Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

Spore: Resep Jitu Stop Merokok

Sultan Yohana by Sultan Yohana
October 2, 2011
in Singapura
0
Spore: Resep Jitu Stop Merokok
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ini pertanyaan yang tak bosan-bosannya saya dengar, dan mungkin juga cukup bosan untuk saya bicarakan di sini. Tapi, selalu saja pertanyaan tentang “merokok” di Singapura selalu mewarnai pembicaraan lawan obrolan ketika tahu saya selalu berakhir pekan di Singapura. “Ndak enak ya di Singapura, ndak bisa bebas merokok?” Itulah kira-kira kalimat yang sering saya dengar.

Enak tidak enak, kan tergantung si perokoknya!

Tapi yang jelas, apa yang dibayangkan kawan-kawan tentang merokok di Singapura – bahkan yang sudah beberapa kali ke sana – tidak seekstrim bayangan mereka. Merokok tetap mengasyikkan, bagi yang menggemarinya. Dan bisa dilakukan di mana-mana. Asal bukan tempat yang berupa sarana publik maupun di dalam gedung-gedung ber-AC, setiap tempat atau gedung, pujasera, biasanya selalu menyediakan tempat bagi perokok. Anda pun bebas merokok sambil lenggang-kangkung jalan-jalan cuci mata. Tempat-tempat seperti halte bus, stadion sepakbola, ataupun gedung sekolah, biasanya ada larangan merokok. Jika Anda berani merokok di dalam bus atau kereta api, siap-siaplah kena denda 1000 dolar Singapura!

Dulu saya perokok berat. Sehari bisa menghabiskan dua bungkus, bahkan lebih. Selain dompet, kantong celana selalu tidak lupa berisi rokok dan koreknya. Tapi, “tidak nyamannya” merokok di Singapura pelan-pelan memberi manfaat pada saya. Kini, saya berhasil mengurangi isapan rokok tiap hari. Bahkan rekor terhebat yang pernah saya torehkan sepanjang saya menjadi perokok aktif adalah tidak merokok sama sekali dalam 22 hari!

Tapi kini merokok lagi, meski tidak sedahsyat dulu.

Saya memanfaatkan waktu selama di Singapura untuk sekuat mungkin tidak menyentuh rokok. Banyaknya tempat-tempat yang tidak diperbolehkan merokok, mendatangkan manfaat tersendiri bagi saya. Ketika sehabis makan di pujasera, dan keinginan merokok datang, sering kali saya enggan beranjak dari tempat duduk hanya karena hendak merokok. Tidak elok betul – juga tidak nikmat – menurut saya, berdiri seorang diri di pinggir jalan raya hanya untuk menghabiskan rokok. Kenikmatan justru tak terasakan.

Saya juga mengharamkan diri merokok di dalam rumah jika ada Ken, anak semata wayang kami yang masih bawah lima tahun. Banyaknya kegiatan yang bisa saya lakukan saat pulang ke Singapura juga membantu saya untuk melupakan rokok. Fasilitas publik yang baik dan kebanyakan gratis, tempat olahraga yang memadai, serta sarana-sarana wisata yang menyenangkan  – saya sering tracking menjelajah hutan – membuat saya untuk sejenak, lupa dengan rokok. Jogging yang menjadi kegemaran saya yang lain, juga bisa untuk sementara melupakan pikiran dari asap-asap rokok.

Saya kerap bertanya-tanya, kenapa saya bisa melupakan rokok ketika di Singapura, sementara begitu kembali ke Batam, di benak ini selalu ada satu keinginan: merokok! Bahkan sesaat ketika tubuh masih keringatan setelah bermain futsal tiap Rabu sore di Ikan Daun, Batamcenter, di sela-sela tenggakan air mineral asap rokok juga tetap harus ada. Apakah karena melihat kawan-kawan lain yang merokok, keinginan ngudut ini kian bertambah berlipat-lipat? Bukankah rokok adalah salah satu “bahasa gaul”, bahasa keakraban? Mungkin juga.

Di Singapura, praktis selain keluarga inti – dan tak jarang rekan penghobi fotografi – saya tak berkomunikasi dengan orang lain. Itu mungkin yang mengurangi dengan drastis rasa kenikmatan merokok. Merokok seorang diri, bagi saya sama sekali tidak enak jika dibandingkan merokok bersama kawan perokok. Apalagi jika disesali cecapan Carlsberg dingin, nikmatnya kian bertambah-tambah.

Saya jadi menduga-duga, jika mungkin saya di Singapura selama tiga bulan penuh, mungkin saya akan berhenti merokok untuk selamanya. Ketika di Singapura, di benak ini tak ada lagi tempat untuk memikirkan merokok karena sejumlah aktifitas mengasyikkan yang bisa saya jalani di sana. Lalu saya berpikir, mungkin pemerintah di Batam bisa membuat banyak sarana publik yang bisa dipakai warganya untuk beraktifitas fisik secara gratis dan nyaman agar masyarakatnya tidak lagi berpikir soal rokok. Tidak perlu menaikkan harga rokok, karena pecandu rokok pun tetap akan berusaha membelinya. Berapa pun mahalnya harga rokok.

Sejak awal tahun 2010, pemerintah Singapura memperketat pemakaian rokok di Singapura. Selain ada larangan membawa rokok masuk ke sana, penikmat rokok di Singapura juga dibuat ketar-ketir dengan adanya razia rokok ilegal. Setiap batang rokok harus ada cap SDPC. Jika tidak, Anda yang terpergok merokok rokok ilegal bakal didenda 200 dolar per batang. Denda yang bisa bikin bangkrut Anda jika di kantong ada sebungkus penuh rokok ilegal.

Sebelumnya, peredaran rokok ilegal di Singapura, terutama rokok asal Indonesia, memang begitu marak. Anda bisa mendapatkan rokok Sampoerna Mild, Gudang Garam, Djarum Super, atau Malboro, di pusat-pusat keramaian seperti Geylang Serai, Little India, dan Bugis. Cara menjualnya biasa sembunyi-sembunyi. Pedagang biasanya menghampiri Anda dan membisiki apakah Anda butuh rokok? Jika iya, mereka kemudian mengeluarkan dagangannya. Harganya pun separuh harga rokok legal.

Jika sebungkus Sampoerna Mild isi 16 batang kita bisa menebusnya dengan harga 11 dolar di toko-toko resmi, di pedagang ilegal kita bisa mendapat harga cuma 5 dolar Singapura. Sekitar Rp35 ribu. Jauh lebih mahal ketimbang di Indonesia, tapi sangat murah ketika dibeli di Singapura. Tapi sejak 2010, pedagang ilegal semacam ini kian sulit ditemukan.

Tapi, jangan khawatir bagi Anda yang menggemari rokok kretek Indonesia. Larangan membawa rokok ke sana tidak mutlak aturannya. Anda tetap bisa membawa rokok apa pun kegemaran Anda, asalkan membayar cukai yang sudah ditentukan. Di pelabuhan atau bandara tempat-tempat pemeriksaan barang bawaan, selalu ada konter bertulis “Custom” yang akan dengan senang hati melayani Anda menerima bayaran cukai rokok yang Anda bawa. Cukainya memang cukup mahal, tapi jangan pernah coba-coba untuk mengelabuhi para petugas itu untuk bisa meloloskan sejumlah rokok yang Anda bawa, atau sekedar menyogok sejumlah uang ketika Anda ketahuan membawa rokok di luar jumlah ketentuan.

Saya teringat, ketika suatu kali memberanikan diri membawa satu slop rokok kretek oleh-oleh untuk adik lelaki saya. Harga satu slop rokok kretek yang saya beli di Batamcenter ketika itu sekitar Rp150 ribu. Ketika tertangkap tangan petugas Custom Singapura dan diminta membayar cukai, saya diwajibkan membayar cukai sebesar 68 dolar! Saya hitung-hitung, kok lebih mahal cukainya daripada harga rokoknya. Lalu, meluncurlah kata pada petugas Custom, “Sudah deh Pak, untuk Anda saja semua rokoknya. Nanti saya bisa beli lagi!”

Jawaban yang Petugas Custom – kebetulan Melayu – keluarkan cukup mencengangkan. Dengan tegas ia mengatakan, “Mau bayar cukai 68 dolar atau denda 500 dolar (untuk pelanggaran saya membawa rokok)!” Saya pun akhirnya memilih alternatif pertama!

Tinggal di Spore, mungkin menjadi resep jitu untuk berhenti merokok! Setidaknya bagi saya.

Diterbitkan di DIA, Minggu, 2 Oktober 2011.
Foto “nikmatnya merokok” oleh saya. Model Mbah Satiman.

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Singapura Maju karena Sastra?
Singapura

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik
Singapura

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Next Post

Siapa Bilang Spore Asyik?

Wajah Anda Penjilat atau Tukang Telat?

Wajah Anda Penjilat atau Tukang Telat?

Intelektual Publik

Intelektual Publik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Girang, Sukacita & Riang. Dan Awas Politikus “Lubang Jambang”!

Girang, Sukacita & Riang. Dan Awas Politikus “Lubang Jambang”!

3 years ago

Remember Me

21 years ago
Tapis yang tak Lagi Gratis

Tapis yang tak Lagi Gratis

16 years ago
Tujuh Hari Pertama, Aku Menyerah

Tujuh Hari Pertama, Aku Menyerah

21 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Air minum Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Museum Netizen Opini Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sastra Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Singapura Maju karena Sastra?

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Ekon

Trending

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan
Humaniora

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

by Sultan Yohana
June 17, 2026
0

JUDUL di atas adalah salah satu sari dari pengalaman saya yang gemar jogging, setidaknya dalam 14 tahun...

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

May 3, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana