrok Antoni. Saya tidak peduli Antoni, yang penampilan inteleknya sangat tidak meyakinkan, akan membawa Batam ke dunia dagelan. Saya hanya yakin, butuh seorang pemimpin yang dengan ikhlas mau berakrab-akrab dengan masyarakatnya. Mau menebar tawa. Terlebih, mau membuat bahagia masyarakatnya.

Batam tak butuh apa itu Melayu, Jawa, Flores, Batak, ataupun Tionghoa! Batam juga kagak perlu orang-orang keminter yang suka minteri! Batam (juga dunia) hanya perlu keikhlasan selaiak yang diperlihatkan Antoni (us).

Indonesia perlu seorang Antoni (us). Dia, Antoni, pengecer koran yang setiap hari berkeliling pusat-pusat belanja di daerah Batuaji, Batam. Daerah terkumuh, ter-katrok, juga setiap musim hujan terparah digelontor banjir. Tapi Antoni tidak memperdulikan semua itu. Berbekal megaphone dan seuntai tas hitam untuk menyimpan uang hasil jualan koran, siapa warga Batuaji yang tak kenal Antoni?

”Ayo… ayo…, aneh tapi nyata. Ada orang Flores yang bisa menjadi putih! Ini pasti bisa masuk koran. Aneh tapi nyata,” tiba-tiba Antoni meneriakkan kalimat ini ketika bertemu saya, Kamis, 14 Desember kemarin di Mitra Mall. Disodorkannya selembar foto ukuran 4R yang sudah lecet kepada saya. “Nih, aneh kan, mana ada orang Flores jadi putih seperti ini,” katanya lagi.

Putih yang dimaksud Antoni adalah gambar bayi mungil yang didekapnya dengan – harus saya akui – perasaan sayang paling ekspresif sedunia yang pernah saya lihat. Kulit bayi lelaki itu memang berbeda 360 derajat dari kulit Antoni. Putih, bersih. Sementara ketika melihat Antoni, saya selalu teringat dengan bek tangguh klub Arsenal, Kolo Toure. ”Dia anakku. Aneh kan, orang Flores bisa punya anak seputih ini,” jawabnya ketika saya tanya siapa bayi berkulit putih yang di foto itu.

Antoni adalah Flores, dan dia sangat bangga mengakui hal itu kepada siapa pun. Dia juga pengecer koran: Seorang pengecer nyentrik yang dengan bantuan megaphone, selalu membacakan kutipan-kutipan dari headline koran dagangannya. Kehadirannya selalu ditunggu sekaligus dimuaki. Tapi kenapa Indonesia perlu seorang Antoni?

Jika Menteri Senior Singapuran Lee Kuan Yeuw mengatakan: dunia (baca Indonesia) tak perlu lagi seorang politikus, dunia perlu seorang pemimpin. Saya bersikeras Indonesia perlu seorang Antoni. Tidak Susilo Bambang Yudhoyono! Tidak Megawati! Tidak Gus Dur! Apalagi Walikota Batam Ahmad Dahlan! Dan bosnya wakil rakyat Batam “Romo” Soeryo Respationo! Atau bahkan si kecil yang selalu gemetaran jika ngomong: Ketua Otorita Batam Mustafa Wijaya. Indonesia, terkhusus Batam, perlu seorang pemimpin seperti Antoni. Seorang yang dengan fair sanggup menertawakan dirinya sendiri (Antoni selalu memposisikan diri sebagai seorang Flores yang katrok, bodoh, dan emosional) sekaligus terbuka dengan apa pun caci maki yang menghinggap dirinya. Seorang yang bersedia melakukan itu agar bisa selalu berakrab-akrab dengan siapa pun. Bercanda dengan siapa pun. Membuat gembira siapa pun. Meskipun mereka tak membeli koran dagangannya.

Tak bisa dipungkiri, Ahmad Dahlan merengkuh kursi walikota Batam karena berjualan “keperkasaan ke-Melayuannya”. Tapi pada akhirnya ketika jadi, nasib kampung-kampung tua Melayu tetap merana seperti sediakala. Bahkan di kampung kelahiran Dahlan sendiri, Batubesar, seorang kenalan pernah mengeluh pada saya. ”Hidup tambah susah. Masak pemerintah membiarkan usaha-usaha kerajinan kecil kita dimatikan orang-orang Korea.” Yang ngomong demikian seorang ibu rumahtangga Batubesar yang punya usaha dagang jual suvenir. Dua tahun terakhir, investor pukimak Korea mengobrak-abrik usaha orang Batubesar. Dengan modal tak seberapa mereka, orang-orang Korea itu memotong jalur rejeki warga Batubesar, dengan cara menggiring para turis ke toko mereka lewat jalur paket travel.

SBY jadi presiden hanya karena menjual ketidakberdayaan. Berimbal belas kasihan. Juga Megawati. Gus Dur yang lumayan oke memerintah, justru dijatuhkan orang-orang bodoh yang enggan kekuasaannya dijadikan bahan komedian Gus Dur. Romo Soeryo? Setali tiga uang, darah Jawanya selalu diumbar-umbar.

Jika Antoni maju mencalonkan diri sebagai walikota Batam 2011 mendatang, mungkin saya dengan senang hati mencabut status golput yang tersandang sejak pemilihan presiden yang memenangkan Gus Dur silam. Saya dengan senang hati akan datang ke tempat pemungutan suara, mencoblos wajah katrok Antoni. Saya tidak peduli Antoni, yang penampilan inteleknya sangat tidak meyakinkan, akan membawa Batam ke dunia dagelan. Saya hanya yakin, butuh seorang pemimpin yang dengan ikhlas mau berakrab-akrab dengan masyarakatnya. Mau menebar tawa. Terlebih, mau membuat bahagia masyarakatnya.

Batam tak butuh apa itu Melayu, Jawa, Flores, Batak, ataupun Tionghoa! Batam juga kagak perlu orang-orang keminter yang suka minteri! Batam (juga dunia) hanya perlu keikhlasan selaiak yang diperlihatkan Antoni (us).

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery
Humaniora

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

August 17, 2026
Dua Bapak dengan Balita mereka
Humaniora

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan
Humaniora

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

June 17, 2026
Next Post
Sepasang Buku (Sepasang) Bos

Sepasang Buku (Sepasang) Bos

Sapi Bernama HM. Sani

Sapi Bernama HM. Sani

Kebrutalan Sebuah Flat

Kebrutalan Sebuah Flat

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Kisah Cinta Dua Singa (6)

18 years ago
Kluang, Honda Astrea Boon Siew, dan Konsumtifnya Masyarakat Indonesia

Kluang, Honda Astrea Boon Siew, dan Konsumtifnya Masyarakat Indonesia

12 years ago
Media Sosial dan Jaman Fitnah (bagian II)

Media Sosial dan Jaman Fitnah (bagian II)

10 years ago
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

3 months ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Alas kaki Anak Batam Cara mengajar Catatan Dollar Efisiensi Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Museum Netizen Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Sastra Sepakbola Sepatu jogging Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Sepeda Pancal

Dua Bapak dengan Balita mereka

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Singapura Maju karena Sastra?

Trending

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery
Humaniora

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

by Sultan Yohana
August 17, 2026
0

BEBERAPA pekan lalu, saya datang ke sebuah toko grosir battery di daerah Toa Payoh, Singapura. Ini toko,...

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

July 23, 2026
Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

July 12, 2026
Sepeda Pancal

Sepeda Pancal

July 1, 2026
Dua Bapak dengan Balita mereka

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana