Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Humaniora

Welcome to Our Kampong!

Sultan Yohana by Sultan Yohana
March 29, 2011
in Humaniora
0
0
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BOCAH lelaki itu menggaco kelereng dengan melenceng. Segepok umpan kelereng yang diletakkan pada bulatan depannya, gagal kena oleh gacoannya. Berkali-kali ia mencoba, gagal lagi. Maklum, cara menggaconya saja salah. Kelereng gacoan tidak diletakkan antara ibu jari dan jari telunjuk. Melainkan dikempit oleh jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. Ya pasti tak bisa dikendalikan itu arah kelereng.

Si bocah pertama gagal, beberapa bocah lainnya mencoba. Sebagian besar gagal, hingga akhirnya seorang pria pemandu acara main kelereng itu memberi contoh. Menggaco dengan benar untuk kemudian mengenai segepok umpan di bulatan di tengah arena main. Semua bocah yang gagal bersorak, kegirangan. Acara “Welcome to Our Kampong” yang digelar di tengah publik area di daerah Hougang, sekitar sebulan lalu, kian menggembirakan.

Main kelereng, itu permainan kegemaran saya sewaktu kecil. Di Singapura, permainan seperti ini sudah sangat langka, terbukti dari banyaknya anak yang tak bisa menggaco kelereng dengan benar. Saya dulu tak jago-jago amat, tapi setidaknya tidak pernah membeli kelereng baru karena kerap pulang dengan mengantongi kelereng kemenangan. Di Singapore, portable PlaySation, internet, dan aneka jenis permaian canggih lainnya, telah merampas salah satu permaian tertua di dunia ini. Tapi ketika acara main kelereng “disajikan” dalam sebuah kampanye pemanasan partai berkuasa di Singapura saat ini, People Action Party (PAP), ini baru kisah yang mengasikkan untuk saya sajikan kepada Pembaca.

Welcome to Our Kampong! Selamat Datang di Kampung Kami.

Lahan seluas setengah lapangan bola di tengah-tengah pusat belanja Hougang, sebulan lalu disulap menjadi “kampung”. Ada sederet foto-foto kawasan Hougang mulai dari tahun 1900-an hingga foto terkini, ada arena permainan kelereng, ada pameran alat-alat rumahtangga jadul, ada setrika arang, mesin jahit tangan, hingga lampu minyak templek dan petromax. Saya membayangkan ibu mertua dan nenek mertua saya memakai alat-alat di atas saat mereka masih muda.

Tapi ibu mertua saya, yang kini sudah berusia 60 tahun, bahkan menjahit tangan bajunya yang robek saja tak bisa. Ia mengaku sudah lupa bagaimana memakai jarum jahit, apalagi menyalakan lampu minyak. Kerap kali ketika bajunya robek kecil (ini jarang terjadi), baju itu kemudian berakhir di tong sampah. Meski sudah lansia, dia memang bekerja dan berpenghasilan bagus. Karena itu masalah baju robek sudah tak jadi persoalan lagi baginya.

Dan fenomena seperti yang terjadi pada mertua saya inilah yang kemudian ditangkap PAP untuk sajian kampanye mereka. Sekitar bulan Juni mendatang, Singapura memang akan menggelar pemilihan umum. Acara “Welcome to Our Kampong” seolah menyadarkan pada masyarakat pemilih, keberhasilan PAP – yang memang menguasai pemerintahan sepanjang Singapura merdeka – untuk memakmurkan Singapura. Tak ada janji apa-apa di kampanye ketika itu sebagaimana kampanye pemilukada di Batam atau Kepri beberapa waktu lalu.

Sebagai ganti “janji” PAP, di bagian lain dari lokasi pameran, digelarkan tenda raksasa berpendingin udara yang berisi aneka maket pembangunan Hougang lima tahun ke depan. Di dalam tenda yang bisa dimasuki siapa pun itu, setiap calon pemilih bakal tahu apa yang dilakukan pemerintah ke depannya. Tanpa tebar janji-janji, tanpa orasi omong kosong!

Sibuk melihat-lihat maket dan pameran “jadul”, tiba-tiba sesuatu yang meriah muncul. Dari luar, seorang pria, berpolo-shirt kuning dengan celana kain kecoklatan. Tanpa iring-iringan mobil patroli apalagi para ajudan atau anggota Satpol PP yang biasa melindungi pejabat di sini, pria itu masuk, beramahtamah sebentar lewat sepatah dua pidato, dan ikut berbaur dengan para warga. Memang sih, ia sempat diberi kalungan bunga oleh panitia. Tapi untuk ukuran – istri saya membisikkan dia seorang menteri Singapura dari Partai PAP-, sambutan atau penampilan si pria itu sungguh sangat sederhana.

Tanpa jas, tanpa sepatu kulit mengkilat. Tanpa janji-janji, apalagi omong kosong!

Inilah secuil gambaran kampanye di Singapura. Dalam pandangan politik, rakyat di sana dengan di Batam saya kira hampir sama: cukup melek politik. Yang membedakan adalah isi kepala para politikusnya. Di sini, kata “akan mensejahterahkan rakyat” yang kerap keluar dari mulut politikus saat kampanye, masihlah berupa janji absurd yang tak dimengerti banyak orang. Janji yang kemudian membuat merek abisa berkelit dari rasa berdosa jika enggan menepatinya. Di Singapura, janji “menyejahterahkan rakyat” sudah terwujud dengan jelas dalam sebuah rencana matang pembangunan hingga detil sekecil-kecilnya. Itulah kenapa, setiap politikus di sini berjanji, masyarakat akan menertawainya.

Politikus di sini mungkin tak sadar, mereka seperti badut di mata kita. Lucuuuu banget….

*Diterbitkan di Tabloid Dia edisi 4 Maret 2011

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

“Membeli” Perempuan Vietnam
Humaniora

“Membeli” Perempuan Vietnam

July 9, 2025
Aku Musti Belajar dari Nenek Pengemis itu!
Humaniora

Aku Musti Belajar dari Nenek Pengemis itu!

April 20, 2025
Gadis China yang Tidak pernah Pakai Alas Kaki
Humaniora

Gadis China yang Tidak pernah Pakai Alas Kaki

March 16, 2025
Next Post

$6.6 Billion Bonanza

Rally

Rally

Nessa, TKI yang Penulis Buku*

Nessa, TKI yang Penulis Buku*

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Jangan Sok Kaya di Negeri Kapitalis Sosialis

Jangan Sok Kaya di Negeri Kapitalis Sosialis

10 years ago
Mencintai Pengemis

Mencintai Pengemis

9 years ago
Canon 5D Mark II Istimewa

Canon 5D Mark II Istimewa

4 years ago
The Power of Fingers

The Power of Fingers

8 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Air minum Alas kaki Batam Bule Catatan Cerita Dollar Efisiensi Ekor panjang Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kedai Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid Monyet Mudik Pajak Pedagang Pengemis Perpustakaan Photo Premanisme Profesi rasa singapura Rezeki Rupiah Sejarah Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Tanjungpinang Vietnam Warung
No Result
View All Result

Highlights

Bakul Gedhe dan Bakul Cilik

Perpustakaan dan Pajak Kita

Kita Adalah Orangtua Kandung Premanisme: dan dua buku yang menjelaskan fenomena premanisme

Bolehkan Mencuri Sesuatu yang Mubadzir?

Efisiensi: Ikhtiar bagaimana Singapura menjadi maju

Ketika Sedolar Nilainya Rp13.157

Trending

Tip untuk Guru: Ikhtiar Agar Profesi Guru Tetap Barokah
Kultur

Tip untuk Guru: Ikhtiar Agar Profesi Guru Tetap Barokah

by Sultan Yohana
August 29, 2025
0

JIKA Anda datang dan makan di restoran di Singapura, Anda akan menemukan kotak tip yang biasa diletakkan...

Delapan Karakter Unik Singapura

Delapan Karakter Unik Singapura

August 21, 2025
“Membeli” Perempuan Vietnam

“Membeli” Perempuan Vietnam

July 9, 2025
Bakul Gedhe dan Bakul Cilik

Bakul Gedhe dan Bakul Cilik

June 25, 2025
Perpustakaan dan Pajak Kita

Perpustakaan dan Pajak Kita

June 3, 2025
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana