Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Singapura

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Direncanakan hingga 100 tahun ke depan

Sultan Yohana by Sultan Yohana
March 30, 2026
in Singapura
1
Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BUS nomor 242 yang membawa saya sore ini (10/2/2026), memasuki kawasan baru. Tengah nama kawasan itu. Sepanjang mata memandang, flat-flat baru, mencakari langit, telah atau sedang dibangun. Jalur kereta MRT sedang dikerjakan. Google menyebut, proyek pemukiman baru ini, berjumlah 42 ribu.

Tengah, dulunya kawasan perkebunan tua yang telah diambilalih pemerintah. Sinyal HP saja, di sini agak lemah, karena lokasi ya yang agak terpencil.

Begitu turun dari bus, saya melewati sederet flat kinyis-kinyis untuk menuju alamat penjual lensa yang sedang menunggu. Ini kawasan benar-benar masih baru. Playground baru. Jalan setapak baru. Bahkan beberapa tong sampah, plastiknya belum dilepas. Tapi yang menarik, nyaris sepanjang mata melihat, flat-flat sudah terisi penuh. Itu bisa dilihat dari jendela-jendela rumah yang telah berserakan gantungan jamuran. Atau anak-anak yang main di playground. Pasangan-pasangan muda mendominasi. Kawan saya, sepasang suami istri muda, tinggal di sini, setelah menunggu flatnya selesai dibangun sekitar 2 tahun.

Padahal Tengah, bisa dibilang “dusun”-nya Singapura.

Kenapa begitu cepat sebuah kawasan baru di Singapura terisi penuh? Yang berarti rumah-rumahnya terjual dengan mudah. Tidak menjadi proyek “ghost town” atau “kota hantu” sebagaimana proyek-proyek serupa di Johor, China, bahkan Batam yang kini banyak perumahan baru minim penghuni. Padahal rumah di sini tak murah. Sebuah flat empat kamar bisa dijual seharga Rp7 miliar.

Jawabannya mudah. Karena perumahan dibangun berdasarkan permintaan. Bukan dibangun dulu, baru dipasarkan. Flat-flat ini, yang diperuntukkan untuk warga negara mereka, juga, mudah dan murah mendapatkannya. Sepanjang seorang WN Singapura BELUM punya rumah, mau bekerja, menyisihkan sebagian uangnya sebagai dana pensiun (CPF), sudah menikah (atau minimal 35 tahun jika lajang): mereka bisa mengajukan diri untuk kepemilikan rumah. Angsuran tiap bulannya? ITU bahkan lebih murah ketimbang angsuran membeli mobil Avanza di Indonesia.

Orang-orang tak kaya di Singapura, memang mendapat prioritas utama, dan diurus negara. Bukan sebaiknya.

Tidak ada “kota hantu” di Singapura. Setiap perumahan yang baru, dengan segera terisi penuh. Di manapun dibangun. Itu karena sebelum membangun, mereka sudah memikirkan semuanya hingga 100 tahun ke depan. Bukan merencanakan pembangunan setiap punya presiden baru.

(*)

Tags: BatamCatatanSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Singapura Maju karena Sastra?
Singapura

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik
Singapura

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Next Post
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

"Etalase Publik": yang lahir dari transportasi publik

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

Comments 1

  1. Pingback: Tidak Ada "Kota Hantu" di Singapura - GoWest.ID

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

“Seteguk Air Dingin”: dari budaya baik bule di Singapura

“Seteguk Air Dingin”: dari budaya baik bule di Singapura

1 year ago
Harmoni Babi Hutan dan Prata India

Harmoni Babi Hutan dan Prata India

12 years ago
Bakul Gedhe dan Bakul Cilik

Bakul Gedhe dan Bakul Cilik

11 months ago
Foto yang (pernah) Ditolak

Foto yang (pernah) Ditolak

17 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Air minum Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Etnis Fasilitas Foto Gadis China Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Malang Malaysia Mudik Netizen Opini Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rupiah Sastra Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan
No Result
View All Result

Highlights

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Ekon

Berhentilah Mengkritik!

Trending

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

by Sultan Yohana
May 27, 2026
0

SETIAP hari di blok kami, di Ang Mo Kio Avenue 4, seorang kurir paket online, dengan ratusan...

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

May 3, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana