Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Humaniora

Pagi yang Nyaris Sempurna

Justru ketika tak ingin apa-apa

Sultan Yohana by Sultan Yohana
December 21, 2025
in Humaniora
1
Pagi yang Nyaris Sempurna
0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter


DI sebuah dusun di Chiang Dao, Thailand Utara, saya menemukan pagi yang nyaris sempurna. Di lereng gunung Doi Chiang Dao, 7 Desember itu, pagi berupa langit yang redup oleh selimut kabut, lolong anjing yang bersahutan dengan kokok ayam, serta kikkrik.. jangkrik malam yang sepertinya terlambat membunyikan suara. Sesekali nyaring suara lonceng kuil di ujung jauh sana, terdengar hingga pondokan sederhana yang kami sewa. Saya memang punya kebiasaan bangun pagi, dan sambal menunggu air mendidih dari termos, saya ingin hanya duduk mematung di bangku kayu teras pondok. Memandangi kabut serta merekam semua suara yang sampai ke gendang telinga saya.

Tidak ada HP. Tidak ada suara kendaraan bermotor. Tidak ada teriakan emak-emak memaksa bangun anak-anaknya. Tidak ada suara batuk-batuk mengguk orangtua. Tidak ada musik. Hal-hal yang biasa saya dengar di rumah susun kami di Singapura.

Lama sekali saya duduk mematung, dan melamun. Tak tergerak untuk melakukan apa-apa. Ini sungguh “ajaib” bagi saya. Di luar kebiasaan. Asap yang keluar dari mulut dan hidung setiap kali bernafas, melemparkan saya pada pagi-pagi sempurna saat saya masih bocah, puluhan tahun silam. Di Singosari, Malang. Ketika itu, saya biasa akan berebut dengan Irma, kakak perempuan saya, untuk siapa yang duluan memakai kamar mandi. Dengan air sedingin es, kami mandi dengan buru-buru. Untuk kemudian ganti seragam sekolah, dan duduk di depan tungku kayu bakar pawon untuk menghangatkan tubuh sembari menyesap kopi yang dibuat nenek dari mug besar berbahan kaleng, yang dari sana, semua anggota keluarga meminumnya lewat lepek secara bergiliran.

Kopi panas memang satu-satunya sarapan keluarga kami ketika itu. Tidak ada roti lapis, tidak ada nasi goreng, tidak ada Indomie rebus. Lalu, dengan bergegas, kami akan jalan kaki sejauh kurang lebih dua kilo, untuk sampai di sekolah. Dengan riang, sambil memainkan asap yang keluar dari mulut dan hidung kami.

Tapi Singosari kini tak sedingin dulu. Bahkan Batu, kota di atas Singosari yang dulu udara dinginnya sanggup membekukan sendi, warganya kini sudah mulai berlomba-lomba memasang mesin pendingin udara di rumah mereka. Hal yang tidak akan Anda temui 30 tahun silam.

Perubahan iklim memang nyata! Kerusakan alam nyata. Dan itu semua itu karena gaya hidup HEDON kita. Satu-satunya solusi memerangi perubahan itu, ya, menyederhanakan apa saja hidup kita.

Kembali ke dusun di Chiang Dao. Dusun yang harus kami tempuh dengan perjalanan kereta api selama 10 jam dari Bangkok, disambung kemudian dengan bus selama dua jam, serta diakhiri dengan menumpang opelet kuning yang disopiri perempuan tua untuk sampai di pondokan yang kami sewa. Nyaris tiga jam saya hanya duduk mematung tak melakukan apa-apa. Hanya memandangi kabut dan melamun. Menikmati udara bersih. Menikmati lamunan. Menikmati apa saja ingatan yang muncul di kepala. Kopi yang sudah saya racik, semakin menyempurnakan pagi itu. Saya bahkan nyaris tak ingat untuk memainkan HP, hal yang telah menjadi kebiasaan tiap pagi. Saya tidak ingin tahu ada berita apa pagi itu. Saya tidak ingin tahu apa ada dagangan di marketplace. Saya tidak ingin tahu apa kabar-kabar kawan atau sanak saudara. Pagi itu, saya tidak ingin tahu apa-apa. Saya ingin terbebas dari apa-apa. Dan saya bisa melakukannya, nyaris selama tiga jam lamanya.

Kokok ayam, goggongan anjing semakin berkurang. Tapi kabut tetap ngotot menyelimuti dusun. Perempuan paruh baya, pemilik pondokan muncul, tersenyum, serta mengucapkan “good morning…” Sebentar kemudian ia datang ke pondokan kami, membawa sarapan terbaik yang pernah saya makan, setidaknya dalam lima tahun terakhir: sebakul nasi, lalapan aneka sayur dan sambal ala Thailand, tomyam jamur, ayam goreng, aneka irisan buah, serta semangkuk kecil puding alpukat dan cincau.

Pagi itu terasa nyaris sempurna. Justru ketika saya TAK INGIN APA-APA. Hanya duduk mematung, menikmati apa saja yang DATANG ke saya.

(*)

Tags: BatamSingapuraThailand
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Dua Bapak dengan Balita mereka
Humaniora

Dua Bapak dengan Balita mereka

June 21, 2026
Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan
Humaniora

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

June 17, 2026
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum
Humaniora

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Next Post
Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Bebas Merdeka tanpa Kendaraan

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Etnis Singapura, dan Masalah Mereka

Berhentilah Mengkritik!

Berhentilah Mengkritik!

Comments 1

  1. Pingback: “Pagi yang Nyaris Sempurna” – GoWest.ID

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Jangan Sok Kaya di Negeri Kapitalis Sosialis

Jangan Sok Kaya di Negeri Kapitalis Sosialis

10 years ago
Tentang Nafkah Halal

Tentang Nafkah Halal

11 years ago
Keluarga “Sampah”

Keluarga “Sampah”

19 years ago
Kucing-kucing Mudik

Kucing-kucing Mudik

1 year ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Air minum Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Fasilitas Foto Gadis China Guru Humaniora Indonesia Jatim Johor Kucing Kurs Malang Malaysia Masjid ba'alwi Mudik Museum Netizen Opini Orang tua Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme rasa singapura Rupiah Sastra Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan Vietnam
No Result
View All Result

Highlights

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Singapura Maju karena Sastra?

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Trending

Dua Bapak dengan Balita mereka
Humaniora

Dua Bapak dengan Balita mereka

by Sultan Yohana
June 21, 2026
0

UDARA Da Nang, Vietnam, Jumat (5/6/2026) siang kemarin begitu teriknya. 34 derajat celcius. Perut kami sedikit keroncongan,...

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

Jangan Pakai Sepatu Lari: untuk jalan-jalan

June 17, 2026
Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

May 27, 2026
Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana