Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Tentang Aku

Hari “Sunat” Nasional

Sultan Yohana by Sultan Yohana
November 30, 2007
in Tentang Aku
0
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sialnya saya kalah. 18 finalis lomba penulisan itu, yang sedari 22 November diboyong ke Jakarta untuk presentasi tulisan masing-masing, hanya enam pemenang yang dipilih. Dan saya bukan salah satu dari enam itu.

Ketika puncak acara sekaligus penyerahan hadiah di auditorium II studio TVRI itu, saya hanya duduk tepekur di bangku penonton. Memandang nanar wajah-wajah sumringah rekan-rekan yang menang. Bubrah semua rencana yang telah saya susun sejak keberangkatan saya ke Jakarta. Saya tidak kecewa kalah. Saya kecewa karena rencana saya bubrah.

Soal sunat menyunat tadi, ini cerita dari seorang rekan guru di Batam. Saya juga guru (bahasa Indonesia di SMP Nurul Jadid, Bengkong). Juga wartawan. Tapi ketika dia hendak bercerita, dengan amat sangat rekan saya minta saya memposisikan diri sebagai guru. Sebagai sesama pengajar. “Tolong, jangan tulis di koranmu! Bisa-bisa sekolahku nggak dapat lagi bantuan dari Dinas (Pendidikan).” Dan saya, mengangguk menyetujuinya.

Beberapa waktu lalu di tahun 2007, sekolah tempat kawan saya mengajar, di Piayu, kebagian jatah bantuan Dinas Pendidikan Pusat. ”Besarnya lumayan. Kalau nggak salah sekitar seratus juta,” kata kawanku seraya menambahkan, “tapi itu di kuitansi.”

Diterima sekolah? “Ah tahu sendirilah! Angka-angka kuitansi sudah disiapkan dengan seksama. Berapa besarnya. Diperuntukkan untuk apa saja. Pokoknya rapi betul. Tapi ya itu, kami dibisiki sapa petugas Dinasnya, sepertiga dipotong ya!!!” begitu kira-kira jawaban rekan saya.

Kenapa harus saya kasih tanda seru tiga biji di akhir jawaban rekan saya? Ya, nada bicara si petugas – seperti ditirukan rekan saya – memang seolah sukarela minta keikhlasan dipotong. Tapi jika maca-macam, bisa-bisa dibuat sukar! He-he-he.

Sayang saya kalah. Kalau tidak, mungkin wajah saya akan nongol di televisi. Minta perhatian Pak Menteri Bambang untuk menegur anakbuahnya di Batam. Itu kalau disiarkan. Tapi saya yakin 100 persen. Seandainya saya menang, dan tetap berkoar, pasti bagian dari gambar saya dipotong orang-orang TVRI. Dan yang bisa menjadi saksi koaran saya cuma Pak Menteri dan 100-an guru teladan yang diundang dalam acara Hari Guru Nasional itu. pasti mereka kemudian bilang, “Ah, sunaat-menyunat itu mah…, sudah biasa Bos! Kayak kagak tau aja!”

Tapi tak apalah. Ini toh hanya sekedar asal cerita. Cerita menyambut Hari Guru Nasional 25 November lalu. Saya hanya berharap, semoga 25 November di tahun-tahun mendatang, tidak diperingati sebagai Hari “Sunat (menyunat)” Nasional. Semoga.

Andai saja saya menang dalam lomba penulisan feature tentang guru itu. Lomba gawean Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Departemen Pendidikan Nasional. Andai saja saya yang maju ke panggungnya TVRI, 24 November lalu, untuk menerima hadiah dan bersalaman dengan Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo. Andai saja saya diberi kesempatan beromong kosong, sepatah dua patah. Satu yang ingin saya sampaikan, “Pak Menteri, tolong dong anakbuah bapak di Dinas Pendidikan Batam jangan suka nyunat bantuan sekolah!”

Sialnya saya kalah. 18 finalis lomba penulisan itu, yang sedari 22 November diboyong ke Jakarta untuk presentasi tulisan masing-masing, hanya enam pemenang yang dipilih. Dan saya bukan salah satu dari enam itu.

Ketika puncak acara sekaligus penyerahan hadiah di auditorium II studio TVRI itu, saya hanya duduk tepekur di bangku penonton. Memandang nanar wajah-wajah sumringah rekan-rekan yang menang. Bubrah semua rencana yang telah saya susun sejak keberangkatan saya ke Jakarta. Saya tidak kecewa kalah. Saya kecewa karena rencana saya bubrah.

Soal sunat menyunat tadi, ini cerita dari seorang rekan guru di Batam. Saya juga guru (bahasa Indonesia di SMP Nurul Jadid, Bengkong). Juga wartawan. Tapi ketika dia hendak bercerita, dengan amat sangat rekan saya minta saya memposisikan diri sebagai guru. Sebagai sesama pengajar. “Tolong, jangan tulis di koranmu! Bisa-bisa sekolahku nggak dapat lagi bantuan dari Dinas (Pendidikan).” Dan saya, mengangguk menyetujuinya.

Beberapa waktu lalu di tahun 2007, sekolah tempat kawan saya mengajar, di Piayu, kebagian jatah bantuan Dinas Pendidikan Pusat. ”Besarnya lumayan. Kalau nggak salah sekitar seratus juta,” kata kawanku seraya menambahkan, “tapi itu di kuitansi.”

Diterima sekolah? “Ah tahu sendirilah! Angka-angka kuitansi sudah disiapkan dengan seksama. Berapa besarnya. Diperuntukkan untuk apa saja. Pokoknya rapi betul. Tapi ya itu, kami dibisiki sapa petugas Dinasnya, sepertiga dipotong ya!!!” begitu kira-kira jawaban rekan saya.

Kenapa harus saya kasih tanda seru tiga biji di akhir jawaban rekan saya? Ya, nada bicara si petugas – seperti ditirukan rekan saya – memang seolah sukarela minta keikhlasan dipotong. Tapi jika maca-macam, bisa-bisa dibuat sukar! He-he-he.

Sayang saya kalah. Kalau tidak, mungkin wajah saya akan nongol di televisi. Minta perhatian Pak Menteri Bambang untuk menegur anakbuahnya di Batam. Itu kalau disiarkan. Tapi saya yakin 100 persen. Seandainya saya menang, dan tetap berkoar, pasti bagian dari gambar saya dipotong orang-orang TVRI. Dan yang bisa menjadi saksi koaran saya cuma Pak Menteri dan 100-an guru teladan yang diundang dalam acara Hari Guru Nasional itu. pasti mereka kemudian bilang, “Ah, sunaat-menyunat itu mah…, sudah biasa Bos! Kayak kagak tau aja!”

Tapi tak apalah. Ini toh hanya sekedar asal cerita. Cerita menyambut Hari Guru Nasional 25 November lalu. Saya hanya berharap, semoga 25 November di tahun-tahun mendatang, tidak diperingati sebagai Hari “Sunat (menyunat)” Nasional. Semoga.

Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Merencanakan Pensiun
Tentang Aku

Merencanakan Pensiun

November 1, 2023
Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah
Tentang Aku

Gigi Ompong dan Penyesalan yang Berhikmah

April 30, 2023
Dari Gudig hingga Rebutan Cewek
Tentang Aku

Dari Gudig hingga Rebutan Cewek

October 10, 2017
Next Post

Madam Dog

Sepasang Cinta

Sepasang Cinta

Aku, Saya, Kami, Gw, Ape Loo…

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Mikroskop di Pameran Lukisan

Mikroskop di Pameran Lukisan

2 years ago
Susahnya Punya Mobil di Singapura

Susahnya Punya Mobil di Singapura

13 years ago
Secondary School di Singapura

Secondary School di Singapura

9 months ago
Di Bulungan, Hasan Bersajak

Di Bulungan, Hasan Bersajak

19 years ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Air minum Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Etnis Fasilitas Foto Gadis China Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Malang Malaysia Mudik Netizen Opini Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rupiah Sastra Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan
No Result
View All Result

Highlights

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Ekon

Berhentilah Mengkritik!

Trending

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

by Sultan Yohana
May 27, 2026
0

SETIAP hari di blok kami, di Ang Mo Kio Avenue 4, seorang kurir paket online, dengan ratusan...

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

May 3, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana