Sultan Yohana
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
No Result
View All Result
Sultan Yohana
No Result
View All Result
Home Catatan Lepas Kultur

Tip untuk Guru: Ikhtiar Agar Profesi Guru Tetap Barokah

Sultan Yohana by Sultan Yohana
August 29, 2025
in Kultur
1
Tip untuk Guru: Ikhtiar Agar Profesi Guru Tetap Barokah
0
SHARES
4
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter


JIKA Anda datang dan makan di restoran di Singapura, Anda akan menemukan kotak tip yang biasa diletakkan di depan kasir. Pelanggan bisa menyisihkan uang kecil (uang besar juga ndak apa-apa), sebagai tip. Uang terimakasih.


UANG yang terkumpul, biasanya akan dibagi ke karyawan, atau untuk keperluan mendesak dan besarnya seringkali sangat membantu keuangan si karyawan, yang memang digaji tak seberapa.

Bagaimana kalau kita memberi tip untuk guru?

Di negara yang pemerintahnya yang cenderung menjadi beban bagi rakyat seperti Indonesia, ikhtiar dan kreatifitas masyarakat kudu dikedepankan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita telah melihat bagaimana kreatifitas luar biasa masyarakat Indonesia untuk bisa bertahan hidup. Profesi-profesi sederhana seperti tukang tambal ban, pedagang cilok, tukang ngarit rumput, calo KTP, jasa daftarkan Facebook Pro, buzzer, pak ogah, anggota ormas, dls; adalah bukti bagaimana kreatifitas itu dilahirkan dari situasi negara yang amburadul. Di Singapura, saya tak menemukan profesi-profesi ini.

Kita harus mengapresiasi ikhtiar-ikhtiar itu. Terlepas dari pro-kontra beberapa profesi yang dianggap meresahkan, tokh harusnya kita menyadari: semua itu karena negara telah gagal menyediakan pekerjaan yang cukup. Rakyat pun kemudian berikhtiar sendiri.

Kembali ke urusan tip untuk guru. Saya tidak bisa menilai gaji seorang itu kecil atau besar, karena tiap orang punya kebutuhan berbeda. Punya nafsu berbeda. Gaya hidup berbeda. Punya kegemaran belanja berbeda. Apakah gaji guru di Indonesia sesuai dengan kebutuhan mereka? Bisa iya, bisa juga tidak. Sepengalaman saya, banyak teman dekat yang berprofesi sebagai guru, baik-baik saja hidup mereka. Bahkan cenderung melebihi kecukupan dari umumnya masyarakat Indonesia.

Tapi saya juga tak bisa menutup mata, banyak kawan-kawan guru saya yang digaji jauh dari cukup. Saya sendiri, beberapa dekade silam, pernah menjadi guru. Gaji yang saya terima sebagai guru MTS milik salah satu orang terkaya di Batam sebesar Rp600 ribu/bulan. Sementara gaji saya sebagai wartawan ketika itu sudah Rp2.5 juta. Seorang kawan saya, DI JAMAN INI, bahkan mengaku bergaji Rp250 ribu per bulan, dan terpaksa kudu mengajar banyak sekolah untuk bisa memenuhi kebutuhannya. Mengerikan.

Lalu apa ikhtiar kita sebagai masyarakat kecil untuk mengatasi keadaan ini? Nah itu tadi, bagaimana kalau kita memberi tip pada guru-guru yang kita anggap gaji mereka jauh dari memadai? Sebagaimana ketika kita memberi tip seusai makan di restoran, atau meninggalkan duit “terimakasih” selesai kita nginap di satu hotel.

Tip untuk guru mungkin tak perlu diberikan kepada guru yang mengajar anak-anak kita. Karena itu bisa menimbulkan persoalan. Bisa menimbulkan KONFLIK KEPENTINGAN. Guru juga bisa jadi tuman, dan selalu berharap dikasih tip oleh orangtua murid. Sebagaimana pegawai-pegawai kelurahan sekarang yang enggan “bergerak” kalau belum disisipi duit.

Kita bisa memberi tip pada guru yang notabene tetangga kita, pada guru yang kenalan kita. Tip bisa berupa apa saja. Sekilo gula atau sebungkus rokok jika sang guru senang merokok. Beberapa lembar uang juga tidak masalah. Pemberian-pemberian seperti ini, saya yakin sangat berarti bagi mereka. Pemberian yang juga bisa diterjemahkan sebagai “barokah” menjadi guru, yang kemudian mampu membangkitkan rasa iklas mengajar, dan Insyallah, akan menjauhkan banyak keburukan.

Hasil pengajaran guru yang mengajar secara ikhlas, saya PERCAYA, akan jauh lebih baik ketimbang hasil mengajar guru lulusan Singapura! Hehe.

Jika kita dengan mudah ngamplopi kyai, nyawer penyanyi dangdut; kenapa kita tidak bisa melakukan hal serupa pada tetangga kita guru yang belum sejahtera? Seharusnya itu mudah.

(*)

Tags: CatatanGuruProfesi
Sultan Yohana

Sultan Yohana

Related Posts

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal
Kultur

Ketika Banyak Restoran “Terpaksa” Jadi Halal

November 21, 2025
Eror “White Balance” Mata!
Kultur

Eror “White Balance” Mata!

October 22, 2025
Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean
Kultur

Masjid Abdul Gafoor Singapura: Dibangun oleh pedagang India dan sais kuda dari Bawean

February 23, 2025
Next Post
Rotan Pemukul Bocah

Rotan Pemukul Bocah

Sepasang Orangtua dan Pembantunya

Sepasang Orangtua dan Pembantunya

Secondary School di Singapura

Secondary School di Singapura

Comments 1

  1. Pingback: Tip untuk Guru: Ikhtiar Agar Profesi Guru Tetap Barokah – GoWest.ID

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me

Rekomendasi

Pria India dan Sarapan Prata-nya

Pria India dan Sarapan Prata-nya

3 years ago
“Ketika Pulang dengan Sepatu Bersih”

“Ketika Pulang dengan Sepatu Bersih”

2 years ago
Efisiensi: Ikhtiar bagaimana Singapura menjadi maju

Efisiensi: Ikhtiar bagaimana Singapura menjadi maju

1 year ago
Gadis China yang Tidak pernah Pakai Alas Kaki

Gadis China yang Tidak pernah Pakai Alas Kaki

1 year ago

Instagram

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Kategori

  • Artikel
  • Batam
  • Bolaisme
  • Catatan Bola
  • Catatan Lepas
  • Catatan Publik
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek
  • Humaniora
  • Indonesiaku
  • Jurnalisme
  • Kultur
  • Ngalor Ngidul
  • Politisasi
  • Review
  • Sastra
  • Singapura
  • Tentang Aku
  • Video

Topics

Ac Air minum Alas kaki Anak Batam Bule Catatan Dollar Efisiensi Ekon Etalase publik Etnis Fasilitas Foto Gadis China Humaniora Indonesia Jalan kaki Jatim Johor Kebiasaan Kucing Kurs Malang Malaysia Mudik Netizen Opini Pajak Pedagang Pendidikan Pengemis Perpustakaan Premanisme Profesi rasa singapura Rupiah Sastra Sejarah Sepakbola Sepeda Singapore Singapura Taipei Taiwan
No Result
View All Result

Highlights

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura

Dua Karakter Berbeda Orangtua

Ekon

Berhentilah Mengkritik!

Trending

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu
Singapura

Rasa Aman di Singapura Kini: Seperti di kampungku dulu

by Sultan Yohana
May 27, 2026
0

SETIAP hari di blok kami, di Ang Mo Kio Avenue 4, seorang kurir paket online, dengan ratusan...

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

Masjid Ba’alwie Singapura: Masjid yang mirip museum

May 17, 2026
Singapura Maju karena Sastra?

Singapura Maju karena Sastra?

May 10, 2026
Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

Kedai-kedai Kopi Singapura yang Bertahan Lama

May 3, 2026
“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

“Etalase Publik”: yang lahir dari transportasi publik

April 24, 2026
Sultan Yohana

© 2023 Sultan Yohana

Kunjungi Juga

  • Tentang Saya
  • Privacy Policy
  • Kontak

Ikuti Saya

No Result
View All Result
  • Catatan Lepas
  • Catatan Bola
  • Cerita Foto
  • Cerita Sangat Pendek

© 2023 Sultan Yohana