Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Artikel

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Rahasia menu itu-itu saja, serta tampilan yang sederhana

Sultan Yohana by Sultan Yohana
May 3, 2026
in Artikel
0
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter


PULANG main bola, Minggu (22/3/2026) siang, perut lapar sekali. Saya WA istri apakah mau makan siang bersama di luar? Ia meminta ketemu di Thomson Plaza. Ia kembali WA saya, “Heavenly Wang atau Bistro Box?” dia memberi dua pilihan tempat makan yang akan kami nikmati. Saya memilih yang pertama.

Saya sampai duluan di Thomson Plaza. Di Heavenly Wang, hampir semua kursi terisi. Saya kudu menunggu beberapa saat sampai ada meja kosong. Padahal, hari belum terlalu siang. Saat lewat tadi, kedai Ya Kun Kaya yang berada di mall serupa saya lihat juga penuh.

Heavenly Wang (1953), bersama Ya Kun Kaya Toast (1944), Fun Toast (1941), Killiney (1919); dalam seabad terakhir adalah penguasa perkedai-kopian di Singapura. Bahkan, Killiney, tahun ini telah berusia 107 tahun. Di mana-mana keramaian di seantero Singapura, entah itu mall atau pusat kegiatan warga, di sana pasti ada salah satu di antara empat kedai itu. Beberapa di antaranya, bahkan, telah berstatus “perusahaan terbuka”, yang sahamnya bisa dijual-belikan oleh siapa saja orang. Bahkan beberapa di antaranya, telah membuka waralaba hingga ke negara tetangga.

Apa rahasia keempat kedai kopi ini tetap eksis hingga puluhan, bahkan ratusan tahun? Padahal menu-menu yang mereka tawarkan tak pernah berubah sejak didirikan. Menu-menu tradisional andalan mereka, seperti roti kaya, telur setengah matang, laksa, nasi lemak, kopi teh dan turunannya; hingga kini masih menjadi andalan mereka. Mereka tidak “tergoda” untuk mengubah menu-menu yang lebih mutakhir, lebih up-to date. Meski begitu banyak usaha serupa muncul dengan menawarkan berbagai macam model dan varian yang menggugah selera.

Saya pribadi, ketimbang ngopi di kedai-kedai macam Starbuck dan sebangsanya, saya lebih memilih nongkrong ngopi di kedai-kedai jadul ini. Harga mungkin bukan pertimbangan utama, mengingat berapa sih makanan/minuman yang bisa saya habiskan dalam sekali nongkrong? Ndak banyak, dan lagipula harga tak terlalu berbeda. Pertimbangan utama justru pada faktor kenyamanan makanan. Ya, menjalani hidup di Singapura selama hampir 15 tahun, telah membuat kopi pekat saring, roti isi srikaya, telur setengah matang yang dicucuri light soya souce dan merica, roti pandan, nasi lemak, otak-otak; semua ini telah menjadi “comfort food” di lidah saya. Menjadi pilihan pertama saat ngopi nongkrong.

Bagi orang Singapura sendiri, kedai-kedai kopi seolah menjadi IDENTITAS serta bagian dari KULTUR hidup yang kudu dilestarikan. Kedai-kedai itu, tak hanya menjadi tempat nongkrong orang-orang tua atau yang sudah berumur seperti saya. Lebih dari itu, generasi-generasi berikutnya, yang muda-muda, bahkan anak-anak, seperti tertular kebiasaan orangtua mereka, untuk ngopi dan mengudap makanan di sana. Ini yang memberi dugaan saya, kenapa kedai-kedai ini bertahan begitu lama, bahkan bisnis mereka berkembang dengan baik. Di tengah begitu banyaknya kabar begitu banyaknya resotaran-restoran tutup di Singapura, kedai-kedai ini seolah “kebal” dari berbagai persoalan ekonomi yang melanda.

Selain menu yang tetap itu-itu saja, tampilan kedai-kedai tersebut juga terasa lebih “humble”. Ini mungkin “resep rahasia” berikutnya yang membuat mereka tetap eksis. Kios-kios mungil, meja-kursi sederhana, yang seringkali kudu berdesak-desakan dengan meja lainnya, layanan self service, karyawan-karyawannya yang akrab, pembayaran yang masih bisa memakai uang tunai (banyak kedai di Singapura tidak lagi menerima cash), adalah hal-hal sederhana yang masih dipertahankan hingga sekarang. Bagi saya pribadi, suasana “humble” ini, menghilangkan rasa canggung setiap kali ngopi di sana. Tidak ada sekat-sekat, seolah-olah yang ngopi di sana, semuanya setara. Orang kaya, orang miskin, orang penting, orang rembes sekalipun, dilayani sama. Tidak ada layanan “reserve table”, yang datang belakangan, ya kudu antri. Mau nongkrong seharian hanya dengan secangkir kopi pun, tak dipersoalkan.

Makanan yang itu-itu saja, serta tampilan sederhana yang ditawarkan kedai-kedai yang telah bertahan lama ini, seolah menjadi “anti-tesis” dari doktrin ekonomi mutakhir yang menyebut, “anda harus terus berkreasi dan tampil beda agar konsumen tidak meninggalkan Anda”. Bagi saya, sukses keempat kedai ini karena mereka telah berhasil “menyentuh” sifat paling dasar dari manusia: yakni keengganan manusia untuk berubah, serta kesukaan selalu berada di zona nyaman.

Bisnis yang bisa bertahan lama, memang harus membuat nyaman semua orang. Bukan hanya sekedar berburu keuntungan semata.

(*)

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

No Content Available
Next Post
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba'alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Kejamnya dengan Uang

Kejamnya dengan Uang

9 years ago
Ketika Sedolar Nilainya Rp13.157

Ketika Sedolar Nilainya Rp13.157

1 year ago
Mikroskop di Pameran Lukisan

Mikroskop di Pameran Lukisan

2 years ago
Perempuan, Wanita, dan Perempuan

Perempuan, Wanita, dan Perempuan

21 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

ASN Batam Cara mengajar Catatan Citizen Dollar Efisiensi Fasilitas Foto Gibran Guru Humaniora Indonesia Jatim Koran Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Manajemen Netizen Olahraga Pajak Pedagang Pembaca lansia Pendidikan Pengemis Perpustakaan PNS Premanisme Profesi rasa singapura Rotan Rupiah Secondary school Sepakbola Sepeda Sepeda pancal Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand Tradisional Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Jalan Kaki itu Membahagiakan

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental: dan tetangga kampung saya yang selalu dibulli

Dilarang Ngutangi Kawan Kantor!: aturan PNS Singapura

Sepeda Pancal

Dua Bapak dengan Balita mereka

Trending

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan
Kultur

Langsing dengan Tiga Cara Nyante: murah, tanpa ribet, tanpa siksaan

by Sultan Yohana
September 19, 2026
0

SAYA ndak mudeng, di mana susahnya menjaga tubuh tetap langsing? Sepengalaman saya cukup mudah. Juga tidak butuh...

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya

September 7, 2026
Pembaca Lansia

Pembaca Lansia

September 3, 2026
Jalan Kaki itu Membahagiakan

Jalan Kaki itu Membahagiakan

August 23, 2026
Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

Manajemen Tua Vs Muda: di dua toko grosir battery

August 17, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana