Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Cerita Foto

Kisah Sebuah Sepeda Pancal

Dan beda perempuan bule dengan Singapura

Sultan Yohana by Sultan Yohana
March 30, 2024
in Cerita Foto
0
Kisah Sebuah Sepeda Pancal
0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SAYA menjepret foto sepeda pancal itu di dekat Stasiun MRT Steven, awal bulan lalu. Stasiun yang kanan-kirinya banyak dihuni masyarakat elit Singapura. Juga bule-bule ekspatriat yang banyak dikontrakkan di sana oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Saya membayangkan, pemilik sepeda itu bule, ibu-ibu muda pastinya, atau perempuan kemanten anyar yang baru saja pindah ke Singapura ikut dinas suaminya. Itu bayangan saya ya!

Atau perempuan Jepang yang langsing, murah senyum, rambut sebahu, dan selalu berpenampilan sopan.

Kenapa perempuan bule (atau Jepang)? Karena itu sepeda transportasi sehari-hari. Warna, merek, dan model sepeda yang dipilih “bule banget”. Simple, warna tidak menyolok, namun berkualitas. Saya lihat di situs merek sepedanya, harga itu sepeda cukup mahal, 1500an dolar Singapura. Ditambah keranjang rotan di belakang, pemiliknya pasti bule bertubuh langsing karena gaya hidup vegetarian, sedikit nyeni, suka pergi ke teater dan baca buku, serta kadang-kadang menghisap ganja (di negeri asalnya). Duh, perempuan idaman saya ketika mahasiswa. Hehe.

Untuk urusan sepeda, perempuan bule (juga lelakinya sebetulnya) dan Jepang di Singapura, mau tak mau, memang berada pada level berbeda. Mereka memakai sepeda pancal untuk transportasi sehari-hari. Untuk mengantar anak sekolah atau les, untuk belanja, bekerja, ke mall, ke salon, dls. Jika Anda pergi ke Orchad Road arah Tanglin Mall, mall yang baru dibeli oleh Sukanto Tanoto seharga $868 juta dolar itu. Anda dengan mudah melihat bule-bule cantik dan muda bersepeda pancal dengan membawa belanjaan, atau nggembol balitanya di sadel belakang. Tanglin Mall adalah mall elit yang mengambil konsumen orang-orang elit yang tinggal di sekitar Orchad dan Bukit Timah, dua kawasan elit Singapura.

Perempuan asli Singapura tidak gemar memakai sepeda sebagai sarana transportasi. Kalaupun bersepeda, paling untuk gaya-gayaan, dan yang dipilih model-model Brompton dan sejenisnya. Mereka, lalu rame-rame mengayuh, dengan kostum bersepeda super ketat, yang pantatnya menyembul menyakiti mata para lelaki. Kalaupun untuk transportasi sehari-hari – dan ini biasnya kaum proletar Singapura – biasanya sepeda yang dipilih “mbuyak byuk” dan warnanya menyolok mata. Ibu-ibu Singapura yang bersepada itu, jika sepedanya mahal, tak akan berani memarkir sepeda mereka seenak udelnya. Jikapun terpaksa, rantai gemboknya pasti semeriah bazaar Ramadan di Geylang Serai.

Hehe.

Sepeda, memang belum menjadi transportasi utama masyarakat Singapura. Pemakainya masih sangat terbatas, meski sarana yang disediakan pemerintah, seperti parkir dan jalan khusus bersepeda, sungguh sangat nyaman. Kebanyakan orang Singapura masih “menganggap”, sepeda untuk transportasi kalangan bawah saja. Untuk orang-orang tua. Untuk anak-anak mereka bermain. Untuk berolahraga.

Walau dianggap negara maju, Singapura memanglah masih belum sepenuhnya bisa melepaskan diri dari kultur-kultur lama khas negara Dunia Ketiga seperti GENGSIAN, doyan pamer STATUS dan KEKAYAAN. Kultur-kultur khas Dunia Ketiga ini, memang tidak serta merta hilang setelah seseorang berpendidikan tinggi, kaya-raya, bahkan bergaul dengan orang-orang kelas “jetset”. Kultur-kultur khas warga Dunia Ketiga ini bisa diperangi hanya dengan banyak membaca buku sastra, nonton film berkualitas, nongkrong dengan siapa saja orang, serta mendengarkan ceramahnya Gus Baha.

Hehe.

Kisah sepeda pancal yang diparkir di Stasiun Steven, bisa panjang di tangan saya. Jangan marah ya, ini semua hanya khayalan belaka saya!
Tags: FotoSepeda pancalSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Kucing-kucing Mudik
Cerita Foto

Kucing-kucing Mudik

April 7, 2025
Hitam-Putih dengan 7D2
Cerita Foto

Hitam-Putih dengan 7D2

February 1, 2025
Cerita Foto

Monyet Ekor Panjang di Sebuah Pojok Singapura

January 30, 2025
Next Post
Dua Poster Sakit Mental

Dua Poster Sakit Mental

Pria dengan Arloji Rp400 juta

Pria dengan Arloji Rp400 juta

Banyak Sama Sistem Pendidikan Singapura-Indonesia

Banyak Sama Sistem Pendidikan Singapura-Indonesia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Kubah Telur Saudagar Timur Tengah

Kubah Telur Saudagar Timur Tengah


10 years ago
Andai Gus Dur di Samping Saya

Andai Gus Dur di Samping Saya

16 years ago
Tulisan yang Lebih Bahaya

Tulisan yang Lebih Bahaya

9 years ago

Behind Blue Eyes

20 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Air minum Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Etnis Fasilitas Foto Gadis China Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Malang Malaysia Mudik Netizen Opini Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rupiah Sastra Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan
No Result
View All Result

Highlights

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Ekon

Berhentilah Mengkritik!

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Trending

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum
Humaniora

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

by Sultan Yohana
May 17, 2026
0

BEBERAPA tahun terakhir ini, kata "Baalawi" atau (Ba'alwie) terdengar kontroversi di lingkungan masyarakat Nahdlatul Ulama. Ini tak...

Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

May 3, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

March 30, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana