Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Publik Jurnalisme

Banyak Sama Sistem Pendidikan Singapura-Indonesia

Yang Beda Hasilnya

Sultan Yohana by Sultan Yohana
June 1, 2024
in Jurnalisme
1
Banyak Sama Sistem Pendidikan Singapura-Indonesia
0
SHARES
16
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter


SEJAK tahun lalu, ketika kelas lima sekolah dasar, anak bungsu saya, Zak, terpilih menjadi anggota prefect. Di Indonesia, itu seperti OSIS. Namun cara pemilihannya berbeda. Jika anggota OSIS terpilih karena aktif di kegiatan sekolah, serta berprestasi baik; calon anggota prefect justru dipilih lewat usulan guru. Nama siswa yang diusulkan bukan yang terpandai atau teraktif. Melainkan siswa yang dianggap paling disukai kawan-kawannya, bisa mengayomi, serta paling bisa mengemban tanggungjawab. Zak, memang memenuhi kriteria itu.

Yang menarik adalah tugas anggota prefect. Tugas utama yang wajib dilakukan anggota prefect adalah datang ke sekolah lebih awal. Begitu sampai di sekolah, mereka akan mengasisteni murid-murid baru. Menjadi guide murid baru. Memberi bantuan apa saja pada murid-murid kelas 1.

Tugas lain, yang paling berat, kata anak saya, adalah “memaksa” murid-murid kelas apa saja untuk segera menyelesaikan makanan mereka di kantin, begitu waktu istirahat selesai. Ini yang biasa menimbulkan friksi, karena banyak kawan-kawan sekolahnya yang “mbalelo”. Tapi, demi tugas dan tanggungjawab, semua itu harus dilakukan oleh anggota prefect.

“Apakah kalian juga ngurusi kegiatan upacara?” tanya saya pada Zak. Semula ia sedikit bingung dengan “upacara”. Tapi setelah dijelaskan ibunya, dan mengerti, ia kemudian mengangguk. Tapi, upacara di sekolah di Singapura tidak digelar tiap minggu. Setahun sekali saja. Sistem di Singapura, di mana saja, memang enggan dengan acara-acara seremonial. Mubadzir waktu dan keuangan.

Sebetulnya, sistem sekolah di Indonesia dan Singapura itu tidak jauh berbeda. Nyaris plek sama. Saya menganggap sistem Singapura betul-betul ketinggalan jaman, jika dibandingkan dengan perkembangan warganya sendiri. Dengan infrastruktur, kemampuan guru, tingkat ekonomi masyarakat Singapura, kesiapan serta tingkat kecerdasan murid; sistem pendidikan Singapura seharusnya sudah bisa mengadopsi sistem pendidikan negara-negara yang sudah lama maju seperti Denmark, Swedia, Jerman, atau Amerika. Tapi, Singapura tidak melakukannya. Singapura masih suka dengan sistem tatap-muka di kelas dengan guru yang mengambil peran paling dominan. Guru-guru Singapura masih suka memberi seabrek PR pada murid-murid mereka, bahkan ketika liburan sekolah. Murid-murid Singapura masih pakai seragam serupa. Guru harus dihormati dan menempati hiraraki sangat tinggi, hingga menciptakan keenganan bagi murid untuk akrab dengan mereka, dls.

Lalu apa yang beda antara sistem Pendidikan Indonesia dan Singapura? Hingga membuat Singapura menempati peringkat 20 sebagai negara terbaik dalam urusan pendidikan?

Sebagimana gambaran pembukaan awal cerita anak saya yang anggota OSIS Singapura; tanggungjawab, kejujuran, dan peran aktif orangtua adalah hal-hal terbesar yang paling saya rasakan sebagai orangtua dua anak (satu di politeknik, satu kelas 6 SD) yang bersekolah di Singapura. Jujur dalam hal apa pun, termasuk mengerjakan tugas-tugas sekolah di rumah. Juga kerjasama sangat aktif antara guru dan orangtua pada setiap perkembangan dan kegiatan anak-anak mereka.

Selama 50 tahun terakhir, sistem pendidikan Singapura juga tidak banyak mengalami perubahan. Perubahan jelas ada, namun sekedar perbaikan sini-sana, atau penyesuaian semata. Bukan mengubah secara radikal sebagaimana ketika ada pergantian menteri pendidikan di Indonesia. Di jaman saya SMA misalnya, saya sempat mengalami sistem 5 hari sekolah, untuk kemudian kembali lagi ke enam hari. Siswa di Singapura, di mata pemerintah mereka, bukan obyek uji-coba.

Di Singapura, guru-guru juga WAJIB mengenal murid-murid mereka dengan baik, dan mendiskusikan setiap persoalan dengan orangtua murid. Saya kerap dikirimi SMS oleh guru, soal kegiatan anak-anak saya atau ketika ia punya masalah. Sesi “parent meeting” yang cukup personal, adalah salah satu cara guru dan orangtua menemukan solusi dari masalah yang dihadapi setiap murid. Guru-guru sangat sibuk mengurusi murid-muridnya, bahkan harus mengurusi muridnya ketika tidak sedang proses belajar-mengajar. Membayangkan kesibukan para guru di Singapura, saya yakin mereka tak akan bisa nyambi kerja sampingan. Hehe.

Tidak banyak yang berbeda, sebetulnya, antara sistem pendidikan di Singapura dan di Indonesia. Jadi, dari situ bisa ditarik kesimpulan, sebetulnya tidak ada masalah di sistem pendidikan kita. Yang jadi persoalan, mungkin pelaku-pelakunya. Dari menteri hingga para guru, semua punya persoalan masing-masing. Persoalan yang membuat lupa tugas utama mereka: mendidik siswa.

(*)

Foto : Ilustrasi, © Sultan Yohana

Tags: CatatanIndonesiaPendidikanSingapura
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Bagaimana Jika Rejekimu Datang Setahun Sekali?
Jurnalisme

Bagaimana Jika Rejekimu Datang Setahun Sekali?

February 10, 2025
Intelektual Publik
Catatan Publik

Intelektual Publik

October 20, 2011
Next Post
Masjid Khadijah, di Geylang

Masjid Khadijah, di Geylang

Kisah dalam Sepiring Char Kway Teow: dan perbedaan melangit antara dolar dan ringgit

Kisah dalam Sepiring Char Kway Teow: dan perbedaan melangit antara dolar dan ringgit

“Ketika Pulang dengan Sepatu Bersih”

"Ketika Pulang dengan Sepatu Bersih"

Comments 1

  1. Pingback: Banyak Sama Sistem Pendidikan Singapura-Indonesia - BatamBuzz

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Bocah di Beratus Pulau

Bocah di Beratus Pulau

17 years ago

Si Penjual Bintang

20 years ago
Dilarang Pintar

Dilarang Pintar

16 years ago
Ken, Atawa Kisah Cinta Dua Singa

Ken, Atawa Kisah Cinta Dua Singa

18 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Abdul Gofur Ac Air minum Alas kaki Batam Bebas kendaraan Bule Catatan Citizen Dollar Efisiensi Etnis Fasilitas Foto Gadis China Gibran Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kedai Kucing Kurs Lee Kwan yeo Malang Malaysia Masjid Mudik Netizen Opini Pendidikan Pengemis rasa singapura Rupiah Secondary school Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Thailand
No Result
View All Result

Highlights

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Pagi yang Nyaris Sempurna

KH Bisri, Rais Aam yang Mengajar Bocah Baca Quran

Sepakbola Sederhana!

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

Keteladanan Lee Kuan Yew

Trending

Ekon
Singapura

Ekon

by Sultan Yohana
February 4, 2026
1

"Ekon". Begitulah orang Singapura melafalkan akronim air conditioning. Pendiri sekaligus perdana menteri paling ikonik Singapura, Lee Kuan...

Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

January 25, 2026
Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

January 5, 2026
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

December 26, 2025
Pagi yang Nyaris Sempurna

Pagi yang Nyaris Sempurna

December 21, 2025
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana